Mencemburui Pramugari

Mencemburui Pramugari
Ilustrasi: KBA/Decky Risakotta.

TIA Khairunisa dan puluhan pramugari dari berbagai maskapai penerbangan yang mendarat dan terbang dari Bandara Sultan Iskandar Muda adalah orang-orang yang beruntung. Perhatian Bupati Aceh Besar, Mawardy Ali, kepada mereka sangat besar.

Mungkin karena mereka, memang, cantik-cantik. Wajar saja jika Mawardy mengagumi mereka. Dan keputusan yang dia buat untuk menjaga harkat mereka sebagai perempuan muslim juga benar; dengan mengeluarkan peraturan yang mewajibkan mereka untuk berjilbab. Pria--sepanjang masih normal--mana sih yang tak suka perempuan cantik? 

Efek jilbaban ini segera dirasakan oleh Tia--mungkin juga teman-teman seprofesinya. Dalam profesi ini, tak jarang mereka menjadi pelampiasan para hidung belang yang kerap “menelanjangi” walau hanya lewat mata. Dan kini, dalam balutan busana yang lebih tertutup, mereka mendapatkan kembali rasa hormat penumpang pria. Sebuah ucapan “assalamualaikum,” di pintu masuk pesawat.

Aturan ini resmi berlaku pada 18 Januari 2018. Mawardy menulis dua poin penting. Poin pertama adalah dasar kebijakan, yakni Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Aceh, Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di Bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam dan Undang-Undang Nomor 11 tentang Pemerintah Aceh.

Pada poin kedua, Mawardy meminta seluruh maskapai yang mendarat di Sultan Iskandar Muda menaati dan bekerja sama serta mendukung penerapan syariat Islam di Aceh. Mawardy juga tak ragu untuk sering-sering datang ke bandara dan melihat langsung pelaksanaan aturan itu. Bahkan dia berjanji akan memberikan jilbab kepada pramugari yang belum mengenakannya. Gratis.

Perhatian ini tentu membuat banyak orang cemburu. Terutama ibu-ibu di perbatasan Aceh Besar dan Banda Aceh. Karena selama ini, urusan penting, yang menjadi dasar layanan publik, malah kerap terabaikan. Urusan itu tak lain adalah sampah rumah tangga. Dari Bupati Mukhlis Basha sampai era Mawardy, urusan ini tak pernah tuntas. 

Saban hari, terutama para pelintas di dekat jembatan Lhong Raya, sepelemparan batu dari Stadion Harapan Bangsa, orang-orang melemparkan sampah ke sisi beronjong jembatan. Asap putih penuh racun menyeruak dari balik tumpukan sampah plastik yang terbakar. Baunya menyengat berbaur dengan berbagai kotoran.

Celakanya, jalan ini dilintasi ratusan, bahkan ribuan orang. Terutama anak sekolah. Generasi muda Aceh yang seharusnya bersih dari polusi malah menghidu dan menghirup berbagai zat kimia yang terbang bersama asap putih. Dalam sejumlah artikel kesehatan disebutkan bahwa asap pada pembakaran sampah plastik mengandung dioxin. Zat ini berpengaruh pada perkembangan sistem reproduksi, sistem kekebalan tubuh, sistem hormon, bahkan dapat menyebabkan kanker.

Ada juga particulate matter, partikel kecil yang mudah terhirup dan menuju paru-paru manusia. Zat ini dapat menyebabkan bronkhitis, asma hingga serangan jantung. Zat lain dari sampah plastik  yang dibakar juga menyebabkan kanker, kerusakan otak, kerusakan hati juga ginjal. Mereka yang selalu menghirup asap beracun ini menjadi mudah lelah.

Penyakit-penyakit ini jelas membuat iri orang tua yang berharap anak-anak mereka tumbuh dan besar menjadi insan-insan saleh yang cerdas, kuat dan berakhlak mulia. Jika terus dicekoki dengan asap, anak-anak yang awalnya sehat, mungkin juga mereka berkeinginan menjadi pilot atau pramugari, tak akan kesampaian. Otak mereka terlalu lemah untuk menghapal ratusan instruksi dalam kabin pesawat. Atau jantung mereka terlalu lemah untuk menahankan turbulensi saat menerbangkan burung besi karena sejak kecil, setiap hari, dua kali sehari--saat pergi dan pulang sekolah dipaksa mengirup racun.

Sekali lagi, sah-sah saja jika Mawardy, Bupati Aceh Besar, itu memberikan perhatian penuh kepada para pramugari. Dari sisi estetika, sampah dan pramugari jelas tak sebanding. Namun sebagai seorang pemimpin, yang seluruh ucapan dan kebijakan yang dikeluarkannya berpengaruh bagi ribuan orang, sudah selayaknya Mawardy mengurusi sampah lebih telaten dan serius. Karena sampah yang dibakar, lebih buruk efeknya ketimbang pramugari tak berjilbab.

Komentar

Loading...