Nasi Gurih Tiga Generasi

Nasi Gurih Tiga Generasi
Nasi gurih ikan sambal di kedai Pak Rasyid | KBA.ONE/Ghandi Mohammad

Di tengah kesibukan melayani pembeli, Maria nimbrung ke meja. Ia mengenalkan diri sebagai generasi ketiga dari bisnis nasi gurih yang telah eksis sejak awal orde baru berkuasa itu.

KBA.ONE, Banda Aceh - Hari masih terang tanah ketika orang-orang mulai mengerubuti rak berwarna jingga itu, Sabtu, 28 Oktober 2017. Matahari belum sepenuhnya terbit. Jalanan juga masih tampak lengang. Namun keramaian sudah terlihat di depan toko seberang Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, itu. Beberapa orang setia mengantre dalam barisan. Sedangkan yang lain duduk manis di meja sembari menyantap hidangan.

Warung Nasi Pak Rasyid, begitulah orang-orang di kota ini mengenalnya. Warung ini terkenal dengan nasi gurihnya. Orang Aceh menyebutnya bu guri. Tampilannya mirip nasi uduk atau nasi lemak Malaysia. Nasi gurih diracik dari beras yang dimasak dengan santan segar. Umumnya memiliki aroma daun jeruk dan daun salam nan semerbak.

Tak hanya rak kaca tempat menjual nasi, dinding warung dan celemek yang dipakai para pekerja juga bernuansa jingga. Di antara para pelayan, seorang pria berjanggut dan berpeci putih hilir mudik antara rak dan kedai, melayani pelanggan. Ia Hafaz, menantu almarhum Rasyid; nama yang ditabalkan menjadi merek usaha tersebut.

“Sebentar ya, itu istri saya,” ujar Hafaz menunjuk ke seorang perempuan berkacamata. Ia Maria Rasyid, putri kedua Rasyid.

Maria dan Hafaz 

Sambil menunggu pemilik warung, KBA.ONE mencoba mencicipi nasi gurih Pak Rasyid. Ada berbagai macam lauk yang tersedia sebagai pendamping nasi. Misalnya, ikan goreng sambal merah yang menggoda. Ada juga si hitam manis nan gurih, dendeng sapi khas Aceh atau gulai ayam, paru goreng, dan menu lainnya. Tinggal pilih sesuai selera dan suasana hati. Harganya bervariasi sesuai dengan lauk. Mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

Nasi gurih pun dihidangkan di meja. Menu yang dipilih adalah Ikan sambal dan dendeng sapi. Taburan bawang goreng, tauco, serundeng, dan kerupuk di atas nasi membuat lidah seolah tak sabar menyantapnya.

Rasa yang pertama muncul saat suapan nasi bercampur ikan sambal adalah gurih bercampur pedas dan manis di akhir. Porsi nasi memang tak terlalu banyak, tapi setiap suapannya seolah tak ingin cepat dilewatkan. Perlahan, namun nikmat.

Suapan berikutnya bercampur dendeng; potongan daging sapi yang diiris tipis dengan balutan rempah dan dikeringkan itu. Rasa manis lebih mendominasi untuk lauk yang satu ini, diikuti rasa pedas dari jahe dan rempah lainnya.

Mungkin cita rasa khas inilah yang membuat pelanggan rela mengantre lama, demi seporsi nasi. Eko misalnya, prajurit TNI yang berasal dari Jawa yang ditugaskan di Banda Aceh ini mengaku ketagihan akan nasi gurih tersebut. “Bahkan satu porsi rasanya nggak cukup karena nikmatnya luar biasa. Favorit saya di sini adalah nasi gurih dengan lauk rendang,” ujar Eko.

Warung Nasi Pak Rasyid sendiri mulai buka usai salat Subuh hingga pukul 11.00 WIB. Terkadang, mereka harus tutup lebih awal, karena dagangan habis diserbu pembeli. Apalagi jika di akhir pekan, pembeli harus bersabar untuk menikmati nasi gurih yang melegenda ini.

Tak hanya nasi gurih, warung tersebut juga menyediakan nasi putih dan nasi kuning. Uniknya lagi, nasi-nasi ini dibungkus dengan daun pisang, bukan plastik.

Di tengah kesibukan melayani pembeli, Maria nimbrung ke meja. Ia mengenalkan diri sebagai generasi ketiga dari bisnis nasi gurih yang telah eksis sejak awal orde baru berkuasa itu.

Bisnis itu dirintis sang kakek pada 1968. Kemudian dilanjutkan oleh almarhum Rasyid, sejak 1973. Pada 2004, ketika Rasyid meninggal dunia, usaha keluarga itu dilanjutkan oleh Maria dan dibantu adiknya. Saudara-saudara Maria yang lain meninggal dunia saat bencana tsunami menerpa Aceh.

“Dulu kita pindah-pindah jualannya, pernah di Sinar Pagi, Kampung Baru. Lalu jaman Bapak, kita pindah di Siang Malam, di Jalan Diponegoro sana,” ujar Maria. “Enam bulan sebelum tsunami kita pindah di tempat ini, di Jalan Tengku Chik Pante Kulu, Kampung Baru. Alhamdulillah, sampai sekarang.”

Kini, Warung Nasi Pak Rasyid telah memiliki tiga cabang di Banda Aceh. Ada di Tower Coffee, SYR Coffee, dan Stop Coffee. Selain itu, nasi tersebut juga dititipkan di beberapa tempat, seperti Blackjack Coffee, dan Dalil Coffee.

Saban hari, sekitar 250 porsi nasi yang terjual. Jumlah ini setara dengan 45 bambu beras. Menurut Maria, selain cita rasa mereka mengandalkan pelayanan yang cepat. Hal ini, kata dia, demi menjaga kesetiaan para pelanggan selama puluhan tahun.

Komentar

Loading...