Menelusur Bekas Langkah Gempa di Banda Aceh

Menelusur Bekas Langkah Gempa di Banda Aceh
Ilustrasi | Istimewa

Selain rentan terhadap penguatan goncangan tanah (amplifikasi), ternyata kota Banda Aceh juga diapit dua patahan Sumatera yang masih aktif, yaitu patahan segmen Aceh dan segmen Seulimuem.

KBA.ONE, Banda Aceh – Usai tsunami menggempur Aceh sekuat tenaga 14 tahun lampau, Kota Banda Aceh kembali bangkit dan menggeliat. Pertumbuhan penduduknya malah bertambah cepat, pembangunan gedung-gedung baru bak jamur tumbuh di musim hujan.

Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh adalah magnet kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota ini, juga kota Islam paling tua di Asia Tenggara karena Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh. Secara geografis, Banda Aceh berada di ujung barat pulau Sumatera, diapit Selat Malaka dan Samudera Hindia.

Muksin Umar, seorang peneliti Tsunami Disaster Mitigation Research Canter (TDRMC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), bercerita bahwa Aceh sudah “bawaan lahir” sebagai daerah rawan gempa. ”Gempa Aceh tidak bisa dicegah apalagi dihilangkan. Paling kita bisa minimalisir dengan mempelajari dan memprediksi gejalanya,” kata  Muksin Umar.

Berbagi cerita gempa pada konferensi pers Rabu 2 Januari 2019, di Aula Kantor Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Muksin Umar mengingatkan bahwa Aceh selalu dalam kondisi rawan gempa sehingga masyarakat harus selalu mempersiapkan dan mawas  diri. “Dari zaman dahulu Aceh ini sudah sering terjadi gempa dan ini sudah sunatullah,” katanya.

Mengapa Banda Aceh rentan gempa dan tsunami? Secara tatanan tektonik dan kondisi geologi, kota Banda Aceh duduk di atas cekungan yang berumur holosen (10.000 tahun). Ini masih  sangat muda jika takarannya umur geologi.

Para geologis menyebutkan di Banda Aceh ada cekungan bernama Krueng Aceh. Cekungan ini membentang dari Kawasan Aceh Besar hingga ke kota Banda Aceh. Cekungan Krueng Aceh yang berumur muda ini terbentuk dari endapan alluvial yang terdiri dari kerikil, pasir, lanau, dan lempung. Endapan ini tergolong  tidak terlalu padat, melainkan lunak. Tapi, kelunakan inilah yang menyebabkan terjadinya penguatan goncangan tanah (amplifikasi) gelombang gempa bumi.

Pakar Kebencanaan dan Peneliti di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala Muksin Umar mempresentasikan tentang potensi gempa Aceh.  Muksin Umar menyebutkan Provinsi Aceh memiliki lima sesar (patahan) aktif yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan gempa bumi dalam skala besar dan kecil. ANTARA/Irwansyah Putra.

Selain rentan terhadap penguatan goncangan tanah (amplifikasi), ternyata kota Banda Aceh juga diapit 2 patahan Sumatera yang masih aktif, yaitu patahan segmen Aceh dan segmen Seulimuem. Patahan segmen Aceh dan Seulimuem merupakan bagian dari patahan Sumatera dari Teluk Semangko di Lampung hingga ke Provinsi Aceh.

Dari Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie, patahan Sumatera terpecah menjadi 2 segmen, satu segmen menerus sampai ke Indrapuri – Mata Ie – Pulau Breuh – Pulau Nasi. Segmen ini dinamakan segmen Aceh. Segmen satu lagi menerus ke Seulimuem – Krueng Raya – Sabang, dan dinamakan segmen Seulimuem

Dalam buku Ito  (2012) dan Sieh & Natawidjaja, (2000) menyebutkan segmen Aceh sudah 170 tahun tidak menghasilkan gempa bumi dan berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan magnitudo Mw 7. Segmen Seulimuem sendiri, menurut Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, mampu menghasilkan gempa dengan magnitudo Mw 7.

Tapi, Muksin Umar memprediksi gempa bumi dikategorikan berat jika  potensi kehilangan korban jiwanya besar dan banyak. “Yang berpotensi terjadi seperti itu adalah sepanjang segmen Aceh dan sesar Seulimum karena wilayah ini dekat dengan penduduk,” katanya.

Hanya saja, Muksin Umar belum bisa memprediksi berapa kali di tahun 2019 ini bakal terjadi gempa meski pada 2018 sesar segmen Aceh  sangat aktif dan diperkirakan akan terus menerus aktif. “Kemungkinan besar ini akan terus bergerak,” kata Muksin Umar.

Melihat potensi gempa bumi yang mampu dihasilkan oleh kedua segmen tersebut, Ibnu Rusydy, Peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah dan dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik Usyiah, mencoba membuat model gempa bumi dari segmen Aceh dan Seulimuem. Ia juga memprediksi kerusakan bangunan yang akan terjadi di kota Banda Aceh dan jumlah korban luka-luka jika gempa terjadi. 

Masjid runtuh akibat gempa di Pidie Jaya. Foto: Ant/Irwansyah Putra.

Untuk memprediksi itu, Ibnu Rusydy melakukan pendataan jenis bangunan, jumlah lantai, peruntukan bangunan, kondisi geologi tanah dan air di Kota Banda Aceh, dan membuat model gempa bumi. Ini dilakukan karena tingkat kerusakan bangunan sangat dipengaruhi jenis konstruksi bangunan, jumlah lantai, kondisi geologi tempat bangunan berdiri, goncangan tanah akibat gempa bumi, dan pengaruh liquifaksi.

Dari hasil permodelan berdasarkan beberapa faktor di atas, didapatkan bahwa:

•             Apabila gempa bumi dengan magnitudo Mw 7 bersumber dari segmen Aceh, maka diperkirakan masing-masing bangunan di kota Banda Aceh akan mengalami kerusakan antara 40 – 80%.

•             Apabila gempa magnitude Mw 7 bersumber dari segment Seulimuem, maka masing-masing bangunan akan mengalami kerusakan antara 20 – 60%.

Skenario Gempa Terjadi Pada Malam Hari

Apabila gempa bumi bersumber dari segmen Aceh atau Seulimuem terjadi pada malam hari, maka korban yang paling banyak terdapat kawasan-kawasan permukiman. Kecamatan Kuta Alam merupakan Kecamatan yang paling rentan. Ini dikarenakan banyak dan padatnya penduduk di kecamatan tersebut. Kecamatan Syiah Kuala berada pada posisi kedua, Kecamatan Baiturrahman berada pada posisi ketiga apabila gempa bumi berasal dari patahan Sumatera segmen Aceh.

Apabila gempanya bersumber dari segment Seulimuem, Kecamatan Ulee Kareng berada pada posisi ketiga.

“Hasil dari penelitian ini merupakan perkiraan dengan kondisi terburuk dan semoga saja kita selalu siap ketika gempa bumi terjadi dan mampu meminimalisir korban jiwa,” kata Ibnu Rusdy.

Rekomendasi Para Peneliti

Dari hasil penelitian tersebut, para peneliti merekomendasikan beberapa masukan, melihat kondisi Kota Banda Aceh yang rawan terhadap gempa bumi dari patahan Sumatra segmen Aceh dan Seulimuem

•             Setiap pembangunan gedung, perumahan, dan jembatan harus mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, bisa merujuk ke SNI 1726-2012.

•             Studi bawah permukaan terkait kondisi tanah (metode seismik, geolistrik, N-SPT, CPT, dll) harus dilakukan sebelum sebuah tempat dijadikan kawasan pembangunan.

•             Gempa bumi sering kali memicu bencana ikutan seperti di Palu, sehingga Survei Bathimetri laut di sekitar Banda Aceh dan Aceh besar harus dilakukan untuk melihat ada tidaknya potensi longsor yang bias memicu tsunami akibat longsoran bawah laut.

•             Pendidikan kebencanaan harus terus digalakkan untuk murid sekolah (SD, SMP, SMA) guna memberikan pengetahuan kebencanaan sejak dini.

•             Simulasi (drill) dan sosialisasi pengetahuan kebencanaan harus terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. ***

Komentar

Loading...