Meneruskan Warisan Kerajinan Peci

Meneruskan Warisan Kerajinan Peci
Khairul saat memperlihatkan peci hasil jahitannya. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

KBA.ONE, Aceh Utara – Mengikuti jejak sang kakek Tgk. Masri yang begitu terampil membuat peci bermotif Aceh, seolah menjadi suatu keharusan bagi salah satu keluarga di Desa Keutapang, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.

Khairul Azmi, 33 tahun, pria berparas macho ini sebenarnya berprofesi sebagai seorang ustad yang mengajar di Dayah Budi yang berjarak satu kilometer dari lokasi usahanya. Dia sudah mengajar sejak tahun 2013. Setiap malam ia mengajarkan seratusan santri dengan pelajaran kitab, tauhid, fiqh, tassawuf untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Di sana guru cuma ada 10 orang, jadi mengajarnya setiap hari. Libur Cuma hari Jumat saja,” ujarnya pada KBA.ONE ketika menyambangi lokasi usahanya, Sabtu 26 September 2020.

Ayah dari seorang gadis kecil benama Taqiya, 3 tahun, ini mengaku dirinya mulai diajarkan membuat peci oleh sang ayah, Mawardi, sejak duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD). Bermain dengan kain, jarum dan mesin jahit bukan hal langka lagi baginya.

“Saya sudah lama membuat peci, namun sebelumnya bekerja di toko abang saya. Tapi kalau buka usaha sendiri baru 2013,” ucapnya.

Silsilah pengrajin peci di keluarga Khairul. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

Saat ini, di kios berukuran 3x4 persegi yang dia sewa selama dua tahun terakhir itu, Khairul memiliki empat unit mesin jahit. Salah satunya mesin pusaka, yang menjadi warisan berharga dari sang ayahanda. Sementara tiga mesin lainnya, dia beli sendiri dari hasil penjualan peci yang diberi merk Al-Khairat ke beberapa dayah di Provinsi Aceh.

Uniknya, suami dari Nuraini, 24 tahun, ini memilih untuk menjual pecinya kepada santri dan ustad yang ada di dayah. Dia belum mau untuk membuat stok, dan menjualnya ke pasar atau toko-toko pakaian muslim di sekitar.

“Prinsip saya dari dayah dan kepada dayah. Jadi selalu ada santri yang memesan peci dengan motif yang diinginkan mereka sendiri, kalau ada pesanan baru saya bikin,” tuturnya.

Pemesanan yang dilakukan oleh guru agama dan santri, tidak hanya saat penerimaan murid baru. Bahkan, saat semester akhir selalu ada yang memesan walau perorangan atau perkelas.

Tidak hanya motif khas Aceh, dia juga mampu membuat motif-motif unik yang diinginkan oleh anak-anak hingga remaja milenial. Mulai dari mobil truk, tengkorak hingga tokoh kartun Naruto yang dipadukan dengan beragam warna benang.

“Kita seleksi juga setiap motif yang ingin dipesan, jangan sampai ada lambang-lambang yang melanggar," ujarnya sembari memperlihatkan beberapa contoh motif.

Pemesanan yang dilakukan juga bisa secara online melalui WhatsApp, konsumen cukup mengirimkan motif yang diinginkan, jumlah pesanan dan alamat dayah. Setelah selesai uang akan ditransfer dan barang dikirimkan melalui jasa travel L-300 ke seluruh Aceh.

Harga yang ditawarkan juga sangat ekonomis, mulai dari Rp35 ribu hingga Rp60 ribu saja persatuan. Harga tergantung dari bahan dan kesulitan motif, untuk waktu pengerjaan juga tergantung rumitnya gambar, terkadang menyelesaikan satu peci yang rumit membutuhkan waktu empat hari sedangkan 10 peci polos hanya butuh waktu satu hari.

“Paling jauh penjualan di wilayah barat ke Meulaboh, sementara arah timur pernah ke Langsa. Itu memang sudah langganan, selalu ada saja pesanan minimal 10 pcs,” ungkapnya.

Saat ini, pengusaha muda ini hanya memiliki seorang tenaga kerja yang membantunya menyelesaikan pesanan peci. Pemuda yang membantunya untuk membuat bagian atas peci itu, bekerja paruh waktu karena masih duduk di bangku SMA.

Dia mengaku, dalam sebulan dari usaha peci dia mampu membuat 500 pcs peci dan meraup keuntungan mencapai Rp3 juta rupiah. Dari bisnisnya itu dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli dua unit sepeda motor dan membayar sewa kios Rp2 juta pertahunnya.

Pernah merasa jenuh, biasanya karena kesalahan warna benang yang dipilih saat menjahit, atau ketika mesin jahitnya sedang berulah. Namun dirinya tetap menerapkan pesan kakeknya yang menyatakan, cintailah pekerjaan dan jangan jadikan pekerjaan sebagai mata pencarian.

“Kami menjadikan pekerjaan itu sebagai hobi, kalau kita jenuh ya berarti itu belum menjadi hobi. Makanya saat kita lagi jenuh jangan dipaksa bekerja, kalau kita paksa maka kita akan membunuh hobi sendiri,” ucapnya sembari tersenyum.

Usaha Khairul ini berada di Desa Keutapang, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Kurang lebih 150 meter dari Simpang Peunti, kios milik Khairul dapat dijumpai pada sisi kiri badan jalan.

“Kalau saat ini saya hanya mendapat Rp5 juta setiap bulannya, karena memang saingan sudah bertambah dan masa pandemi seperti ini pemesanan menurun drastis,” keluh Iwan abang Khairul.

Saiful (kiri) saat menggunakan peci songkok yang sempat viral. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

“Kami memang dari keluarga pengrajin peci, jadi itu tetap kami terapkan. Seperti pribahasa Aceh, rimueng han ji boeh kureng, Gadeeng tetap bak gajah, artinya harimau tidak akan membuang belangnya dan gading tetap ada di gajah, ya seperti itulah keluarga kami,” jelasnya.

Sementara, peci dengan warna khas Aceh yang sempat viral beberapa waktu lalu, dirinya mengaku terkejut ketika mengetahui produksi peci tersebut bukan berasal dari tanah rencong, melainkan dari tanah Sunda yaitu Bandung.

“Kemarin saya pesan peci itu dari Bandung, sedikit miris karena ini ciri khas kita tapi malah dikelola oleh orang luar,” ungkap Saiful.

Hal senada yang disampaikan Alfisyahri Jufri, warga Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, seharusnya masyarakat Aceh lebih kreatif dalam menciptakan inovasi di dunia fashion maupun kuliner. Jangan sampai, karakter Aceh dimanfaatkan oleh pedagang luar untuk mencari keuntungan.

Menurutnya, para pedagang dan pengrajin Aceh cukup produktif, namun terkendala menciptakan inovasi baru yang seharusnya bisa mengikuti perubahan zaman ke era milenial seperti saat ini. Tidak banyak lagi remaja yang dijumpai masih mengggunakan peci hitam berbahan beludru saat mengikuti pengajian atau salat di masjid, kebanyakan dari mereka menggunakan peci songkok dengan beragam model dan warna.

“Jangan takut keluar dari zona nyaman, mungkin karena sudah terbiasa menjual atau menjahit model dan warna itu, maka mereka enggan untuk mencoba nuansa yang berbeda. Seharusnya kita bisa lebih berkreasi, agar karya kita bangsa Aceh bisa menembus seluruh kalangan,” tuturnya. ***

Komentar

Loading...