Mengemis di Usia Senja demi Menghidupi Istri

Mengemis di Usia Senja demi Menghidupi Istri
Ramli sedang berlindung di sebuah lapak jualan, di Lhokseumawe. | KBA.ONE; Fazil  

Saat ini istri Ramli terbaring sakit di kampung.

KBA.ONE, Lhokseumawe- Ramli memang tak muda lagi. Usianya genap memasuki kepala enam. Ini artinya dia sudah boleh dibilang sosok orang tua. Apalagi wajah Ramli mulai dipenuhi keriput, ditambah penampilannya yang kuyu. Lengkaplah sosok tua Ramli.

Fisik lelaki 60 tahun ini pun tampak kian melemah. Inilah alasan mengapa dia memilih hidup meminta-minta di perempatan jalan. "Saya tak sanggup lagi bekerja sebagai buruh seperti dulu," kisah Ramli kepada KBA.ONE, Kamis lalu.

Warga Gampong Leubok Mane, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, ini mengaku sudah sejak tiga tahun lalu menggeluti profesi sebagai pengemis demi menafkahi istrinya. Sebelumnya, Ramli bekerja sebagai buruh lepas harian. "Dulu saya mengambil upah bertani," katanya lirih.

Dari hasil adu nasib Ramli sebagai pengemis di kota petrodolar Lhokseumame, ia bisa membawa pulang Rp200 ribu perhari. "Tapi itu gak setiap hari segitu, kadang cuma Rp50 ribu seperti hari ini. Sepi sejak corona," kata Ramli

Lhokseumawe bukan kota domisilinya Ramli. Makanya dia setiap 15 hari sekali pulang ke Gampong Leubok Mane, Lampahan, Aceh Utara, naik angkutan umum.

Ketika ditemui KBA.ONE, Ramli tengah beristirahat di depan Masjid Jamik Lhokseumawe, Gampong Lancang Garam, Kecamatan Banda Sakti. Di tempat ini, di sebuah lapak jualan milik warga, Ramli sering rehat usai mengemis di Simpang Jam Kota Lhokseumawe.

Dia selalu membawa kain sarung dan baju ganti dari rumahnya di kampung. Kemana pun pergi, Ramli membawa bungkusan plastik berisi sepasang pakaian sederhananya itu.

Baginya, menggeluti profesi sebagai pengemis adalah pilihan terakhir. Tidak ada pilihan lain, katanya, apalagi istri Ramli sedang terbaring sakit di kampung.

"Daripada saya mencuri atau menipu orang lain, lebih baik mengemis seperti ini," kata Ramli yang mengaku sudah tiga tahun menjalani profesi sebagai pengemis.

Dari perkawinannya dengan istri, rumah tangga Ramli dikaruniai empat orang anak, dua lelaki dan dua perempuan. Masing-masing mereka sudah berkeluarga dan punya anak (cucu Ramli). Tapi Ramli tidak menjelaskan apakah keempat anaknya tahu dia menjadi pengemis.

"Uang dari hasil itu (mengemis), saya simpan atau kumpulkan sampai bisa untuk membeli emas. Ini untuk jaga-jaga kalau sewaktu-waktu ada keperluan mendesak. Harta lain saya pun tidak punya, maka beginilah cara saya menghadapi kehidupan sekarang," ungkap Ramli.

Selama berada di Lhokseumawe, Ramli biasanya tidur malam di salah satu masjid di kawasan Pusong. Di bulan Ramadan penuh rahmat dan pengampunan ini, Ramli tak lupa shalat dan tadarus.

"Ketika sahur tiba, saya keluar ke pasar mencari makanan seadanya untuk bekal sahur. Apapun kesibukan yang penting ibadah tetap harus kita jaga." Itulah ujung cerita Ramli, yang demi istri dia harus menafikan gengsi dan harga diri. | FAZIL, Kontributor Lhokseumawe.

 

Komentar

Loading...