Mengenang Amarah di Laut Kita

Mengenang Amarah di Laut Kita
Ilustrasi | pixabay

Setelah 16 tahun petaka gempa dan tsunami, Aceh masih melarat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme dipraktikkan di ruang-ruang terbuka.

PAGI INI, dunia menoleh sejarah gempa dan tsunami Aceh. Bencana ganda 16 tahun lalu itu menyisakan lubang besar dalam ingatan sejarah kontemporer manusia. Sekitar 200 ribu lebih syuhada Aceh ditelan gelombang hitam tsunami pada 26 Desember 2004.

Lalu, satu tahun sekali kita mengenang peristiwa itu lewat sebuah upacara. Isak tangispun berjatuhan di kehidupan keluarga yang belum bisa mengubur petaka itu. Kala laut tak bersahabat; rumah-rumah hancur, gedung-gedung jangkung ambruk, mobil-mobil hanyut seperti sampan, mayat-mayat bergelimpangan, dan binatang-binatang mati dalam sekejap.

Tuhan mengirimkan malaikatnya ke daratan Aceh, mengambil nyawa-nyawa terpilih untuk dicatatkan dalam buku besar lauhul mahfuz sebagai syuhada. Isyarat itu datang begitu cepat, tak sempat ditangkap oleh saudara-saudara kita yang kala itu baru terhenyak dari aktivitas pagi harinya.

Gempa bumi dan tsunami Aceh adalah peristiwa mahabesar yang kemudian melepaskan Aceh dari selubung konflik bersenjata. Api pertarungan politik yang bertahun-tahun membara antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan TNI/Polri, seketika padam.

Di balik banjir darah dan air mata, perdamaian Aceh dipertemukan di meja perundingan. Dan akhir dari sisa kobaran perang itu pun termaktub dalam MoU Helsinki. Aceh kemudian hidup berdampingan dalam damai tanpa desingan peluru. Tanpa intrik-intrik politik permusuhan yang sebagian besar berlumuran dusta.

Kini, Aceh menyongsong era pembangunan. Dana puluhan triliun rupiah setiap tahun tumpah di tanah Aceh. Tapi, kesejahteraan belum merata. Aceh masih melarat. Tag line "Aceh Hebat" hanya menyerupa slogan belaka. Karena korupsi, kolusi, dan nepotisme masih menjadi budaya penting dan merajalela di Serambi Mekah.

Korupsi dan kolusi dilakukan di atas meja, di ruang-ruang terbuka tanpa rasa malu. Nepotisme apalagi. Dipraktikkan terang-terangan dalam menempatkan sosok pemimpin di sebuah lembaga. Itulah wajah Aceh kita di masa kini.

Masih banyak pemimpin-pemimpin Aceh menjadi pengepul harta dan bersekutu dengan kenakalan dunia. Bertopeng syariah, berperilaku durjana. Mereka lupa amarah di laut kita 16 tahun lalu. Meski hari ini, setiap 26 Desember dalam almanak, pemimpin-pemimpin Aceh itu beradegan penuh haru dalam mengenang tsunami di setiap seremoni. Ironi!

Komentar

Loading...