Menggugat Tender ala Mafia di ULP dan Distanbun Aceh  

Menggugat Tender ala Mafia di ULP dan Distanbun Aceh  
Kantor Distanbun Aceh diduga jadi sarang mafia proyek pengadaan pembibitan dan pupuk. | Foto; Ist.

Sistem tender di ULP Aceh dinilai tidak profesional. Banyak pembuktian dokumen calon pemenang tender dilakukan di meja warung kopi.

KBA.ONE, Banda Aceh – Proses tender ala mafia diduga dipraktikkan oknum pejabat “kunci” di lingkup Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh dan Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh selama bertahun-tahun. “Banyak penentuan pemenang diselesaikan di warung kopi,” kata Nasruddin, Direktur CV Pasir Intan.

Nasruddin, alias Din Gajah, mengungkapkan detil permainan sekelompok mafioso ini khusus kepada KBA,ONE, di Banda Aceh, Sabtu 17 Oktober 2020. Menurut Din Gajah, setiap memasuki musim tender proyek di Distanbun Aceh, oknum-oknum kelompok kerja (pokja) pemilihan di ULP “bergerlya” melobi pemilik perusahaan yang masuk nominasi calon pemenang.

Modus yang dipraktikkan oknum pokja ULP Aceh ini, kata Din Gajah, merencanakan pertemuan-pertemuan khusus di warung-warung kopi. Salah satunya pertemuan pembuktian dokumen untuk calon pemenang Paket Pekerjaan Pengadaan Bibit Pinang Betara untuk Pengembangan Kawasan Kebun Pinang Betara Rakyat Kabupaten Bireuen Seluas 200 Hektar.

Din Gajah. | KBA.ONE, Dok.

Dalam paket ini, jelas Din Gajah, CV Pasir Intan (PI) pada 27 September 2020 sudah menerima undangan pembuktian kualifikasi dari Pokja Pemilihan PBJ-LXXXIII untuk hadir pada 28 September 2020 di Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Aceh, Gedung F Lt.3 Komplek Kantor Gubernur Aceh, Jalan T Nyak Arief No 219, Banda Aceh.

Tapi, lanjut Din Gajah, salah seorang anggota Pokja Pemilihan PBJ-LXXXIII berinisial AK menghubungi salah seorang staf perusahaan untuk bertemu di warkop Dek Yus di Jalan Soekarno Hatta, kawasan Lampeuneurut Banda Aceh, tanggal 28 September 2020, sekitar pukul 17.10 WIB. “Pembuktian dokumen di warkop saja, gak usah di kantor,” cerita Din Gajah mengutip ucapan oknum pokja.

Dalam pertemuan “gelap” antara oknum pokja dan staf perusahaan, menurut Din Gajah, oknum pokja dengan tegas menjelaskan bahwa pemenang Paket Pengadaan Pinang Betara Bireuen adalah CV Pasir Intan. Bahkan, oknum pokja itu meyakinkan CV PI sudah lulus administrasi, lulus adm teknis dan harga. “Nanti malam sekitar pukul 21.00 Wib sudah diumumkan pemenangnya CV PI,” kata oknum pokja itu kepada staf perusahaan CV PI. 

Undangan pembuktian dokumen. | Foto: Dok KBA.ONE.

Pertemuan antara oknum pokja dan staf perusahaan PI itu berlangsung tiga jam lebih. Sekitar pukul 20.25 Wib, dua staf perusahaan CV PI dan oknum pokja berinisial AK, saat itu mengenakan kaos hitam, bubar dan meninggalkan warkop Dek Yus di kawasan Lampeuneurut.

Hingga pukul 21.00 Wib, pengumuman pemenang paket Pinang Betara Bireuen tak kunjung ditayang di web Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Aceh. Bahkan, antara staf perusahaan CV PI dan oknum pokja AK sempat terjadi lose contac. Tapi, ketika keesokannya terbangun komunikasi antara staf CV PI dan oknum pokja itu, AK bilang, ”pengumunan ditunda karena ada intervensi dari Pak Kadis.”

Menurut sumber penting di Distanbun Aceh, intervensi itu diduga dilakukan Kadistanbun Aceh Abdul Hanan yang dikabarkan menemui Ir Junaidi, Kepala ULP Aceh, untuk memenangkan perusahaan CV Aksi Nusanta. “Ternyata memang akhirnya CV Aksi Nusanta yang dimenangkan dan diumumkan pada tanggal 30 September 2020 pukul 14.30 Wib, bukan CV PI seperti janji oknum pokja AK,” sebut sumber itu.

Ira Manyamsari. | Foto: WA.

Sumber itu menduga orang yang menyodorkan CV Aksi Nusanta ke Hanan adalah Ira Manyamsari, pemain lama proyek pembibitan dan pupuk di lingkup Distanbun Aceh. “Buk Ira itu koleganya Pak Kadis Hanan. Mereka sama-sama di alumni Ikatan Sarjana Pertanian Unsyiah,” kata sumber itu meyakinkan.

Sumber itu juga menyebut Hanan saat ini sebagai salah satu “orang kuat” yang diduga memiliki kedekatan khusus dengan petinggi di Aceh. “Makanya sulit digeser dari posisi  Kadis karena ia dinilai mampu mengakomodir kepentingan logistik atasannya,” jelas sumber itu.

Hanan Membantah, Junaidi Menutup Akses

Abdul Hanan, Kepala dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, membantah semua tudingan miring yang diarahkan kepada dirinya. “Tidak benar saya berhubungan dengan pokja. Semua proses tender itu dilakukan di ULP dan sudah sesuai prosedur,” kata Hanan kepada KBA.ONE, Minggu 18 Oktober 2020. 

Abdul Hanan. | Foto: FB

Hanan juga membantah memiliki kedekatan khusus dengan Ira Manyangsari. “Tidak ada hubungan. Buk Ira dulu, saat saya selaku satker BRR, dia pernah menjadi staf saya. Tapi tidak ada hubungan serta tidak ada kontak dengan saya,” jawab Hanan.

Ketua pokja 83 ULP Aceh, AK, belum merespon whatsapp yang dikirim KBA.ONE ke nomor kontak 08136009xxxx pada Senin malam 19 Oktober 2020.  Padahal, KBA ONE ingin memastikan kebenaran informasi pembuktian dokumen lelang dilakukan di warkop Dek Yus kawasan Lampenerut.

Ir Junaidi, Plt Kepala ULP Aceh, juga gagal dihubungi KBA.ONE dan terkesan menutup semua akses informasi dari media. Bahkan, dua nomor kontak selulernya juga tidak aktif ketika dihubungi Senin malam 19 Oktober 2020.

Junaidi, Plt Kepala ULP Aceh. | Foto: Ist

Sementara Ira Manyamsari, pemain proyek di lingkungan Distanbun Aceh, membenarkan CV Aksi Nusanta adalah pemenang proyek pengadaan bibit pinang batara untuk kabupaten Bireun. “Bibit pinang batara tersedia cukup sesuai permintaan sebanyak 100 ribu batang,” ungkap Ira meyakinkan KBA.ONE melalui jaringan telepon seluler, Minggu 18 Oktober 2020. 

Surat sanggahan banding. | Dok.
Surat sanggahan banding. | Dok.

Merasa dizalimi, dipermainkan, dan diperlakukan tidak adil oleh ULP, pokja dan pihak Distanbun Aceh, Direktur CV Pasir Intan, Din Gajah, langsung melayangkan surat sanggah pada 5 Oktober 2020 ke Pokja LXXXIII ULP Aceh (kalah dan dijawab pada 13 Oktober 2020). Kemudian, karena kalah, CV Pasir Intan melakukan sanggah banding pada 16 Oktober 2020 ke Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Distanbun Aceh (masih proses).

“Kalau kalah juga disanggah banding, kita akan bawa kasus ini ke ranah hukum. Kita akan buka semuanya,” kata Din Gajah, menutup komentarnya kepada KBA.ONE. ***

  

  

  

  

   

Komentar

Loading...