Menghalau Teroris, Memblokir Telegram

Menghalau Teroris, Memblokir Telegram
Ilustrasi Telegram | Smeaker

Karena digunakan teroris, pemerintah ingin menutup Telegram. Masih bisa diakses jika mengandalkan VPN.

KBA.ONE - Nafsu pemerintah untuk menutup aplikasi pengiriman Telegram di Indonesia, sepertinya tak terbendung. Sejak 14 Juli 2017, Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kemkominfo telah meminta Internet Service Provider untuk memblokir sebelas Domain Name System atau DNS Telegram.

Kesebelas DNS yang diblokir meliputi t.me, telegram.me, telegram.org, core.telegram.org, desktop.telegram.org, macos.telegram.org, web.telegram.org, venus.web.telegram.org, pluto.web.telegram.org, flora.web.telegram.org, dan flora-1.web.telegram.org. Semua DNS ini merupakan fitur Telegram yang bisa diakses lewat komputer. Hingga Senin siang, 17 Juli 2017, Telegram versi mobile di Android masih dapat diakses.

Kominfo lewat rilisnya mengatakan, pemblokiran aplikasi layanan instan buatan dua bersaudara, Pavel dan Nikolai Durov asal Rusia itu, karena banyak sekali kanal di Telegram bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, dan lain-lain yang bertentangan dengan perundang-undangan Indonesia. "Saat ini kami juga sedang menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka," ujar Dirjen Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan.

Telegram disebut dapat membahayakan keamanan negara karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme. Semuel juga menegaskan dalam menjalankan tugas sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 40 Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, kemkominfo selalu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga negara dan aparat penegak hukum lainnya dalam menangani pemblokiran konten-konten yang melanggar peraturan perundangan-undangan Indonesia.

Menteri Kominfo Rudiantara membenarkan penutupan situs tersebut. Rudi mengungkapkan Kemkominfo telah memberi “karpet merah” kepada tiga lembaga untuk menginisiasi pemblokiran terhadap situs-situs yang mengandung konten radikalisme dan terorisme. "Kominfo memberi ‘karpet merah’ kepada tiga institusi: kepala polri, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dan BIN (Badan Intelejen Negara),” ujar Rudi.

"Karpet merah" yang dimaksud Rudi adalah kemudahan bagi tiga institusi tersebut dalam mengusulkan pemblokiran situs yang mengandung konten radikalisme dan terorisme. Artinya, proses pemblokiran tidak perlu melalui penelitian tim Panel Penilai sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Nomor 90 tahun 2015. "Proses pembatasan aksesnya (blokir) tidak berkepanjangan. Bisa cepat tidak perlu ke saya."

Namun, Rudi belum bisa memastikan mana dari ketiga institusi tersebut yang menginisiasi pemblokiran sejumlah situs milik Telegram. "Kalau itu (yang menginisiasi) saya belum tahu," ujarnya.

Selain memblokir situs-situs milik Telegram, Rudi mengatakan Kemkominfo sedang mempertimbangkan penutupan aplikasi Telegram. Salah satu alasannya, Telegram tidak memiliki perusahaan perwakilan di Indonesia. Sehingga, kata Rudi, Telegram tidak terikat pada aturan hukum yang berlaku di Tanah Air. "Kalau kerjasamanya tidak bisa ditingkatkan, service level-nya tidak bisa diperbaiki, kami mempertimbangkan untuk menutup platform-nya. Mereka tidak punya kantor di sini. Platform lain ada,” ujarnya.

Namun, sebelum menutup, Rudi akan berkomunikasi terlebih dahulu dengan Telegram. “Semua platform kami komunikasikan supaya lebih baik,” katanya.

***

Telegram salah satu layanan yang memakai sistem enkripsi untuk percakapannya. Telegram mulanya diluncurkan untuk sistem operasi iOS pada 14 Agustus 2013. Sementara, versi alfa untuk Android baru diluncurkan dua bulan kemudian. Telegram juga dapat berjalan di sistem operasi Windows dan Linux.

Seperti diungkapkan Telegram di situs resminya, aplikasi perpesanan ini fokus pada kecepatan dan keamanan. Telegram juga dapat digunakan pada beberapa perangkat di waktu bersamaan. Ilustrasinya begini, pengguna dapat mengakses Telegram di smartphone dan pada saat yang sama juga dapat membukanya di komputer. Pesan di smartphone akan diselaraskan secara otomatis dengan di komputer.

Telegram dapat digunakan untuk mengirimkan pesan teks, foto, video dan berkas-berkas berekstensi doc (dokumen), zip (kompress), mp3 (lagu) bahkan apk (aplikasi Android). "Telegram seperti gabungan dari SMS dan email," tulis Telegram.

Berbeda dengan Whatsapp, Telegram mengklaim diri sebagai aplikasi perpesanan yang mampu mengirim berkas hingga ukuran 1,5 GB. Jauh lebih besar dibandingkan Whatsapp yang hanya memberikan ukuran maksimum 16 MB. "Telegram gratis dan akan tetap bebas, tidak ada iklan, tidak ada biaya berlangganan, selamanya."

Lalu, dari mana Telegram memperoleh dana untuk mendukung pembangunan infrastruktur aplikasinya? Secara sepintas disebutkan, Pavel Durov merupakan sosok yang mendonasi Telegram selama ini.

Tak hanya itu, Telegram juga membuka diri. Bagi developer atau pengembang yang ingin membuat aplikasi Telegram sendiri, Telegram membolehkannya. "Kami juga memiliki API Bot, platform untuk pengembang yang memungkinkan seseorang membuat alat khusus dengan mudah untuk Telegram."

Selain kecepatan dan keamanan, privasi menjadi fokus lain bagi Telegram. Di laman blog-nya, Telegram secara terang-terangan menuding Facebook dan Google telah menjual data pribadi pengguna kepada pihak ketiga, demi keuntungan pemasaran. "Facebook atau Google telah secara efektif membajak wacana privasi dalam beberapa tahun terakhir," sebut Telegram.

Telegram mendaku diri sebagai aplikasi yang mampu melindungi percakapan pribadi dari pengintaian pihak ketiga. Selain itu, melindungi data pribadi pengguna dari pihak ketiga seperti pemasang iklan. Telegram juga memiliki channel atau saluran yang dapat menampung jumlah anggota tak terbatas. Fitur ini tak dimiliki Whatsapp.

Telegram memiliki fitur enkripsi end-to-end yang mencegah pesan dicegat dan dibaca, kecuali oleh pengirim dan penerima. Pesan "secret chat" hanya bisa diakses melalui dua perangkat, yakni perangkat pengirim yang menginisiasi percakapan dan perangkat penerima. Isi percakapan bisa dihapus kapan pun, atau diatur agar terhapus secara otomatis.

***

Alasan menjadi "sarang teroris", dibuktikan ketika Telegram menjadi platform messaging yang populer di kalangan simpatisan ISIS. Karena tak mudah diintai intelijen, banyak teroris berkomunikasi menggunakan Telegram.

Laporan yang dipublikasikan The Middle East Media Research Institute menyebutkan, sejak membuka fitur channels pada September 2015, Telegram kian digandrungi kalangan teroris.

Fitur tersebut, memungkinkan para jihadis membuka kanalnya masing-masing di platform tersebut. Dari kanal itu, propaganda seputaran jihad, tutorial membuat senjata, melakukan serangan siber, atau perintah membunuh, disebar kepada para pengikutnya yang men-follow kanal tersebut.

Salah satu kanal terpopuler di Telegram yang berhubungan dengan ISIS adalah Nasher. Kanal tersebut mengklaim diri sebagai saluran resmi publikasi ISIS. Dari kanal itu, info-info seputaran ISIS, bisa dengan mudah didapatkan oleh para pengikutnya.

Di Indonesia, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan banyak teroris yang ditangkap mengakui komunikasi sesama anggota kelompok mereka dilakukan melalui Telegram. Salah satunya, digunakan dalam teror di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016. "Sampai bom Kampung Melayu, terakhir di Falatehan, ternyata komunikasi yang mereka gunakan semuanya menggunakan Telegram," ujar Tito di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Ahad, 16 Juni 2017.

Di Kampung Melayu, polisi menemukan adanya komunikasi langsung pelaku lewat Telegram dengan Bahrun Naim, simpatisan ISIS asal Indonesia yang berada di Suriah. Selain itu, dalam kasus penusukan polisi di Falatehan, pelaku bernama Mulyadi diketahui bergabung dengan grup radikal di Telegram. Dari aplikasi itulah ia terpapar paham radikal dan mulai merencanakan penyerangan ke polisi.

Contoh lainnya, pengibar bendera ISIS di Polsek Kebayoran Lama. Pelaku berinisial GOH diketahui mendapat pemahaman radikal melalui internet sejak 2015. Salah satunya dari grup media sosial dan aplikasi Telegram yang diberi nama, Manjanik, Ghuroba, UKK, dan Khilafah Islamiyah.

Tito mengakui aplikasi tersebut menjadi favorit kelompok teroris karena melindungi privasi pengguna. "Selama ini fitur Telegram banyak keunggulan. Di antaranya mampu memuat sampai 10.000 member dan dienkripsi. Artinya, sulit dideteksi," ujar Tito.

Karena sulit disadap, kata Tito, Telegram menjadi tempat  "lone wolf self radicalitation" radikalisasi melalui media online. "Jadi tidak perlu ketemu-ketemu lagi," ujar Tito.

Tito mengungkapkan awalnya Polri tidak merekomendasikan Kemenkominfo menutup domain name system Telegram. Polri, kata Tito, hanya meminta Kemkominfo menyampaikan kepada Telegram agar memberi akses kepada Polri berkaitan dengan isu terorisme dan Keamanan negara.

Namun, Telegram tidak menanggapi permintaan akses tersebut. "Yang kita minta kepada Telegram bukan ditutup sebenarnya, tolong kami bisa diberi akses kalau sudah menyangkut urusan terorisme, keamanan, kami diberi akses untuk tahu siapa itu yang memerintahkan untuk ngebom atau menyebarkan paham radikal. Tapi nggak dilayani dan nggak ditanggapi, ya sudah tutup saja," ujar Tito, saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 17 Juli 2017.

Sementara, CEO Telegram Pavel Durov sebelumnya telah menyadari ada aktivitas grup teroris ISIS di Telegram. Namun, ia bersikeras menjunjung tinggi faktor keamanan privasi yang memang sudah lekat dan menjadi ciri khas Telegram.

Ketika pemerintah ingin memblokir Telegram, Durov mengatakan adanya keanehan karena ia tidak pernah mendapat permintaan penghapusan konten maupun komplain dari Kominfo. Namun, Ahad pagi, 16 Juli, Menkominfo Rudiantara mengatakan ia telah menerima permintaan maaf dari Durov. Permintaan maaf itu terkait pengoperasian layanan chat Telegram di Tanah Air karena memuat channel yang berbau radikalisme dan terorisme.

Rudiantara menceritakan, Durov selama ini tidak tahu bahwa Kominfotelah berupaya menghubungi Telegram sejak 2016. Meski permintaan maaf Telegram sudah terucap dan diterima pemerintah, belum disebutkan kapan pemblokiran Telegram akan dicabut. Langkah-langkah teknis yang tengah disiapkan Kominfo pun belum diumbar. "Kami fokus untuk secepatnya membuat proses teknis," ujar Rudiantara.

***

Di Indonesia, selain menjadi tempat berkumpulnya teroris, Telegram telah tempat baru programmer komputer. Banyak grup pemrograman bermunculan yang menjadi sarana berbagi ilmu dan pengalaman seputar pemrograman. Misalnya, grup tentang framework, Android developer, Linux dan sebagainya.

Wakil Presiden ID SIRTII Bisyron Wahyudi tak sepenuhnya sependapat dengan pemblokiran. Menurutnya selama masih ada cara selain blokir, pemerintah perlu mencobanya terlebih dahulu. "Justru kita menyarankan cara-cara alternatif selain blokir karena Telegram banyak digunakan komunitas-komunitas IT dan start up UMKM," ujar Bisyron.

Sementara, pakar marketing digital Anthony Leong berpendapat pemblokiran Telegram merupakan bentuk kemunduran. "Gagal paham jika langsung diblokir, ini kemunduran teknologi di tengah kemajuan zaman. Jika memang ada keluhan soal konten bisa langsung disurati ke Telegram," ujar Anthony.

Sebenarnya, walaupun pemblokiran tetap dilakukan, akses ke Telegram masih bisa dilakukan dengan menggunakan Orbot. Aplikasi ini memiliki VPN atau Virtual Private Network yang merupakan koneksi rahasia melalui jaringan internet. Data yang dikirimkan lewat VPN tetap rahasia meskipun melalui jaringan publik. Biarpun ada pihak yang dapat menyadap data, belum tentu dapat dibaca dengan mudah karena memang sudah diacak.

Di Android, Orbot dapat diunduh gratis melalui playstore. Secara umum, aplikasi berlogo bawang ungu ini mampu membuka situs-situs yang terblokir. Orbot mulanya digunakan untuk menelusuri "deepweb", bagian terdalam internet yang umumnya berisi konten-konten ilegal yang tak bisa diakses dengan DNS biasa.

Di sisi lain, pemblokiran Telegram justru membantu teroris lebih leluasa bekerja. Mereka kian susah dilacak. Seharusnya, pemerintah bekerjasama dengan Telegram untuk memberantas terorisme. /Ghaly Bayhaqi

Komentar

Loading...