Mengintip Sesi Latihan Tim Barongsai Kun Seng Keng Medan

Mengintip Sesi Latihan Tim Barongsai Kun Seng Keng Medan
Barongsai Kun Seng Keng. | Foto: Gandhi

Seni barongsai bersifat universal, tak membatasi suku, agama, ras, dan antargolongan.

KBA.ONE, Medan - Imlek tahun ini mungkin tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada festival atau pun perayaan besar-besaran mengingat kondisi saat ini yang masih dilanda pandemi Covid 19. Jika biasanya kembang api dan atraksi barongsai dapat kita temui dengan mudah di perayaan hari raya Imlek, tahun ini berbeda.

Pemerintah Indonesia mengimbau agar umat Buddha khususnya masyarakat Tionghoa untuk dapat melaksanakah ibadah secara sederhana saja, datang berdoa ke Klenteng ataupun Wihara, kemudian kembali ke rumah masing-masing tanpa berkumpul bersama teman di malam tahun baru. 

Meskipun begitu, di Wihara Chikung Jalan Rahayu/Jalan Pukat Banting 1 Medan, tampak sekumpulan anak muda sedang sibuk berlatih barongsai. Dengan seragam khas berwarna merah, celana rumbai, dan sepatu silver mengkilap dipenuhi manik-manik, mereka terlihat begitu antusias dan bersemangat saat berlatih. 

Vihara Chikung. | Foto: Ghandi.

Sekelompok orang ini menamakan dirinya Barongsai Kun Seng Keng, yang terbentuk sejak 2018.

Wihara Chikung cukup luas. Tempat latihan barongsai terletak di sisi kanan Wihara. Di sana tampak belasan pilar-pilar besi terpasang dengan ukuran yang berbeda-beda. Dua orang remaja Tionghoa meloncat di atasnya, berpindah dari satu pilar ke pilar lainnya. "Itu namanya atraksi tonggak, yang terdiri dari pilar-pilar, latihan ini dicampur dengan akrobatik juga sih," kata Hendra, pembina Barongsai Kun Seng Keng. 

Hendra (kiri), pembina barongsai Kun Seng Keng. | Foto: Ist.

"Sebenarnya pada zaman China kuno dulunya, barongsai itu gunanya untuk mengusir roh-roh jahat, dan hal-hal yang tidak bagus. Jadi dibunyikan lah keras-keras barongsai itu. Dilakukan secara turun temurun hingga akhirnya dilakukan setiap pergantian musim semi yang disebut Imlek. Itulah kenapa imlek identik dengan mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan," jelas Hendra 

Hendra sendiri mengaku sudah sejak kecil menyukai pertunjukan  barongsai, hingga akhirnya ikut berlatih bersama teman-temannya dan saat ini bisa menjadi pembina di Barongsai Kun Seng Keng. "Kita baru bisa merasakan dan menyaksikan barongsai ini kan sejak era reformasi, ya, tahun 1900-2000 an, nah saat itu saya tertarik, dan saya pikir ini budaya kita, jadi harus dilestarikan," ujar Hendra. 

Barongsai Kun Seng Keng. | Foto: Ghandi.

"Semakin ke sini, barongsai semakin berkembang tidak hanya sebagai ritual pengusir roh, sekarang sudah jadi olahraga. Di bawah naungan Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI), dan di bawah KONI," sambung Hendra lagi.

Ada belasan remaja yang berlatih di Kun Seng Keng, di antaranya adalah Gilang dan Stanley yang jadi sepasang kepala dan ekor dalam atraksi barongsai. "Saya main barongsai udah sejak 2010 bang, Stanley 2013, pertama kali lihat tertarik gitu, terus ikutan main, sampai sekarang," kata Gilang. "Iya senang aja ikutnya bang, banyak teman, ngumpul-ngumpul," sambung Stanley.

Gilang yang merupakan peranakan suku Jawa dan Karo, mengaku pertama kali melihat barongsai di Wihara sekitar rumahnya. "Barongsai ini ada seni nya, jadi saya tertarik untuk ikutan," kata Gilang. 

Selain Gilang, ada dua orang pemain lainnya yang bukan merupakan etnis Tionghoa, tapi gemar bermain barongsai. Mereka adalah Yoga, seorang keturunan Mandailing bermarga Rangkuti, dan Timoty yang bermarga Panjaitan, dari suku Batak. Sama seperti Gilang, awal pertama mereka melihat barongsai yaitu di sekitar rumah mereka saat diadakannya atraksi tersebut. 

"Rumah saya kan dekat mall bang, di situ dulu sering ada barongsai, itulah suka saya lihat, mulai tertarik, dan timbul hobi dari barongsai itu," kata Yoga. "Kalau saya sama juga bang, dekat rumah pernah ada yang main barongsai," sambung Timoty. 

Timoty Panjaitan (kiri) dan Yoga Rangkuti (Kanan) pemain barongsai. | Foto: Ghandi.

Ditanya soal pengalaman menarik saat bermain Barongsai, Gilang mengatakan bahwa kakinya pernah terkilir saat salah melakukan atraksi. Tapu itu tidak menyurutkan semangatnya dalam bermain barongsai. "Ya itu bang, pernah terkilir, nanti udah sembuh main lagi, karena hobi gitu," kata Gilang.

Barongsai Kun Seng Keng sejauh ini sering mendapatkan tawaran show di berbagai acara, seperti pesta pernikahan, peresmian kantor, rumah baru, dan seremonial lainnya. Bukan hanya sebagai sarana olahraga,  barongsai juga bisa menjadi peluang bisnis dan media bertoleransi antar suku dan agama. Sejak awal dibuka, Kun Seng Keng berkomitmen  membuka pintu seluas-luasnya bagi siapapun yang ingin bergabung bersama mereka tanpa memandang ras, suku dan agama. 

Sesi latihan barongsai. | Foto: Ghandi.

"Kita emang udah komitmen dari awal, siapapun yang mau gabung silahkan. Tanpa perlu kita tanya asalnya dari mana, agama apa, ras apa, gak ada itu di sini. Karena barongsai sekarang udah universal, jadi siapa aja bisa main. Bagi yang mau bergabung bisa menghubungi kita di instagram @kskmedan_yonghe" kata Hendra menutup perbincangannya dengan KBA.ONE, di depan Wihara Chikung pada 7 Februari 2021. ***

Komentar

Loading...