Mengubah Mindset Pendidikan di Aceh yang Masih Mengarah pada Prestasi Akademik

Mengubah Mindset Pendidikan di Aceh yang Masih Mengarah pada Prestasi Akademik
Bilal Faranov. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Tidak bisa dipungkiri, seiring berkembang pesatnya teknologi dan industri, juga membuat mindset murid ikut berkembang dengan sendirinya. Mungkin sepuluh atau lima tahun yang lalu mindset murid jika ditanya guru perihal cita-cita, mereka akan menjawab ingin menjadi pilot, dokter, polisi dan lain sebagainya.

Berbeda dengan saat ini, mindset anak-anak lebih terbuka. Mereka hidup di era serba digital, tentu saja mereka lebih tertarik untuk memulai startup atau bekerja di perusahaan tersebut, bahkan tak jarang ingin menjadi programmer atau developer. Perubahan mindset itu terjadi tidak terlepas dari revolusi teknologi 4.0.

Mahasiswa Berprestasi Jurusan Hubungan Internasional Universitas Al-Muslim, Bilal Faranov, mengatakan perubahan mindset menjadi kendala sederhana dalam sistem sekolah, mindset orang tua dan guru disekolah khususnya di Aceh masih mengarah pada prestasi akademik di kelas. Siswa masih dinilai kualitas dan kemampuannya dari indikator ranking.

"Padahal ada anak yang ahli di suatu bidang, misalnya dia lebih menaruh minat di bidang kesenian, olahraga, IT, videografi, ilmu marketing, ilmu investasi dan lain sebagainya. Keahlian itu saja sebenarnya yang perlu di asah, anak-anak tidak perlu fokus dan menguasai semua mata pelajaran. Sistem ranking juga lebih menekankan pada kompetisi antar siswa. Bukan kolaborasi. Misalnya, ada murid ranking 30 di kelas, namun dibalik semua itu, dia adalah atlet lari yang akan mengharumkan nama bangsa,” tegas Bilal yang juga peraih beasiswa Institute for Japanese Studies Nagoya Gakuin University (NGU) di Jepang tahun 2018-2019, kepada KBA.ONE, Sabtu, 8 Mei 2021.

Ia menyampaikan berilah kesempatan bagi anak-anak yang mempunyai keahlian untuk mengasah skill. Karena berbicara pendidikan sekarang bukan lagi berbicara tentang ranking, melainkan pendidikan vokasi yang harus di kedepankan.

"Jadi mereka tidak merangkak saat masuk kuliah. Atau tidak semua anak-anak yang setelah lulus sekolah bisa kuliah, bisa saja selesai sekolah dia langsung bekerja. Bekal yang dipelajari saat sekolah juga sangat bermanfaat di lapangan.” tuturnya.

Menurut Bilal, murid yang memiliki bakat tertentu, terutama dalam hal akademik sering kali tidak dilihat atau malah diabaikan oleh guru. Padahal seperti diketahui apa yang terjadi di dunia pendidikan saat ini berbeda jauh dengan apa yang dihadapi di dunia kerja. Skill merupakan modal utama, bahkan tidak sedikit murid yang berprestasi di sekolah menganggur saat sudah selesai menempuh pendidikan.

"Tapi saya tidak menyalahkan murid yang berprestasi, itu hal yang luar biasa jika dibarengi dengan skill. Saya kira sangat perlu di buka ruang untuk bisa belajar sesuai keahliannya masing-masing, tidak perlu menguasai semua," ujar Bilal.

Selain itu, kata Bilal, harus diakui Sumber Daya Manusia (SDM) guru yang mumpuni juga sangat mempengaruhi jika ingin pendidikan yang lebih baik. Karena, setiap guru memiliki karakteristik sendiri dan ilmu tertentu yang dipelajarinya.

"Tapi untuk pendidikan keahlian dengan menggunakan SDM orang-orang dari luar ranah pendidikan, terutama expert di bidang yang akan diajarkan," tutur Bilal.

Sementara itu, Bilal juga mengatakan saat ini yang harus ditingkatkan di pendidikan Indonesia yaitu pendidikan muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler. Seharusnya ada tambahan kelas berupa pendidikan untuk mengasah keahlian dan minat murid.

Ia menilai pendidikan muatan lokal (mulok) atau kegiatan ekstrakurikuler yang menjurus pada minat dan keahlian murid sangat penting. Keduanya menjadi wadah untuk mengembangkan pendidikan di Indonesia secara khusus pendidikan di Aceh yang saat ini berada di posisi terendah tingkat nasional.

Jadi salah satu fungsi dan peran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia atau Dinas Pendidikan yaitu mengedukasi guru dengan harapan guru juga mengedukasi murid dari sisi bagaimana membuka wawasan.

"Pendidikan bukan saja tentang di sekolah tapi yaitu untuk membuka mindset murid bahwa dunia lebih luas. Kita sangat tertinggal dalam hal pendidikan ketimbang negara tetangga seperti di Filipina dan Malaysia," tutup Bilal yang juga konten kreator asal Bireuen.

Komentar

Loading...