Mengunggah Rahasia Percakapan Dagang Jabatan Kepsek di Agara

Mengunggah Rahasia Percakapan Dagang Jabatan Kepsek di Agara
Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Tenggara di Kutacane. | Foto: Istimewa.

Hasil pungutan liar itu diduga akan disetor ke salah satu atasan Sarpin di Disdik Provinsi Aceh

DUA REKAMAN percakapan bedurasi 1 menit 44 detik dan 1 menit 59 detik itu beredar terbatas di kalangan tertentu. Redaksi KBA.ONE adalah salah satu yang mendapat kiriman dua rekaman itu.

Tapi, sejak Juli 2021, pointer percakapan rekaman itu menguap ke publik. Isinya dugaan skandal dagang jabatan kepala sekolah di Kabupaten Aceh Tenggara.  

Isu dagang jabatan Kepsek itu sempat mengguncang dunia pendidikan di Aceh setelah “dilalap” dan diunggah beberapa media siber.

Sayangnya, isi percakapan itu belum pernah terpublikasi utuh. “Semua masih sebatas informasi yang berkembang,” kata sumber KBA.ONE di lingkup Dinas Pendidikan Aceh.

Pada awal Oktober 2021, tim redaksi KBA.ONE mencoba menelusuri kembali jejak skandal dagang jabatan Kepsek di Aceh Tenggara tersebut. Penelusuran dimulai dari menerjemahkan dua rekaman “rahasia” berbahasa Gayo Blangkejeren ke dalam bahasa Indonesia.

Syahdan, setelah ditranslet, ternyata percakapan transaksional soal rencana dagang jabatan itu diduga dilakukan antara Als, Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN)-3 Kutacane, Aceh Tenggara, dengan seseorang yang menjadi lawan bicaranya.  

Ini dia isi percakapan skandal dagang jabatan kepala sekolah di Aceh Tenggara yang menyeret nama Sarpin, Kacabdin Pendidikan Wilayah Agara. Dia diduga sebagai tokoh sentral di pusaran kasus paling memalukan itu. Sedangkan Als adalah teman Sarpin.

Rekaman-I (Diduga suara Als, Kepsek SMAN-3 Kutacane.

Sudah turun dua orang  Kepala Sekolah SMAN Semadam  (Saniman) & Plt. SMAN Lawe Alas (Wirianto).

Orang itu disuruh Pak Drs. Sarpin, M.Pd (Kepala Cabang Dinas Pendidikan Aceh Kab. Aceh Tenggara) untuk minta uang ke kepala-kepala sekolah. Kalau mau dirotasi/dipindah ke sekolah lain Rp20 juta, kalau mau tetap di sekolahnya yang sekarang Rp15 juta.

Terus dijumpai orang tu Pak Sabri (Kepala SMAN 1 Badar), jadi langsung Pak Sabri konfirmasi dia ke Pak Sarpin.

Dan Pak Sarpin mengakui kalau orang tu berdua, dia yang nyuruh, terus Pak Sabri bilang "jadi kalau gitu kirimkan nomor rekeningmu, biar kutransfer ke rekening".

Trus Pak Sarpin bilang, "mana berani aku, itu kan tangkap orang nanti aku."

Kata Pak Sabri, "jadi, kek mana ini?"

Pak Sarpin bilang, "pokoknya orang tu aku yang nyuruh, percayalah kau."

Rekaman-2

"A1 memang ini. Omak, bodohnya kawanku tadi."

"Demi Allah, kau panggillah orang tu nanti, kau tau kin sekarang orang tu mau jumpainya Kepala SMKN 2 Kutacane (Pak Sopiyan). Udah ditelepon orang tu Pak Sopiyan tadi, jadi orang tu mulai dari atas (dari  arah Blangkejeren maksudnya), mungkin Bu Nelly, Pak Abdul Halim (Kepsek SMAN 2 Badar) pun udah dijumpai orang tu.

Pak Sabri tadi udah jumpainya Pak Ali Sadikin (Kepsek SMAN Perisai).

Jadi Pak Sopiyan tadi konsultasi sama aku, "gimana ni menurut abang?"

Terus kusuruh pancingnya Pak Sarpin tadi, bilang sama dia "ini ada Pak Saniman dan Pak Wirianto, datang sama saya menawarkan ada dua opsi, rotasi dan mutasi. Apakah benar ini Pak Kacabdin perintah Bapak, coba aku tanya, kalau benar bilangnya, coba tawarkan bilang aku minta dirotasi ke SMKN 1 Kutacane, kukasih 50 juta gimana?

Tapi kalau dia gak berani, kau musti tetap di sekolahamu dan harus bayar 15 juta, terserahmu, tapi kalau saranku bayarkan aja untuk pengamananmu.

Sarpin Membantah

Kamis pagi, 21 Oktober 2021, sekitar pukul 10.50 WIB, di gedung SMA-3 Kutacane, wartawan KBA.ONE menemui Sarpin, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Tenggara, untuk verifikasi kebenaran dua rekaman yang bikin heboh tersebut. 

Butuh waktu dua pekan lebih untuk bertemu Sarpin. Beberapa kali janji wawancara selalu batal karena belakangan, sejak heboh kasus dagang jabatan kepala sekolah itu, Sarpin lebih sering wara wiri Kutacane-Banda Aceh (jarak tempuh sekitar 572 kilometer).

Bulkaini, Wartawan KBA ONE di Kutacane (kiri) dan Sarpin (Kanan), saat verifikasi berita pada Kamis pagi, 21 Oktober 2021, sekitar pukul 10.50 WIB, di gedung SMA-3 Kutacane. | Foto: KBA.ONE.

Berikut petikan wawancara Sarpin dan Aliyas dalam bahasa Alas (Kutacane) yang sudah diterjemahkan:

KBA.ONE: Apa benar Anda meminta uang untuk jabatan kepala sekolah sesuai rekaman yang beredar?

Sarpin: Tidak benar saya meminta uang kepada Kepala Sekolah SMA yang akan dirotasi dan mutasi

KBA.ONE: Suara di rekaman?  

Sarpin: Itu bukan suara saya.

KBA.ONE: Lalu, yang benar suara siapa? 

Sarpin: Ya, saya tau suara siapa, tapi itu saya tidak mau ungkapkan.

KBA.ONE: Soal meminta uang Rp15juta s/d Rp20 juta apa benar? 

Sarpin: saya tidak ada meminta uang sebesar itu, yang benar saya minta bantuan kepada sejumlah kepala sekolah antara Rp1,5 juta sampai dengan Rp2 juta untuk membantu kegiatan Dinas Pendidikan Provinsi di Kabupaten Gayo Lues (Blangkejeren). Namun hal ini dimanfaatkan oleh rekan kepala sekolah dengan meminta uang sebesar Rp15 Juta hingga Rp20 juta.

Pengakuan Als, Kepsek SMAN-3 Kutacane

Di hari dan tempat yang sama, wartawan KBA ONE menemui Als untuk memastikan dugaan suara di dalam rekaman itu adalah suara dia.

Semula Als berkelit. Dia membantah suara dalam rekaman percakapan dagang jabatan kepala sekolah itu suaranya.  Tapi, setelah KBA.ONE memutar dan memperdengarkan rekaman itu, Als tak bisa mengelak. “Ya, itu suara saya sendiri,” aku Als.

SMAN 3 Kutacane. | Foto: Ist

Als bilang memang ia pernah menghubungi sejumlah kepala sekolah yang akan dimutasi dari sekolah kecil ke sekolah yang lebih besar. 

Untuk sekolah SMA yang lebih besar, katanya, dipatok sebesar Rp20 juta, sementara sekolah lebih kecil dipatok Rp15 Juta. Itu semua, aku Als, atas perintah Sarpin, Kacabdin Pendidikan Wilayah Aceh Tenggara untuk disetor ke Dinas Pendidikan Aceh.

"Rekaman itu saya akui benar adanya, namun untuk realisasinya sampai saat ini tidak ada. Mungkin karena masalah ini sudah mencuat," ungkap Als, menutup wawancaranya kepada KBA.ONE, di halaman SMAN 3  Kutacane, Kamis, 21 Oktober 2021, sekira pukul 11.05 WIB.

Turun Tim

Menyikapi cela ini, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, sudah memanggil Sarpin, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Agara, pada pertengahan Juli 2021, untuk mengklarifikasi dugaan jual beli jabatan kepala sekolah SMA/SMK di Aceh Tenggara.  

Dalam rapat yang dipimpin Alhudri itu, Sarpin membantah semua tuduhan yang mengarah ke dirinya.  Rapatpun selesai tanpa membuahkan hasil. 

Tak berhenti di situ, Disdik Aceh dikabarkan sempat membentuk tim khusus untuk mengungkap sisi gelap dunia pendidikan Aceh tersebut.

Tapi, hingga berita ini  diunggah, noda menghebohkan itu pun lenyap laksana jasad ditelan bumi. Padahal, percakapan "rahasia" dagang jabatan ini bisa menjadi pintu masuk bagi jaksa dan polisi untuk membawa otak skandal ini ke ranah hukum. ***

Anara

Komentar

Loading...