Menjadikan Aceh Kontributor Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Oleh ,
Menjadikan Aceh Kontributor Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Nova Iriansyah membuka Jambore Pertanian Aceh II di Meulaboh | Humas Pemerintah Aceh

KBA.ONE, Banda Aceh - Ekonomi Aceh pada 2019 dipercaya tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Optimisme ini diutarakan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis pada awal Januari 2019.

Ekonomi Aceh pada 2018, kata Zainal, sudah menunjukkan pertumbuhan positif atau tumbuh sebesar 4,03 persen. Pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan 2017 karena di samping itu, inflasi Aceh juga dapat ditekan.

Pada 2018, inflasi Aceh sekitar 2 persen merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. "Belum pernah ada inflasi Aceh di angka 2 persen. Ini lebih rendah dari angka nasional," ujarnya.

Rendahnya angka inflasi Aceh menyangkut langsung dengan daya beli di masyarakat. Jika inflasi rendah, kata Zainal, masyarakat mampu membeli barang dengan harga yang relatif stabil.

Menurut dia, hal ini mengindikasikan tim pengendalian inflasi Aceh telah bekerja dengan baik. "Semua instansi terkait telah berkonstribusi dalam pengendalian inflasi di Aceh," ujarnya.

Sebelumnya, kata Zainal, dalam tiga tahun terakhir, inflasi Aceh di atas 4 persen lebih. Nilai ini termasuk tertinggi di Indonesia. "Kalau sebelumnya tahun 2017 pertumbuhan ekonomi hanya 4,19 persen sementara inflasinya 4,25 persen, artinya negatif," ujar Zainal.

Sejalan dengan itu, Zainal juga sangat optimis angka kemiskinan di Aceh akan turun pada 2019. Salah satu pemicunya, pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2019 tepat waktu. Namun, tantangannya terletak pada realisasi yang mampu dilakukan stakeholder terkait secara tepat sasaran dan efektif.

Berbagai tantangan ke depan, kata Zainal, masih harus dihadapi. Baik yang datang dari global, nasional, maupun lokal. Dia menyebutkan, perlambatan ekonomi global, perang dagang, risiko nilai tukar, dan penurunan harga komoditas dunia, dapat memberikan tekanan terhadap ekonomi nasional termasuk Aceh. "Selain itu kondisi defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) juga masih terus membayangi ekonomi nasional. Sementara dari sisi lokal, masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Aceh, minimnya industri, serta ketergantungan ekonomi terhadap APBA perlu mendapat perhatian bersama," ujarnya.

Oktober tahun lalu saat berbicara di seminar pengembangan sektor potensial Aceh di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Zainal menyampaikan para pelaku ekonomi di Aceh memiliki peranan untuk berkontribusi dalam mengurangi CAD Indonesia. Potensi ekonomi yang dimiliki Aceh dapat dioptimalkan untuk meningkatkan ekspor serta mengurangi impor.

Ia menyebutkan beberapa potensi Aceh, antara lain padi yang meningkat setiap tahun. Selain itu, kualitas kopi Aceh yang memiliki keunggulan dibandingkan daerah lain. Komoditas tersebut, kata Zainal, masih perlu ditingkatkan produktivitasnya untuk memenuhi permintaan pembeli dari luar negeri.

Aceh, kata dia, juga memiliki lahan luas dan cocok untuk tanaman kedelai. Khususnya di Aceh Timur. Aceh pernah dijadikan salah satu target daerah lumbung kedelai pada 2014 oleh Kementerian Pertanian dengan percepatan tanam kedelai seluas 26.000 hektare.

***

Dari kajian Bank Indonesia, peningkatan produktivitas di sektor pertanian memang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Aceh. Sementara di sektor perikanan, kekayaan laut Aceh dengan garis pantai terpanjang di Sumatera, membuka peluang tumbuhnya industri perikanan dan garam di Aceh.

Selain itu, Zainal Arifin menyebutkan keindahan alam, jejak sejarah, dan kekhasan Aceh dengan syariat Islamnya, menawarkan potensi penerimaan daerah dan penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat.

Zainal menjelaskan, Aceh memiliki potensi menjanjikan di sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Beberapa komoditas seperti nilam, pala, dan sereh wangi memiliki peluang menjanjikan di samping komoditas yang sudah menjadi unggulan selama ini seperti kopi dan kelapa sawit.

Dengan optimalisasi potensi yang dimiliki, sebut Arifin, dapat menjadikan Aceh sebagai kontributor pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu juga bisa menjadi solusi mengatasi permasalahan defisit transaksi berjalan, yang selama ini memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Upaya memanfaatkan peluang tersebut, kata Arifin, membutuhkan sinergi dan kerjasama antara pemerintah, otoritas terkait, industri, pelaku usaha serta masyarakat secara umum. Dengan bersinergi dalam berinovasi, akselerasi implementasi program pengembangan ekonomi daerah di Aceh dapat berjalan secara optimal dan dapat berkontribusi nyata dalam mewujudkan kemaslahatan yang merata, berkesinambungan dan barokah.

Untuk itu, Bank Indonesia perwakilan Aceh bersama Bappeda Aceh, menginisiasi diskusi bersama dinas terkait, sebagai upaya membangun sinergisitas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh. Kegiatan itu digelar di auditorium Kantor BI Aceh di Banda Aceh.

Pada diskusi itu, Kepala Bappeda Aceh Azhari mengatakan berbagai data dan informasi yang telah disampaikan BI, dapat menjadi referensi SKPA dalam melaksanakan program kerja dan realisasi APBA, serta saat akan menyusun program kerja 2020. Azhari mengimbau agar seluruh SKPA dapat memfokuskan program kerjanya untuk mendorong berkembangnya industri atau pengusaha lokal, dalam rangka menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan rakyat Aceh.***ADV

Komentar

Loading...