Menjaga Tou Fu Sumedang Warisan Ong Kino

Menjaga Tou Fu Sumedang Warisan Ong Kino
Tahu goreng sumedang. | Foto: flickr.com

Jika tahu cina hanya dapat bertahan satu hari, tahu sumedang buatan Mursal bisa bertahan selama 3 hari walau tanpa lemari pendingin.

KBA.ONE, Lhokseumawe – Aroma menyengat mulai menusuk hidung ketika memasuki Lorong Lipah, Gampong Meunasah Cut Mamplam Kandang, Lhokseumawe. Orang-orang di sana lebih mengenalnya sebagai Meunasah Baro. Dari sebuah jambo, persis di pinggiran tambak ikan bandeng milik warga, sumber aroma itu berasal.

Seorang pria, di dalam jambo berukuran sekitar 6 x 7 meter, itu tampak bermandi peluh. Sekujur tubuhnya basah seperti habis diguyur hujan deras. Pria itu tak ambil pusing. Ia terus mengaduk-aduk drum berisi cairan putih kedelai di atas tungku tempat perapian.

Api dari bara tumpukan kayu bakar itu terus hidup menyala-nyala membakar isi drum hingga mendidih. Asap  putih mengepul mengeluarkan aroma khas dan menyebar ke seluruh desa. Warga desa familiar dengan aroma itu karena terus dihidu setiap hari. Inilah pabrik tahu sumedang milik Mursal.  

“Saya sudah puluhan tahun menggeluti usaha ini,” aku pria 38 tahun itu kepada KBA.ONE, Senin 10 September 2018. Tak heran jika jari jemari Mursal begitu lentur dan terampil ketika mengangkat dan memotong makanan bertekstur super lembut itu.

Mursal, di jambo tempat ia mengolah tahu sumedang. | Foto KBA.ONE: Try Vanny.

Alumni SMK Pariwisata Kota Lhokseumawe ini mengaku belajar membuat tahu dari ayahnya sejak pabrik tahu ini berdiri tahun 1983. “Saat itu hanya ada satu pabrik tahu sumedang di Kota Lhokseumawe, yaitu milik keluarga kami,” cerita Mursal.

Ayah Mursal, dulunya, belajar membuat tahu di Batu 12. Keterampilan itu tidak didapatnya secara cuma-cuma. “Kursus itu lumayan mahal.  Sebab, untuk mendapatkan ilmu itu, ayah saya harus membayar setara satu ekor lembu,” kenang Mursal.

Setelah ahli membuat tahu, jambo keluarga Mursal mulai ramai didatangi warga. Mereka silih berganti membantu usaha keluarga Mursal. Ada yang bekerja sebagai karyawan dan ada juga yang sekadar ingin belajar.

“Setelah pandai, mereka berhenti bekerja dan membuat pabrik tahu sendiri. Mereka cuma ingin ilmunya. Makanya sekarang kami hanya bekerja sendiri dan tidak mau memperkerjakan orang lain lagi,” ucap Mursal  kecewa.

Tahu sumedang buatan ayah dari tiga putri cantik ini berbeda dari tahu cina yang beredar di pasaran karena tahu Mursal tidak menggunakan pengawet. Walau saat ini peminatnya berkurang, Mursal tetap enggan mencampurkan bahan berbahaya itu ke adonan tahunya.

Tahu sumedang buatan Mursal dominan dibeli oleh penjual jajanan gorengan karena teksturnya bisa mengembang dan mengeras apabila digoreng. Soal rasa, tahu ini jauh lebih gurih dari tahu cina yang biasanya hanya dijadikan bahan tambahan sayuran.

Kualitas tahu ini juga jauh dibandingkan tahu yang lain. Bila tahu cina hanya dapat bertahan satu hari, tahu sumedang buatan Mursal bisa bertahan selama 3 hari walau tanpa lemari pendingin. “Kalau masuk ke kulkas bisa tahan sebulan asalkan airnya selalu diganti,” katanya.

Mursal menggunakan bahan pokok kacang kedelai Australia yang ia beli dari seorang distributor di Kota Medan.  Harganya memang jauh lebih mahal dari kedelai lokal. Tapi, ia harus tetap membeli demi menjaga kualitas rasa.

Apalagi, kata Mursal,  kacang impor daya tahannya lebih lama karena melalui proses pengeringan menggunakan oven. Berbeda dengan kacang lokal yang tidak melalui tahap pengeringan. “Memang harganya lebih murah tapi tidak dapat disimpan lama,” kata Mursal.

Harga tahu sumedang buatan Mursal sangat terjangkau, hanya Rp700 perbuah. Dalam sehari ia mampu membuat 810 buah tahu dengan 3 x memasak. Biasanya, setiap pagi tahu-tahu tersebut di bawa ke pasar menggunakan becak motor miliknya. “Tapi, banyak juga yang datang langsung ke pabrik,” kata Mursal . 

Tahu sumedang buatan Mursal dan Rosdiah, istrinya. | Foto KBA.ONE: Try Vanny.

Mursal mengaku tidak menggeluti bidang usaha lain karena sibuk di pabrik. Hari-hari Mursal hanya fokus membuat tahu dan merawat ternak kambing. Puluhan ekor kambing yang ia beli dari hasil penjualan tahu itu selalu dirawat pagi dan sore. Kambing-kambing milik Mursal terlihat gemuk karena selalu diberi makan ampas tahu miliknya.

“Sebelum lebaran ada 50 ekor, kemarin pas lebaran sudah terjual setengahnya. Ini tinggal sisanya saja 25 ekor lagi,” ucap Mursal sambil melempar senyum memandangi kambing-kambing kesayangannya.

Memproduksi tahu merupakan usaha yang menjanjikan bagi Mursal. Dari usaha ini ia mampu membangun rumah sederhana untuk istri dan ketiga putri tercintanya.

Rosdiah, 35 tahun, istri Mursal, ikut membantu usaha suaminya ini. Di sore hari,  Rosdiah bersama bayi mungilnya yang baru berusia 4 bulan terlihat setia menemani suaminya bekerja di jambo milik mertuanya itu.

“Ini usaha milik ayah, saya hanya digaji perhari. Kalau banyak pembuatan bisa dapet Rp180 ribu, tapi kalau sedikit paling cuma Rp100 ribu. Insya Allah cukuplah untuk keluarga dan tabungan,” kata Rosdiah.

Tahu (Sumedang), atau tou fu (dari bahasa Tionghoa, Hokkian dibaca tau-hu) memang memiliki daya tarik dari sebuah kekayaan intelektual kota Sumedang, Jawa Barat. Karena pamor dan keunikan rasanya, lahir di tanah Sunda ini.

Di Lhokseumawe, pamor tahu Sumedang coba dipertahankan dan dijaga oleh Mursal, juga istrinya, sebagai khazanah nusantara. Meski tak serupa,  kisah Mursal dengan kisah Ong Kino, pelopor lahirnya tahu Sumedang 100 tahun lalu, bisa menginspirasi banyak orang.

Sebab, Ong Kino membuat tahu itu, awalnya, hanya untuk persembahan kepada isteri tercinta. Begitu juga hakikat Mursal mengolah pabrik tahu di Lhoksemuawe, juga demi isteri tercinta yang selalu setia menemani ia bekerja.

Kita berharap, semoga Mursal mendapat perhatian dan bantuan modal  dari Wali Kota Lhokseumawe, seperti ketika Ong Kino dijamu Bupati Sumedang karena menemukan tou fu yang lezat dan gurih pada 1917. ***

 

 

Komentar

Loading...