Menolak Tambang, Siapa di Belakang?

Menolak Tambang, Siapa di Belakang?
Ilustrasi | Pictorem.com

Siapa pula yang mampu menjamin ketika "para pemain" itu nantinya berubah haluan, kepada siapa rakyat menumpangkan harapan? Kepada siapa pendemo bergantung?

BAGAIMANA caranya menolak tambang di sebuah daerah? Gampang, kumpulkan massa, bikin petisi lalu ajaklah mereka berdemo. Buat unjuk rasa berjilid-jilid. Jangankan warga kampung sekitar lokasi tambang, ajak juga mahasiswa dari kota.

Ketika teriakan-teriakan menolak itu gegap gempita di langit, percayalah, media-media akan mengutipnya. Akan banyak headline bertaburan besoknya bahkan pada jam itu. Persoalan kenapa harus menolak tambang, itu urusan belakang. Biarkan lembaga A atau B yang mengaku pemerhati lingkungan bicara. Mereka pasti sudah siapkan pers rilisnya.

Lalu, lembaga A atau B itu pasti akan melemparkan tuduhan kepada si calon penambang. Tidak cukup syarat ini, kurang berkas itu, dan lain-lain. Anggukkan saja kepala. Kepalkanlah tinju: kita tolak tambang!

Padahal, negara sudah bilang kalau semua berkas si calon penambang telah beres. Tujuan si penambang mereka memang mau investasi. Bagaimana caranya? Mengeruk isi perut bumi lalu menjualnya. Jika ada niat merusak lingkungan, AMDAL menjadi dokumen yang perlu dijadikan acuan. Sudah bereskah atau belum? Jika belum apa-apa sudah menolak, kapan kita maju?

Itu yang terjadi di Beutong Ateuh, Nagan Raya. Ada penolakan terhadap kehadiran sebuah perusahaan yang ingin berinvestasi di sana. Anehnya, ada politisi yang ngomong menolak tambang di tempat itu tapi di tempat lain ia diam. Ada juga lembaga A atau B yang ngotot menolak tambang di tempat itu tapi di lokasi lain ia bungkam tak mau memprotes.

Masyarakat harus disadarkan bahwa begitulah ketika sebuah kepentingan bermain. Ada versus; pro kontra; positif negatif. Masyarakat harus diberikan kejernihan berpikir melihat masalah itu. Sementara kita tahu, para pihak yang bermain punya kepentingan masing-masing. Apa saja kepentingan yang dikejar? Bisa uang, bisa ketenaran.

Siapa pula yang mampu menjamin ketika "para pemain" itu nantinya berubah haluan, kepada siapa rakyat menumpangkan harapan? Kepada siapa pendemo bergantung?

Menolak tambang oke-oke saja, apa susahnya. Yang jangan, menolak harapan menjadi lebih baik tanpa mau kompromi.

Jangan juga menuduh sembarangan kalau perusahaan itu pasti menggunakan "pelicin" untuk memuluskan aksinya. Tuduhan seperti ini serius, kecuali punya buktinya. Paparkan bukti baru bicara. Bukankah kita harus adil sejak dalam pikiran?

Komentar

Loading...