Menyeruput Kopi Terbalik Gaya Meulaboh

Menyeruput Kopi Terbalik Gaya Meulaboh
Kupi khop di Warung Pante Kenangan, Meulaboh | KBA.ONE/Reza Gunawan

Putra kurang paham dari mana kebiasaan minum kopi dengan gelas telungkup itu muncul. Namun, kata dia, kebiasaan seperti itu sudah lama ada sejak lama di daerah yang dijuluki Bumi Teuku Umar tersebut.

KBA.ONE, Meulaboh - Angin sepoi dari laut menggoyang helai-helai atap rumbia di beberapa pondok yang berjejer di bantaran sungai, Ahad, 19 November 2017. Pondok-pondok itu disesaki pengunjung. Posisinya dekat jembatan. Air sungai yang agak butek mengalir di bawahnya.

Namun, sungai itu hanya pelengkap. Pengunjung yang datang bukan untuk menyaksikan sungai tapi ingin menikmati kopi dengan cara berbeda. Namanya: kupi khop. Ini kopi yang disajikan dengan cara di luar kelaziman. Gelas berisi kopi diposisikan terbalik, menangkup pada sebuah cawan kecil.

Tak ada petunjuk tertulis bagaimana cara menyeruput kopi ini. Namun, umumnya sebelum diminum, pangkal gelas harus terlebih dulu ditiup. Tujuannya, agar kopi keluar dari celah-celah gelas ke atas cawan. Jika tak mahir, kopi akan bercampur ampas kopi yang mengumpul di dasar gelas.

Butuh perjuangan memang untuk meminumnya. Para pemula disarankan memakai pipet untuk menyeruput kopi. Ini pun harus ekstra hati-hati jika tak mau yang tersedot adalah ampas kopi. “Minum kopi seperti ini sudah menjadi khas warga Aceh Barat, Bang,” ujar Putra, pekera di warung kopi Pante Kenangan itu, salah satu tempat yang menjual kupi khop tersebut. Warung ini berada di Gampong Suak Reubee, Kecamatan Johan Pahlawan, di tepi kota Meulaboh.

Peracik kupi khop

Putra kurang paham dari mana kebiasaan minum kopi dengan gelas telungkup itu muncul. Namun, kata dia, kebiasaan seperti itu sudah lama ada sejak lama di daerah yang dijuluki Bumi Teuku Umar tersebut. "Ini kopi orang pesisir. Minumnya seperti ini (gelas ditelungkupkan) supaya jangan cepat dingin dan tidak masuk kotoran binatang. Bubuknya juga tinggal di dalam gelas, sedangkan airnya keluar ke piring, jadi lebih enak diminum tidak bercampur bubuk kasar, cuma bubuk halus,” jelasnya.

Kopi yang disajikan, kata putra, sama dengan daerah lain di Aceh yaitu kopi tubruk atau kopi kampung. “Ada juga di desa-desa lain, termasuk Nagan Raya. Tetapi mereka minum kopi tubruknya tidak dibalik, disajikan seperti biasa saja, namun dengan kopi yang sama.” ujarnya.

Warung Pante Keunangan yang berada di samping Krueng Batee Puteh itu menjual kopi khop panas segelasnya Rp6 ribu. Sedangkan yang ditambahkan es Rp10 ribu. Jika ditambah susu, kopi khop panas harganya Rp8 ribu. Sedangkan yang dingin hanya Rp13 ribu.

Selain kopi, pengunjung juga dapat menikmati penganan ringan lainnya seperti mie Aceh, rujak, serta tahu goreng. “Untuk lakunya tidak tentu. Alhamdulillah orang ada aja yang datang, baik orang Meulaboh maupun orang luar. Dari pagi sampai sore, kisaran 400 sampai 500 gelas lakunya. Malam kami tidak buka."

Komentar

Loading...