Menjaga Bisnis Cincau Hingga Tiga Generasi

Menjaga Bisnis Cincau Hingga Tiga Generasi
Karyawan Yuk Fa tengah mengaduk olahan cincau. | Foto: Nurnisa.

Bisnis cincau ini sudah cukup lama, sekitar 60 tahun lalu. Dimulai dari nenek saya dulu. Kemudian diturunkan ke ayah saya, lalu ayah menurunkannya kepada saya untuk mengelola bisnis cincau ini. | Yuk Fa.

KBA.ONE, Banda Aceh – Ingat kapan terakhir kali Anda menikmati es cincau? Saat sahur atau berbuka? Biasanya, di bulan Ramadan seperti sekarang ini, mengonsumsi cincau atau disebut juga lengkong, meningkat tajam karena menjadi bagian dari menu berbuka puasa.

Tapi tahukah Anda dari mana produk dengan tekstur kenyal ini diperoleh? Adalah Yuk Fa, 61 tahun, warga Gampong Laksana, Banda Aceh, salah seorang pengusaha yang sudah puluhan tahun menggeluti bisnis cincau ini. Bisa dibilang, cincau yang kini banyak dijual di Banda Aceh merupakan produk miliknya.

“Bisnis cincau ini sudah cukup lama, sekitar 60 tahun lalu. Dimulai dari nenek saya dulu. Kemudian diturunkan ke ayah saya, lalu ayah menurunkannya kepada saya untuk mengelola bisnis cincau ini,” ujar Yuk Fa kepada KBA.ONE ketika mengunjungi pabrik cincaunya, Rabu, 22 Mei 2018. 

Kesibukan di pabrik cincau Yuk Fa. | Foto: Nurnisa.

“Jadi, usaha cincau ini sekarang dijalankan generasi ketiga,” kata lelaki keturunan Tionghoa tersebut. Untuk kegiatan di pabrik, bila hari biasa, Yuk Fa dibantu dua orang karyawannya. Selama bulan Ramadan ini Yuk Fa menambah pekerjanya hingga 20 orang,

Menurut Yuk Fa, bahan campuran es berwarna hitam ini memang sangat laris pada bulan Ramadan. Cincau memang cukup populer menjadi bagian dari menu minuman berbuka puasa untuk mendinginkan perut setelah seharian menahan lapar dan haus.

“Selain rasanya yang khas, cincau ini juga memiliki khasiat yang baik untuk pencernaan dan juga sebagai obat panas dalam,” lanjut Yuk Fa.

Proses pembuatan cincau tidak terlalu sulit. Hanya saja untuk mendapatkan bahan baku berkualitas yang sulit. Selama ini Yuk Fa mendatangkan bahan baku berupa daun cincau dari Jimbaran, Solo, Jawa Tengah. 

Cincau tiga generasi Yuk Fa. | Foto. Nurnisa

Untuk pembuatannya melalui proses perebusan daun cincau dalam tiga tahap, memakan waktu sekitar tiga jam. Daun cincau diperoleh dari tanaman janggelan atau dalam bahasa latin disebut palustris. Jenis tanaman ini hanya tumbuh di daerah tertentu.

“Daun cincau ini tidak ada di Aceh, yang ada di Tanah Karo, Sumatera Utara. Namun itupun kurang sedap. Jadi, kami pesan langsung dari Solo sana. Sekali pesan itu sampai 5 ton,” ujarnya.

Permintaan cincau di bulan Ramadan, kata Yuk Fa, memang meningkat drastis, jika biasanya hanya menerima pesanan 50 sampai 100 potong/cetakan perhari, di bulan Ramadan ini bisa mencapai hingga 500 potong. 

Daun Cincau dan tekstur cincau. | Foto: jualcincau.com

Pemesan cincau, selain di Banda Aceh, datang dari berbagai daerah di Aceh. Ada dari Meulaboh, Nagan Raya dan Tapaktuan. Yuk Fa mengatakan cincau produksinya dapat bertahan lama jika disimpan di tempat yang bersih atau di lemari es.

Apakah Anda sudah minum es cincau hari ini? Jika belum, pastikan minuman anti panas dalam ini terhidang saat Anda berbuka puasa!  

CARA MEMBUAT CINCAU

Bahan-bahan yang diperlukan antara lain :

  • Daun janggelan atau daun cincau kering.
  • Tepung tapioka secukupnya.
  • Bahan untuk membantu mengeluarkan zat pati.
  • Air matang secukupnya.

Caranya adalah sebagai berikut :

  1. Cuci terlebih dahulu daun janggelan kering dengan air bersih.
  2. Rebus 1 kg daun janggelan dengan NaOH di dalam 20 liter air hingga berkurang setengahnya.
  3. Ambil sari patinya dengan menggunakan saringan.
  4. Setelah dingin, campurkan dengan tepung tapioka dan aduk hingga merata.
  5. Rebus hingga mendidih dan mengental kemudian tuangkan ke dalam loyang.
  6. Tunggu sampai dingin dan cincau hitam siap digunakan.

Komentar

Loading...