Kuliner Ramadan

Merawat Warisan Indatu Lewat Ie Bu Peudah

Oleh ,
Merawat Warisan Indatu Lewat Ie Bu Peudah
Bahan membuat ie bu peudah | Mila Zarni

Pembuatan ie bu peudah kini tak lagi menggunakan 44 jenis daun. Mirip dengan bahan pembuatan sambai on peugaga.

KBA.ONE - “Soe peugah neuk, lon jeut peuget bumbu ie bu peudah? (siapa bilang nak, saya bisa meracik bumbu ie bu peudah?),” ujar Mak Bang, Jumat, 9 Juni 2017. Perempuan bernama asli Ramlah ini dikenal sebagai pembuat ie bu peudah di Gampong Lambhuk, Banda Aceh.

Ie bu peudah salah satu kuliner khas Aceh. Penganan serupa bubur ini kerap ditemui saat Ramadan.

Tamong neuk (masuk nak),” Mak Bang dengan ramah menyilakan masuk. Mukanya masih menyiratkan kebingungan. Ia heran dari mana KBA memperoleh informasi bahwa dirinya adalah pembuat ie bu peudah. Setelah dijelaskan, barulah Mak Bang mengerti.

Ramlah meracik sendiri bumbu ie bu peudah sejak dulu, sebelum suaminya meninggal. Awalnya ia hanya membuat untuk keluarganya. Diman, anak Ramlah satu-satunya, sangat menyukai ie bu peudah. Diman telah menikah dan tinggal di Medan.

Setiap Ramadan, Ramlah selalu menyajikan ie bu peudah dalam daftar menu buka puasa. Sesekali, ia membagikan masakannya itu untuk tetangga.

Tak dinyana, ie bu peudah buatan Ramlah membuat lidah para tetangga ketagihan. Sejak saat itu tetangga banyak yang bertanya, Ramlah memakai bumbu apa dan beli di mana. Sejak itu pula banyak tetangga Ramlah minta dibuatkan bubur tersebut. Ramlah menyanggupi. Sekadar mengganti uang membeli bumbu, ia menjual ie bu peudah satu mok Rp15 ribu.

Mok merupakan satuan takaran tradisional yang dipakai orang Aceh sejak dulu untuk menghitung jumlah beras atau padi. Perbandingannya, satu are mencapai enam mok. Atau, satu are jumlahnya dua liter.

Kini, setelah banyak pesanan, sepekan sebelum puasa Ramlah telah membuat ie bu peudah. Soalnya, sebelum Ramadan mulai banyak pesanan dari tetangga. Ada yang memesan satu mok, ada pula yang lebih.

Nyoe neuk bumbu yang kaleuh ibu peuget (Ini nak bumbu yang sudah ibu buat),” ujar Ramlah.

Bumbu ie bu peudah racikannya, kata Ramlan, tak selengkap dulu. Konon, kata Ramlah, indatu Aceh dulu saat membuat bumbu ie bu peudah menggunakan 44 dedaunan.

Sekilas, bumbu ini hampir mirip dengan bahan pembuatan sambai on peugaga. Sambal khas Aceh ini juga dibuat dari 44 jenis daun. Namun, belum jelas apakah 44 daun untuk bumbu ie bu peudah sama persis yang digunakan saat membuat sambai on peugaga.

“Sekarang susah sekali mencari 44 macam daun itu, nak. Beda dengan orang dulu. Orang kampung kalau nggak ada 44 daun itu, mereka nggak akan buat bumbu ie bu peudah,” ujar Ramlah.

Biar pun tak selengkap dulu, Ramlah tetap setia membuat ie bu peudah. “Dari pada tanyoe gadoeh makanan khas Aceh, yang kana dari nenek moyang tanyoe jameun (Dari pada kita kehilangan makanan khas Aceh, yang ada sejak nenek moyang dulu),” ungkapnya.

“Walaupun cuma limong atau nam on kaye yang na, tetap tapeuget bumbu nyan. Nak bek gadoeh budaya nyan neuk. Peu lom di bulen puasa, kiban pun beuna ie bu peudah wate buka puasa (Walaupun cuma lima atau enam jenis daun yang ada, tetap dibuat bumbu. Biar tidak hilang budaya kita nak. Apalagi bulan puasa, bagaimana pun ie bu peudah harus ada saat buka puasa).”

Dedaunan yang dapat diperoleh Ramlah sekarang seperti daun saga, daun jeruk purut, balek angen, bambang, jemblang, teumiti, dan daun zhahib ha. Daun-daun tersebut dijemur dua atau tiga hari, agar keringnya sama rata. Setelah itu digongseng selama lima menit hingga wangi.

Kemudian, kata Ramlah, persiapkan juga bahan seperti beras, biji jagung, kacang hijau, dan anak kacang panjang. Ini bahan tambahan untuk bumbu.

Setelah semua bahan disiapkan, Ramlah menggunakan lesung untuk menumbuk bahan bumbu. Sebelum bahan disatukan, Ramlah menyiapkan kunyit, jahe, bawang putih dan lada. “Ini bahan untuk memberi rasa pedas dalam bumbu,” ujarnya.

Lalu, semua bahan disatukan dan digiling. “Jangan terlalu licin, kasar sedikit, biar nanti ketika dimasak, bumbu rempah itu terasa di mulut.” Usai digiling, bahan bumbu dijemur selama 15 menit di terik matahari. Tujuannya, kata Ramlah, supaya bumbu tidak lembab dan tahan lama jika disimpan.

Soal bumbu ini diakui Fauziah. Ia kerap membeli ie bu peudah buatan Ramlah. Terkadang, Fauziah juga membuat sendiri masakan tersebut. Ibu tiga anak ini juga pernah membuat ie bu peudah ketika ada arisan di rumahnya. “Bumbu ie bu peudahnya harus ada. Jika tidak ada, bukan ie bu peudah namanya, tapi kuah lemak biasa,” jelas Fauziah, Sabtu, 10 Juni.

Ia juga menambahkan sayur seperti daun melinjau, daun jeruk, pisang, jagung, ubi jalar, kacang, daun ubi, dan bunga serta daun kates. “Ini yang membuat ie bu peudah terasa beda, karena ada pahit-pahitnya,” ujar Fauziah.

Semua bahan itu dipotong kecil-kecil, kecuali jagung cuma diiris-iris. “Jangan besar-besar kali potongnya, kecil-kecil aja, supaya bumbunya terisap semua ke sayur-mayurnya,” ujar Fauziah.

Setelah semua selesai, siapkan belanga serta campurkan bahan-bahan yang sudah disiapkan. “Tambahkan sedikit air untuk mematangkan sayur ini terlebih dahulu, baru kita tambahkan santan, aduk merata. Butuh waktu setengah jam atau lebih baru boleh disajikan.”

Komentar

Loading...