Merawi Sejarah Marawi

Merawi Sejarah Marawi
Gerbang Kota Marawi | zamboanga.com

Marawi satu-satunya Kota Islam di Filipina. Dulu bernama Dansalan yang bermakna “titik tujuan”.

KBA.ONE - Pertempuran antara kelompok-kelompok sempalan Islamic State (ISIS) dengan aparat keamanan Filipina pada pekan lalu melambungkan nama Kota Marawi.

Jauh sebelum itu, Marawi telah dikenal sebagai salah satu kota tempat berkembangnya Islam di Filipina. Kota tersebut didominasi umat Muslim sejak agama Islam disebar di sana di abad ke-14.

Marawi City merupakan ibu kota Provinsi Lanao del Sur di Pulau Mindanao yang masuk ke dalam Wilayah Otonomi Muslim Mindanao atau The Autonomous Region in Muslim Mindanao(ARMM). Kota seluas 87,55 kilometer persegi tersebut memiliki 96 barangay; daerah administratif terkecil yang dipakai di Filipina. Barangay setingkat kecamatan di Indonesia.

Marawi terletak di tepi danau Lanao (Ranao) yang indah. Sementara masyarakatnya yang juga disebut sebagai Maranaos, bercakap-cakap menggunakan bahasa Maranao. Namun, ratusan tahun lalu, sebagian besar orang Marawi menggunakan bahasa Melayu. Orang-orang Maranao sendiri sedarah dengan bangsa Moro.

Marawi terletak di bagian Selatan Filipina. Islam masuk ke wilayah itu, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada 1380. Salah seorang penyebarnya adalah ulama ahli Fikih Sharif Karim al-Makhdum atau Karimul Makhdum.

Namun, menurut cendekiawan Muslim Filipina, Ahmed Alonto, Karimul Makhdum menyebarkan Islam ke Filipina pada 1280. Setelah ia tiba, menyusul para pedagang Arab dan pendakwah yang bertujuan menyebarkan Islam.

Kedatangan Spanyol
Sekitar 1521 setelah Islam berkembang, tibalah orang-orang Spanyol yang bergabung dalam sebuah ekspedisi pimpinan Ferdinand de Magellans. Di balik ekspedisi itu terselubung watak kolonialisme Spanyol. Niat menjajah ini dipicu oleh kondisi dunia pada awal abad 15 hingga 16. Ketika itu, bangsa-bangsa Barat berlomba-lomba dalam bidang sains dan penemuan tempat-tempat baru.

Spanyol mencengkeram kukunya di Filipina 300 tahun lebih. Namun, hal itu diperoleh setelah susah payah menaklukkan perlawanan dari pribumi. Berbeda dengan kawasan Utara, Filipina Selatan terutama di Mindanao dan Sulu, Spanyol baru bisa berkuasa penuh pada 1876. Pada tahun ini, Kesultanan Sulu takluk tapi Spanyol tetap dianggap gagal menundukkan kerajaan Islam tersebut.

Saat menjajah, Spanyol tak hanya menerapkan politik pecah belah dan kuasai tapi juga mengusung misi kristenisasi. Untuk memberikan cap negatif, orang-orang Islam dijuluki “Moor” yang diartikan sebagai orang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). “Moor” ini merujuk kepada “Maroko”, yang menjadi jembatan masuknya Islam ke Spanyol. Dari “Moor” inilah kemudian muncul sebutan Moro.

Danau Lanau di Marawi | zamboanga.com

Pada 1898, Spanyol menjual Filipina secara sepihak kepada Amerika Serikat. Setelah mendapatkan Filipina, Amerika menjanjikan kebebasan beragama, mengungkapkan pendapat, dan pendidikan bagi Bangsa Moro. Perjanjian ini dituangkan ke dalam Traktat Bates.

Untuk meredam perlawanan Bangsa Moro yang tak pernah surut, Amerika lalu menyatukan Mindanao dan Sulu pada 1903 menjadi Provinsi Moroland. Penyatuan ini juga salah satu strategi menggabungkan ekonomi Moroland ke dalam sistem kapitalis.

Salah satunya, diberlakukan Land Registration Act No. 496--hukum tanah warisan jajahan Amerika. Hukum ini mengharuskan pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis dan ditandatangani di bawah sumpah. Lewat hukum ini, secara legal tanah-tanah adat dan ulayat milik Muslim Moro disita Amerika.

Perlawanan Bangsa Moro
Marawi City sebelumnya dikenal dengan nama Dansalan yang bermakna “titik tujuan”. Ada referensi menyebutkan, nama ini pemberian Spanyol.

Pada 1907, Dansalan resmi dijadikan kotamadya di bawah Dewan Legislatif Provinsi Moroland. Setelahnya, Dansalan dinyatakan sebagai ibu kota Provinsi Lanao.

Yang terjadi selanjutnya, perlawanan Bangsa Moro terhadap Amerika tak pernah surut. Amerika menghabiskan waktunya hingga 1913 untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan Bangsa Moro.

Ketika Filipina mendapatkan kemerdekaan dari Amerika pada 1946, muncul front-front perlawanan baru seperti Muslim Independent Movement (MIM) dan Moro Liberation Front (MLF). Kelompok ini muncul karena keinginan Bangsa Moro mendirikan negara sendiri, terpisah dari Filipina.

Di satu sisi, munculnya kelompok perlawanan itu tak terlepas dari sikap represif pemerintah Filipina ketika Ferdinand Marcos berkuasa sejak 1965 hingga 1986.

Sementara itu, MLF terpecah-pecah menjadi Moro National Liberation Front (MNLF) dan Moro Islamic Liberation Front (MILF). Sesudah itu, MNLF yang dipimpin Nur Misuari pecah lagi menjadi MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani.

Abu Sayyaf eksis hingga kini dan telah dicap sebagai kelompok teroris. Mereka berbeda prinsip dengan Nur Misuari yang memimpin ARMM.

Menjelang Marcos lengser, Dansalan diubah nama menjadi Islamic City of Marawi atau “Kota Islam Marawi” setelah diusulkan melalui RUU Parlemen 261 pada April 1980. Namun, Dansalan tetap menjadi salah satu nama Barangay di Marawi. Hingga kini, Marawi menjadi satu-satunya Kota Islam di Filipina.

Komentar

Loading...