Merayakan Hari Film tanpa Bioskop

Merayakan Hari Film tanpa Bioskop
Nonton bareng di Bundaran UIN Ar-Raniry, Banda Aceh |Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Merayakan Hari Film Nasional (HFN) yang diperingati setiap tanggal 30 Maret, Aceh Menonton bekerjasama  dengan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP)  Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menggelar nonton bareng di Bundaran UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Sabtu, 30 Maret 2019.

Kegiatan yang difasilitasi Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, ini menayangkan lima judul film berdurasi pendek karya komunitas film di Aceh.

Jika biasanya nonton film dilakukan di bioskop atau dalam gedung tertutup, kali ini Aceh Menonton dan HMP KPI menayangkan film tersebut di pelataran jalan kampus UIN Ar-Raniry.

Layar putih yang menjadi telivisi besar mulai menampilkan film-film pendek, pengunjung mulai berjalan mendekat, ada  yang duduk lesehan tepat di depan layar. Ada pula yang memilih duduk di sepanjang trotoar jalan. Tidak ada kursi empuk apalagi Air Conditioner (AC).

Film pertama yang ditayangkan adalah film berjudul Bajeung, sebuah film persembahan dari Fisuar, dilanjutkan dengan Asa dan Masa karya Komunitas Film Trieng, Bocah Rapa’i Plok karya Aceh Documentary, Suara Pinggiran dari Komposisi dan diakhiri dengan Redaksi Kupi Beungoh dari Alas Kaki Films.

Salah satu Programmer Aceh Menonton, Teniro,  mengatakan bahwa kegiatan ini mengangkat tentang pergerakan film komunitas yang ada di Aceh.

Ia mengibaratkan gerakan ini sebagai gerakan bawah tanah yang nyata. Artinya, mereka bergerak perlahan-lahan tapi dapat mengadakan pemutaran-pemutaran film, diskusi-diskusi film dan juga dapat memproduksi ekshibisi.

“Acara ini dibarengi juga dengan kegiatan hajatan anak-anak komunitas perfilman di Aceh yang diisi dengan diskusi bersama ketua-ketua komunitas film Aceh. Diskusi dilakukan setelah pemutaran film-film pendeknya,” ujarnya.

Teniro juga menyampaikan bahwa acara pada malam ini bukan pula sekadar untuk memperingati Hari Film Nasional dan kegiatan hajatan bersama anak-anak komunitas film di Aceh saja. Tapi juga dimaksudkan agar komunitas film ini dapat berbaur dengan masyarakat umum.

Selain itu, jelas Tahiro, agar masyarakat tahu seperti inilah bentuk-bentuk kegiatan yang dibuat oleh anak-anak komunitas film. Sekaligus menghadirkan bioskop non komersil di Aceh.

Aceh Menonton, katanya, ingin merebut ruang-ruang gelap yang ada di Aceh seperti universitas, jembatan maupun tempat-tempat lain yang tidak bisa dicapai oleh Industri perfilman seperti bioskop komersil yang ada di Jakarta.

"Bioskop yang ada di sana tidak dapat dinikmati oleh semua orang, maka kami di sini menginginkan semua orang berhak untuk menikmati film-film Indonesia terutama film-film Aceh,” jelasnya.

Muhammad Zikrullah, Ketua HMP KPI menyampaikan pemutaran film ini sebagai bentuk media dakwah yang bersifat audio visual. Baginya, dakwah tidak selalu harus di atas mimbar.

“Aceh Menonton berkolaborasi dengan kita (HMP KPI), yang pertama itu kita juga punya komunitas film di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Diharapkan, nonton bareng ini juga menjadi salah satu media dakwah. Karena dakwah nggak selalu harus di atas mimbar,” katanya.

Stigma negatif, bahwa film merupakan suatu hal yang dianggap sia-sia dan tidak memiliki nilai pendidikan, pelan-pelan akan hilang. Apalagi kegiatan ini justru dapat menjadi tolak ukur untuk membentuk penilaian yang lebih rasional.

Penayangan film Bocah Rapa’i Plok misalnya, menjadi salah satu tayangan yang bersifat edukasi, sehingga jangkauannya luas dan umum. Tidak ada batasan usia untuk disaksikan.

Begitupun empat judul film lainnya, yang sifat maupun tujuannya tidak hanya sebagai hiburan.

“Di Aceh sendiri, kalau bicara tentang film itu sudah mulai hilang. Jadi pada peringatan Hari Film Nasional ini, Aceh Menonton dan komunitas film lainnya mengangkat kembali agar film di Aceh mulai dikenal lagi,” katanya. ***

Komentar

Loading...