Mitigasi Lemah, Pemerintah dan Masyarakat Aceh seperti Tak Belajar

Mitigasi Lemah, Pemerintah dan Masyarakat Aceh seperti Tak Belajar
Peneliti TDRMC Muksin Umar. Foto: KBA/Reza Gunawan.

Tim reaksi cepat akan membantu masyarakat saat bencana terjadi di Aceh.

KBA.ONE, Banda Aceh - Meski berulangkali mengalami gempa bumi, pemerintah dan masyarakat dinilai tidak belajar. Hal ini terlihat jelas dari ketiadaan perubahan sikap dan mitigasi bencana. Padahal mitigasi, terutama untuk gempa bumi dan tsunami, harusnya menjadi satu fokus perhatian pemerintah.

Peneliti Pusat Kajian Tsunami dan Mitigasi Bencana atau TDRMC Unsyiah, Muksin Umar, mengatakan saat ini, bangunan yang ada tidak dapat menampung masyarakat di kawasan yang terkena bencana tsunami. Apalagi, saat ini, jumlah penduduk di kawasan pesisir terus bertambah.

“Seharusnya jalur evakuasi juga harus dibenahi dan diperjelas. Sehingga masyarakat mudah mengelamatkan diri saat gempa bumi dan tsunami terjadi. Kita tidak bisa menghilangkan gempa, tetapi hanya bisa mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat bencana itu,” ujar Muksin Umar kepada KBA, Rabu, 27 Desember 2017.

Muksin juga mengatakan Pemerintah Aceh perlu membentuk tim reaksi cepat, yang dapat memberikan pertolongan dan menangani masyarakat saat bencana terjadi di Aceh. Termasuk memberikan informasi kepada masyarakat dengan nomor telepon khusus. Apalagi saat bencana terjadi, kepanikan akan terjadi. Muksin mengatakan tidak dapat mengukur kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Situasi saat simulasi, yang digelar terencana, akan sangat berbeda dengan saat bencana itu datang.

Karena itu, perlu tim yang bekerja cepat untuk membantu masyarakat saat menghadapi bencana. Minimal, kata Muksin, masyarakat tahu pihak yang dihubungi saat gempa bumi terjadi. Dia juga berharap pemerintah menguatkan fungsi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

“Lembaga ini penting untuk penanggulangan bencana dan pengurangan risiko serta dampak yang ditimbulkan akibat bencana di Aceh,” kata Muksin.

TDRMC menemukan sejumlah fakta baru yang “mengancam” Aceh. Selain pertemuan dua lempeng Indo Australia-Eurasia, di daratan, juga ditemukan sejumlah sesar dari kawasan tengah hingga utara serta barat Aceh. Seperti sesar Seulimuem mengarah ke Sabang, Sesar Batee di wilayah barat Aceh, Sesar Samalanga; mulai dari Aceh Tengah sampai ke utara (Samalanga), serta sesar Pidie Jaya.

Dari kajian TDRMC, kata Muksin, terdapat temuan baru yaitu sesar aktif di wilayah utara Aceh, yaitu sesar Lhokseumawe. Selain itu di Sesar Aceh Tengah juga terdapat banyak cabang, satu di antaranya mengarah ke utara Aceh. “Ini belum termasuk sesar utama yang membentang di dasar bumi dari barat hingga timur Sumatera,” kata Muksin.

Komentar

Loading...