Motif Pelaku Penculikan di Takengon untuk Mengeksploitasi Seksual lalu Dijual di Medsos

Motif Pelaku Penculikan di Takengon untuk Mengeksploitasi Seksual lalu Dijual di Medsos
Kapolres Aceh Tengah, AKBP Nurochman Nulhakim. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

KBA.ONE, Takengon – Polisi kembali memberi pernyataan terkait motif yang dilakukan tersangka kasus penculikan anak di Kabupaten Aceh Tengah, tersangka berinisial K, 25 tahun, tidak melakukan kontak fisik terhadap korban N, 12 tahun.

Tersangka hanya ingin mengeksploitasi korban, lalu mengkomersilkan di jejaring media sosial. Pada saat hendak ia merekam momen itu, gawai milik pelaku tidak mendukung hingga akhirnya gagal.

“Korban akan dijadikan sebagai objek seksual sekaligus sebagai objek komersial. Namun, tersangka belum memiliki jaringan kemana akan dijual. waktu itu tidak didukung juga oleh handphone miliknya akhirnya bingung,” ungkap Kapolres Aceh Tengah, AKBP Nurochman Nulhakim, Sabtu 11 September 2021.

Dari hasil pemeriksaan kata Kapolres, tersangka tidak ada niat untuk memperkosa korban, ia hanya ingin mengeksploitasi korban untuk menghasilkan uang. Bahkan tersangka dalam melancarkan aksinya itu masih dalam posisi belajar.

“Si tersangka ini masih belajar, tidak memiliki jaringan khsusus, bahkan ia mempelajari itu sewaktu berada dalam sel tahanan. Dia berniat menjual video seksual secara daring, bahkan saat melakukan aksinya korban sempat memberontak,” ujar Nurochman.

Tersangka residivis kasus pencabulan dan pencurian dengan kekerasan (perampokan) itu dalam melancarkan aksinya tidak melakukan pemerasan terhadap keluarga korban. “Tidak sampai ke situ, karena kondisi ekonomi keluarga bukan orang yang berada,” terangnya.

Pihaknya saat ini telah berkoordinasi dengan tim Psikolog Polda Aceh dan telah bersurat ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk melakukan penanganan ekstra terhadap traumatik yang dialami korban.

“Korban sedang dalam masa pemulihan, secara fisik sudah diobati secara psikis harus bertahap, kita sudah berkoordinasi dengan tim KPAI dan tim psikologi polda supaya si korban siap untuk kembali ke lingkungan,” kata Nurochman.

Tersangka K saat ini sedang ditahan di Rutan Polres Aceh Tengah, sedangkan istrinya, W saat ini dititip di Rutan Takengon.

Atas perbuatanya itu, kedua tersangka diduga telah melakukan tindak pidana jarimah pelecehan seksual, perlindungan anak, kejahatan terhadap kemerdekaan seseorang, gabungan perbuatan yang dapat dihukum sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 47 Qanun Aceh nomor 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat Jo Pasal 76 C Jo Pasal 80 Ayat (1).

Undang undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak Jo Pasal 332 Ayat (1) ke (1) Jo Pasal 65 Jo Pasal 55 Jo Pasal 56 KUHPidana. Selain pidana penjara, tersangka juga akan dicambuk didepan umum sebanyak  200 kali.

“Ini pasal yang sementara disangkakan terhadap tersangka, kalau untuk istrinya hanya dijerat dengan undang-undang perlindungan anak,” tutup Kapolres Aceh Tengah yang baru menjabat itu.

Anara

Komentar

Loading...