MPU Aceh: Jika Darurat, Vaksin Mengandung Enzim Babi Diperbolehkan - Daerah - Kantor Berita Aceh (KBA)

MPU Aceh: Jika Darurat, Vaksin Mengandung Enzim Babi Diperbolehkan

MPU Aceh: Jika Darurat, Vaksin Mengandung Enzim Babi Diperbolehkan
Ilustrasi

Menurut Lem Faisal, untuk mengindari penyakit difteri yang kini mewabah di Aceh, masyarakat diminta segera memberikan imunisasi bagi buah hati mereka.

KBA.ONE, Banda Aceh – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama atau MPU Aceh, Faisal Ali, mengimbau masyarakat tidak perlu takut memberikan imunisasi kepada bayi. Dari kajian MPU, tidak ditemukan adanya vaksin mengandung enzim babi selain pada polio tetes. “Sepengetahuan kami, (vaksin) yang lain belum ada ditemukan yang menandung enzim babi. Cuma polio tetes saja yang terkontaminasi, karena prosesnya harus menggunakan bahan itu. Sedangkan yang suntik tidak ada,” ujar Faisal yang akrab disapa Lem Faisal kepada KBA.ONE, Selasa, 12 Desember 2017.

Menurut Lem Faisal, untuk mengindari penyakit difteri yang kini mewabah di Aceh, masyarakat diminta segera memberikan imunisasi bagi buah hati mereka. “Kalau tidak ada bukti, tidak perlu dengar info yang tidak jelas. Silakan memberikan imunisasi kepada anak untuk mencegah dan menghindari penyakit yang berbahaya. Imunisasi difteri tidak mengandung enzim babi,” ujarya.

Sementara itu mengenai vaksin polio yang mengandung enzim babi, Lem Faisal mengatakan hal itu juga dapat diberikan jika dalam konteks darurat. “Vaksin polio ada dua, yang tetes dan suntik. Yang mengandung enzim babi itu yang tetes, kalau yang suntik tidak. Jadi masyarakat gunakan yang suntik saja. Jika pun harus menggunakan yang tetes, kalau sifatnya hajat dan darurat, maka diperbolehkan, itu tidak haram,” jelasnya.

Soal darurat ini juga pernah ditegaskan MPU Aceh dalam fatwanya pada 22 April 2015. Di dalam fatwa bernomor 3 tahun 2015 tentang vaksin polio tetes, MPU menyebutkan vaksin polio tetes bagi balita adalah virus yang diambil dari penderita polio, dikembangkan dengan media ginjal janin kera berekor panjang yang berumur 120 hari, lalu dipisahkan dengan menggunakan tripsin (enzim babi). "Vaksin polio tetes adalah mutanajjis. Penggunaan vaksin polio tetes dalam kondisi darurat adalah dibolehkan," sebut MPU.

Namun, di dalam fatwa itu, MPU mengharapkan pemerintah mengupayakan vaksin polio tetes yang suci. Harapan serupa juga disampaikan kepada para pakar medis yang memproduksi vaksin polio tetes.

Sebelumnya diberitakan, penyakit difteri telah mewabah di Aceh. Sejak Januari hingga Desember 2017, tercatat empat orang meninggal dunia akibat penyakit mematikan ini. Penderita berasal dari Aceh Timur, Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Bireuen. “Penyakit ini mulai mewabah di Aceh mulai Januari 2017 lalu, dimulai di Aceh Timur. Hingga Desember ini, terdapat 93 kasus difteri terjadi di Aceh,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, Abdul Fatah, ketika dihubungi KBA.ONE, Selasa, 12 Desember 2017.

Difteri di Aceh, sambung Abdul Fatah, sudah mewabah di 12 kabupaten kota di Aceh. Kasus terbanyak di Aceh Timur dengan 18 kasus, disusul Pidie Jaya 16 kasus, Banda Aceh 14 kasus, Aceh Utara 11 kasus, Bireuen 11 kasus, Pidie 7 kasus, Aceh Besar 6 kasus, Lhokseumawe 2 kasus, Sabang 2 kasus, Aceh Selatan 1 kasus, dan Aceh Tamiang 1 kasus. “Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Usia terbanyak di atas 14 tahun, yaitu 58 persen. Selanjutnya usia 10-14 tahun berjumlah 19 persen, usia 5-9 tahun 16 persen, serta usia 1-4 tahun sekitar 7 persen,” ujar Abdul Fatah.

Komentar

Loading...