Mudik tak Dilarang, Potensi Uang Berputar Rp316 Triliun

Mudik tak Dilarang, Potensi Uang Berputar Rp316 Triliun
Ilustrasi mudik. | Foto: Cnnindonesia.com

KBA.ONE, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tak melarang masyarakat untuk menjalankan tradisi mudik lebaran pada 2021. Kebijakan ini berlaku meskipun kasus penularan covid-19 masih tinggi.

Apa yang dilakukan pemerintah berbanding terbalik dengan 2020 lalu. Saat itu, pemerintah melarang masyarakat untuk mudik demi menekan penularan corona.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menjelaskan kegiatan ekonomi otomatis akan berputar kembali jika banyak masyarakat yang mudik tahun ini. Masyarakat akan membelanjakan uang untuk membeli baju, makan di restoran, mengunjungi tempat wisata, dan menginap di hotel.

Fithra menyatakan dampak mudik biasanya paling terasa di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Berdasarkan perhitungannya, kegiatan mudik akan menambah produk domestik regional bruto (PDRB) masing-masing daerah signifikan.

Menurutnya, ada potensi penambahan PDRB sebesar Rp144 triliun untuk Jawa Tengah dari kegiatan mudik. Lalu, untuk Jawa Timur sebesar Rp81 triliun, serta Jawa Barat Rp91 triliun. Jika ditotal, maka penambahan PDRB untuk tiga wilayah itu mencapai Rp316 triliun.

"Kenapa ada potensi penambahan PDRB itu? Karena dampak pengganda masyarakat spending (belanja) di tempat tujuannya dan tempat tujuannya menaikkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor, kuliner, hotel, dan pariwisata," terang Fithra kepada CNNIndonesia.com, Selasa 16 Maret 2021.

Namun, potensi penambahan PDRB hanya terjadi jika situasinya sedang normal. Masalahnya, saat ini pandemi covid-19 belum juga mereda.

Alhasil, Fithra berspekulasi ada pengurangan 30 persen-40 persen dari potensi penambahan PDRB saat situasi normal.

Ia berpendapat masyarakat masih akan menahan belanjanya di tempat tujuan mudik karena situasi masih serba tidak pasti dan daya beli masih rendah.

"Dana yang mereka bawa terbatas, karena kan mereka ada prioritas lain selama covid-19, terutama untuk masyarakat kelas menengah dan menengah ke bawah," jelas Fithra.

Senada, Ekonom dari Institut for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan perputaran uang akan meningkat jika pemerintah tak melarang masyarakat mudik tahun ini. Menurutnya, banyak sektor yang akan meraup untung dari kegiatan mudik.

Beberapa sektor tersebut, misalnya transportasi, pariwisata, restoran, ritel dan perhotelan.

Ia menyatakan penjualan di sektor ritel biasanya naik 30 persen-40 persen selama momen mudik dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

"Tapi ini kalau normal. Kalau sedang covid-19 ini mungkin bisa lebih rendah lagi, mungkin 20 persen-30 persen," kata Bhima.

Lalu, ia memprediksi omzet perhotelan melonjak 60 persen selama momen mudik dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

Pasalnya, masyarakat biasanya akan mengunjungi tempat pariwisata untuk berlibur setelah mengunjungi keluarga di kampung halaman.

"Jadi tingkat okupansi bisa naik itu hotel," imbuhnya.

Sementara, untuk restoran-restoran yang berada di tempat peristirahatan atau di kampung halaman juga berpotensi naik hingga 50 persen. Sebab, masyarakat yang melewati tol menuju kampung halaman akan meningkat berkali-kali lipat.

Karena itu, Bhima optimistis kegiatan mudik akan memberikan dampak positif untuk pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021. Menurutnya, ekonomi periode April-Juni 2021 berpotensi di atas 1 persen.

"Kontribusinya sangat signifikan ke pertumbuhan ekonomi," pungkas Bhima.***

Komentar

Loading...