Muzakir Manaf Kritik Kinerja Wakil Aceh di Senayan

Muzakir Manaf Kritik Kinerja Wakil Aceh di Senayan
Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf. Foto: KBA/Reza Gunawan.

“Saya kecewa.”

KBA.ONE, Banda Aceh – Ketua Partai Aceh Muzakir Manaf menilai keberadaan wakil-wakil rakyat Aceh di Dewan perwakilan Rakyat tidak berarti. Mereka, kata Mualem--sapaan Muzakir--tak memperjuangkan kepentingan Aceh di pusat kekuasaan itu.

“Nol sama sekali, rugi kita lima tahun ke belakang,” kata Mualem usai menutup Musyawarah Besar Partai Aceh II, di Banda Aceh, Rabu, 14 Februari 2018. “Saya kecewa.”

Pada Pemilu 2014, Aceh mengirimkan 13 wakil ke DPR dan empat wakil ke Dewan Perwakilan Daerah. Mereka adalah Teuku Riefky Harsya, Muslim, Nasir Djamil, Fadhullah, Muslim Ayub, M Salim Fakhri, Irmawan, Bachtiar Aly, Tagore Abubakar, Khaidir, Anwar Idris, Firmandez, dan Zulfan Lindan.

Sedangkan empat anggota DPD asal Aceh adalah Fachrul Razi, Ghazali Abbas Adan, Sudirman (Haji Uma), dan Rafly.

Menurut Mualem, seharusnya para wakil rakyat Aceh di Jakarta memperjuangkan kepentingan Aceh dan nasib dari realisasi butir-butir perjanjian damai RI-GAM yang dikenal dengan MoU Helsiki, yang menurutnya hingga kini tidak dituntaskan. Menurut dia, UUPA dan Mou Helsinki harus diperjuangkan.

Kondisi ini membuat Mualem kapok. Pada Pemilu 2019, Partai Aceh memastikan setiap kandidat yang akan didudukkan di Jakarta untuk berkomitmen mengawal kepentingan Aceh. Koalisi pasti, kata Mualem, hanya Partai Gerindra meski dia juga terus berkomunikasi dengan partai-partai tergabung dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB).

Mualem juga menegaskan bahwa partainya menargetkan 50 persen dari total jumlah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.

Komentar

Loading...