Nahrawi, Sosok Penting di Balik Penyelamatan Tiga Nelayan Aceh di Thailand

Nahrawi, Sosok Penting di Balik Penyelamatan Tiga Nelayan Aceh di Thailand
Nahrawi (Toke Awi). | KBA.ONE, Komar.

Toke Awi membangun komunikasi aktif dengan Anggota Parlemen Mr Sampan Matyusuh untuk pemulangan tiga nelayan di bawah umur asal Aceh dari Thailand.

KBA.ONE, Banda Aceh - Kisah-kisah “heroik” penyelamatan enam nelayan anak di bawah umur dari Aceh yang ditangkap Royal Thai Navy (RTN) Thailand, Januari 2020, usai sudah. Titik klimaksnya, Pemerintah Aceh secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat karena serius menangani kasus itu.

Tapi, tahukah Anda di balik cerita itu ada sosok penting yang secara diam-diam ikut berjuang menyelamatkan tiga di antara mereka?  Dialah Nahrawi Noerdin, atau biasa disapa toke Awi, seorang pengusaha Aceh.

Sosok dermawan dan murah senyum ini, secara khusus, menumpahkan kisah dramatik di balik upaya pemulangan tiga remaja Aceh itu kepada KBA.ONE. Kisah itu bermula pada awal Februari 2020 ketika toke Awi mendapatkan informasi ada tiga nelayan di bawah umur asal Aceh ditangkap pihak otoritas Thailand.

Seketika hati toke Awi yang saat itu tengah berada di Thailand tergerak mengutus dua rekannya untuk mengawal proses negosiasi di Phang Nga, Thailand, pada 21 Februari 2020. Dua rekan yang dikirim itu adalah staff di perusahaannya, yaitu Dalil Sutekad dan Basyaruddin Muhammad Ali.

"Saat itu tidak ada koordinasi dengan Pemerintah Aceh karena tujuan kami hanya misi kemanusiaan,  bang," kenang toke Awi kepada KBA.ONE, Senin, 20 Juli 2020, di D'Energy Cafe & Restaurant, di Banda Aceh. Kafe ini adalah usaha milik toke Awi.

Melanjutkan cerita, toke Awi menjelaskan proses awal negosiasi berjalan selama dua hari bersama Anggota Parlemen Narathiwat Kerajaan Thailand, Mr Sampan Matyusuh. Ini dilakukan murni dengan cara diplomasi dan negosiasi. “Soal berapa biaya yang dikeluarkan gak usah dibahas ya, itu rahasia saya dengan Allah Swt saja. Karena saya ikhlas,” sela toke Awi ketika disinggung biaya yang dikeluarkan selama proses negosiasi hingga tiba di Aceh.

Diakui toke Awi, berurusan hukum lintas negara tetangga bukan perkara gampang. Membutuhkan waktu,   keseriusan dan kesabaran. Tidak serta merta selesai. Ini adalah usaha diplomasi dan negosiasi yang luar biasa. Berhubung dia sudah beberapa kali menjalin komunikasi bisnis dengan pihak Thailand, maka sedikit banyaknya membantu dalam proses negosiasi.

Setelah jalan diplomasi dan negosiasi ditempuh, toke Awi mulai mendapat kepastian para nelayan di bawah umur itu akan dipulangkan sekitar Maret 2020. Namun, karena pandemi Corona Virus Disease- 2019 (Covid-19) menulari seluruh dunia, perjalanan pulang mereka saat itu terpaksa ditunda.

Kemudian, cerita toke Awi, setelah dibebaskan pada Kamis, 16 Juli 2020, Anggota Parlemen Narathiwat Kerajaan Thailand, Mr Sampan Matyusuh, juga mengirim surat kepada dia untuk update informasi tiga anak di bawah umur yang telah dibebaskan dan dipulangkan ke Aceh.

Dalam surat tersebut, lanjutnya, anggota parlemen Thailand berharap toke Awi memberitahu dan memberikan informasi kepada mereka terkait pembaruan foto saat toke Awi bertemu dengan para nelayan di bawah umur itu.

Mr Sampan, dalam suratnya juga menyampaikan bahwa pemerintah Thailand telah memutuskan untuk memulangkan tiga nelayan di bawah umur hasil negosiasi Nahrawi tersebut. Dan membiarkan tiga nelayan di bawah umur lainnya asal Aceh untuk pulang lebih awal.

Kawat itu, menurut toke Awi, merupakan isyarat baik hati antara Pemerintah Thailand dan Indonesia. Sehingga, total nelayan di bawah umur yang dipulang ke Aceh berjumlah enam orang.

Kepada Nahrawi, Mr Sampan juga meminta untuk mengirimkan salam mereka kepada tiga anak laki-laki Aceh yang dibebaskannya, yaitu, Iqbal, Abdul dan Mawardi, serta kepada seluruh utusan. Ia juga menyampaikan keinginannya  untuk bertemu dengan Nahrawi di Aceh setelah pandemi virus corona selesai.

"Kami berharap dan berdoa agar Anda melanjutkan pekerjaan mulia Anda untuk Aceh dan negara. Semoga Allah SWT selalu memberkati anda dan keluarga," imbuh Mr Sampan dalam surat yang diperlihatkan Nahrawi kepada KBA.ONE.

"Saya melakukan ini tanpa ada kepentingan apapun, ini hanya misi kemanusiaan," aku toke Awi. 

Surat dari anggota parlemen Thailand untuk Nahrawi. | Dok KBA.ONE.

Siapakah sosok Nahrawi Noerdin?

Nahrawi Noerdin adalah pengusaha muda kelahiran Banda Aceh pada 2 Mei 1974. Lelaki 46 tahun ini mengaku sudah mengenal dunia bisnis sejak masih di Sekolah Dasar (SD). Ia lahir dari keluarga pebisnis. Ibunya seorang pebisnis kuliner (kue khas) Aceh sedangkan ayahnya pemilik usaha PT Lon Mita Gah.

Ketika bencana ganda gempa dan tsunami meluluhlantakan daratan Aceh pada Desember 2004 , rumah toke Awi di kawasan pantai Ulee Lheue, Banda Aceh, menjadi saksi bisu keganasan tsunami 16 tahun silam itu.

Rumah bercat kuning itu, cerita toke Awi, salah satu sisa bangunan yang utuh saat musibah. Sehingga,  Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh mengabadikannya sebagai situs monumen musibah tsunami. "Itu rumah saya!" kenang Nahrawi Noerdin dengan nada suara agak tersekat.

Pada Minggu, 26 Desember 2004, di hari musibah terjadi, seluruh keluarga besarnya tengah berkumpul untuk syukuran karena keesokannya, Senin, ibunda toke Awi, yaitu Ny Farida, akan masuk asrama untuk pemberangkatan haji.

“Tapi, Allah Swt berencana lain. Seluruh keluarga saya menjadi korban dalam musibah itu. Semua habis. Saya sebatang kara karena saat kejadian saya sedang tidak berada di rumah," tutur Nahrawi lirih.

Sempat terpuruk dan jatuh bangun, akhirnya Nahrawi bangkit bermodalkan dana Rp25 juta yang seharusnya ia gunakan untuk menghajikan sang bunda. "Saya yakin, asal mau berusaha Insya Allah pasti semua bisa.

Kini, Nahrawi sukses memimpin bisnis rintisan orang tuanya PT Loonmita Gah, yang bergerak di bidang dealer elpiji Pertamina sejak 1980-an. PT Loonmita Gah kembali dihidupkan sebagai anak perusahaan Pasha Jaya mulai 2005.

Sejak saat itu PT Loonmita Gah mendapatkan hasil yang sangat menggembirakan. Bahkan tiga tahun berturut-turut meraih penghargaan The Best Agent of LPG dari Pertamina region I. Perusahaan ini berhasil memasarkan Liquified Petroleum Gas (LPG) 12 kg lebih dari 20 ribu tabung/bulan selama tiga tahun berturut-turut. Sehingga PT Loonmita Gah didaulat menjadi salah satu agen LPG Pertamina terbesar di wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Seiring kebijakan rayonisasi LPG yang dilakukan Pertamina,  PT Pasha Jaya Group juga mendirikan tiga anak perusahaan seperti, PT Nagah Beusare Jaya dan PT Noerman Group yang juga memasarkan LPG 12 kg di Aceh.

Sedangkan untuk menjalankan bisnis pemasaran LPG 3 kg di wilayah yang sama, didirikan PT. Indung Tulot Energy. Yang membanggakan, Indung Tulot Energy yang semula bernama UD Nahrawi ini, pada kuartal pertama 2011 berhasil meraih penghargaan dari Gas Domestik (Gasdom)-Pertamina sebagai 'Agen terbaik' untuk pemasaran LPG 3 kg di Provinsi Aceh.

"Semua pencapaian ini merupakan kerja bersama manajemen dan para karyawan Pasha Jaya Group," ungkap Ketua Umum Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) Aceh ini.

Toke Nawi kini menjabat Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan Gabungan Importir Seluruh Indonesia (GINSI) Aceh. Berangkat dari kesuksesan bisnisnya di berbagai bidang usaha, pengusaha muda Aceh ini kelak memiliki hubungan diplomasi sangat baik dengan beberapa negara tetangga.

Dan, dari sini pula, toke Awi memainkan perannya untuk terlibat memulangkan tiga nelayan di bawah umur asal Aceh yang ditangkap RTN Thailand. Alhamdulillah, diplomasi dan negosiasi itu sukses sebagai bagian dari “heroisme” penyelamatan generasi Aceh yang tak bakal dilupakan oleh sejarah!

Komentar

Loading...