Napak Tilas IUP-OP PT Semen Indonesia Aceh

Napak Tilas IUP-OP PT Semen Indonesia Aceh
ilustrasi.

Oleh: Muhammad Oki Kurniawan dan Muhammad Hardi*

Semen Indonesia Aceh yang selanjutnya disebut SIA merupakan perusahaan patungan yang didirikan berdasarkan perjanjian (joint Venture Agreement) antara PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk dengan PT Samana Citra Agung pada 25 November 2015. Sebagaimana Akta Pendirian Perseroan yang tercantum dalam Salinan Akta Notaris Nomor 40 tanggal 17 Maret 2016 yang dibuat oleh Ny. Leolin Jayanti, S.H., notaris di Jakarta.

SIA berkedudukan di Jalan Banda Aceh Km. 107 No. 100, Kampong Gampong Baro, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Selain itu PT. SIA juga memiliki kantor perwakilan yang berlokasi di Gedung Graha Irama lt. 11, Jalan HR. Rasuna Said Blok X-1 Kav. 1-2, Kuningan Jakarta Selatan. (Sumber: http://semenindonesiaaceh.com/history)

Dalam rencana kegiatan penambangannya, PT SIA terlebih dahulu mendapatkan izin lingkungan melalui Keputusan Gubernur Aceh Nomor 660/BP2T/612/2016 tentang Perubahan Izin Lingkungan Kegiatan Industri Semen di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh dari PT Samana Citra Agung menjadi PT Semen Indonesia Aceh sejak 11 April 2016.

PT SIA pun berhasil mengantongi dua Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP-OP) yaitu Komoditas Batugamping (Limestone) dan Pasir Tufaan (Siltstone) yang berlokasi di Kecamatan Muara Tiga dan Batee, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Dua izin tersebut juga merupakan pengalihan kepemilikan dari PT Samana Citra Agung (SCA) kepada PT SIA.

Hal ini dapat diketahui melalui dua Surat Keputusan Gubernur Aceh; a) Nomor: 545/BP2T/1592/IUP-OP./2016 tentang Persetujuan Perubahan dan Perpanjangan Pertama IUP-OP Komoditas Batugamping (Limestone) atas nama PT SCA menjadi PT SIA seluas 985 hektare, dan b) Nomor : 545/BP2T/1593/IUP-OP./2016 tentang Persetujuan Perubahan dan Perpanjangan Pertama IUP-OP Komoditas Pasir Tufaan (Siltstone) atas nama PT SCA menjadi PT SIA seluas 445 hektare. Masing-masing surat tersebut diterbitkan pada 15 Agustus 2016.

 Dua Dekade IUP tanpa OP

Jauh sebelum melakukan joint venture dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, hingga lahirnya PT SIA, sebenarnya PT SCA telah mengantongi IUP-OP. Izin ini diperoleh sejak dua dekade lalu. Seperti halnya kesepakatan saat ini, di mana PT SCA selaku penyedia lahan dan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk memodali kegiatan operasi produksi dengan membuat perusahaan patungan bernama PT SIA.

Pada 18 Januari 1995 silam, PT SCA pernah menandatangani sebuah kerja sama (Memorandum of Understanding) dengan perusahaan asing asal Kuala Lumpur, Malaysia: Tenggara Capital Berhad.

Dengan cara mirip, PT SCA tetap selaku penyedia lahan dan Tenggara Capital Berhad memodali kegiatan pertambangan dan industri. Dari patungan keduanya, dibentuklah sebuah perusahaan baru bernama PT Semen Muara Batee Tenggara.

Proses penanaman modal untuk kegiatan mulai bergulir. Pada 31 Maret 1997, Sanyoto Sastrowardoyo selaku Menteri Negara Penggerak Dana Investasi yang juga sekaligus Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal melayangkan surat bernomor 248/A.1/1997, kepada Presiden RI yang masa itu dijabat (Alm) Soeharto. Isinya, perihal Permohonan Persetujuan Penanaman Modal Asing antara PT SCA asal Indonesia bekerjasama dengan Tenggara Capital Berhad asal Malaysia yang akan berusaha di bidang industri semen, berlokasi di Kabupaten Pidie, Daerah Istimewa Aceh.

Tak sampai sebulan, tepatnya 11 April 1997, Presiden Soeharto menyetujui permohonan dimaksud dengan mengeluarkan surat bernomor B-201/Pres/4/1997, perihal Persetujuan Penanaman Modal Asing sebagaimana yang diajukan Sanyoto.

Mendapat "lampu hijau" dari presiden, sang menteri langsung menerbitkan Surat Pemberitahuan Tentang Persetujuan Presiden, Nomor 221/I/PMA/1997 tertanggal 21 April 1997 yang ditujukan kepada kedua perusahaan tersebut dengan beberapa syarat dan ketentuan proyek bernomor 3631-06-8624. Surat ini akan batal dengan sendirinya apabila dalam jangka waktu empat tahun sejak tanggal dikeluarkannya surat dimaksud tidak melaksanakan penanaman modal dalam bentuk kegiatan yang nyata berupa pengadaan tanah, pembangunan gedung/pabrik dan pengadaan mesin/peralatan.

Begitu pun ketentuan proyek sebagaimana nomor 3631-06-8624 mengatur beberapa hal di antaranya, rencana produksi semen portland sekitar 1,5 juta ton per tahun dan semen pozzoland sekitar 300 ribu per tahun serta clinker 1,2 juta per tahun.

Untuk pemasarannya, semen portland diekspor ke luar negeri sebesar 600 ribu ton per tahun atau sekira 40 persen dan sisanya dalam negeri. Sementara, semen pozzoland sepenuhnya untuk kebutuhan dalam negeri. Sedangkan hasil produksi clinker sepenuhnya untuk diekspor.

Sangat disayangkan, hingga diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2002 tentang Kelayakan Lingkungan Industri Semen PT Muara Batee Tenggara di Kabupaten Pidie, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam oleh PT Muara Batee Tenggara, tertanggal 2 April 2002, kegiatan operasi produksi (eksploitasi, istilah masa itu) tak kunjung terealisasi. Belakangan diketahui Tenggara Capital Berhad tak lagi berdaya memodali kegiatan karena guncangan krisis moneter melanda Asia saat itu.

PT SCA tak tinggal diam. Berbagai upaya ditempuh untuk mempertahankan perizinan yang salah satunya dengan pengalihan status Kelayakan Lingkungan atas nama PT Muara batee Tenggara kepada PT SCA.

Hingga pada 17 Desember 2010, Kepala Bapedal Aceh Ir Husaini Syamaun MM menyurati Gubernur Aceh Nomor 660/797/4/2010, perihal Permohonan Persetujuan Kembali Kelayakan Lingkungan Industri Semen PT Muara Batee Tenggara (Sekarang PT Samana Citra Agung) di Kabupaten Pidie. Bapedal Aceh menilai, sejak diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2002 di atas, PT Muara Batee Tenggara dianggap belum merealisasikan rencana usaha kegiatan sebagaimana tertuang dalam dokumen AMDAL yang telah disahkan sebelumnya.

Atas dasar perihal dimaksud dan dengan pertimbangan teknis lainnya, pada 11 Januari 2011, Gubernur Aceh masa itu, Irwandi Yusuf, menerbitkan Surat Persetujuan Kembali Kelayakan Lingkungan Industri Semen PT Muara Batee Tenggara (Sekarang PT Samana Citra Agung) di Kabupaten Pidie dengan Nomor Surat 530/1003, yang ditujukan kepada Direktur PT Samana Citra Agung (dahulu PT Muara Batee Tenggara) beralamat di Jalan T. Umar No. 107-109, Banda Aceh.

Kini, untuk kesekian kalinya, izin lingkungan kembali beralih ke PT SIA melalui Keputusan Gubernur Aceh Nomor 660/BP2T/612/2016 tentang Perubahan Izin Lingkungan Kegiatan Industri Semen di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh dari PT Samana Citra Agung menjadi PT Semen Indonesia Aceh yang ditandatangani langsung oleh Gubernur Aceh Zaini Abdullah pada 11 April 2016.

 Jejak Perizinan

Dari panjangnya perjalanan PT SCA mengarungi rencana usaha penambangan dan industri semen di Kecamatan Muara Tiga dan Batee, Kabupaten Pidie, ada beberapa kepingan perizinan yang berhasil penulis dapatkan. Terutama pada izin pertambangan di antaranya sebagai berikut :

Batugamping (Limestone)

1) Rekomendasi Kepala Desa Kareueng, Kecamatan Batee, Kabupaten Dati II Pidie, Nomor 26/KR/1994, Perihal membuka lahan penambangan bahan galian golongan "C" Batu Gamping di kawasan Gle Tongkop, Tanggal 28 Desember 1994.
2) Rekomendasi Kepala Desa Kulee, Kecamatan Batee, Kabupaten Dati II Pidie, Nomor 17/KL/1994, Perihal membuka lahan penambangan bahan galian golongan "C" Batu Gamping di kawasan Gle Guha Tujoh, Tanggal 28 Desember 1994.
3) Rekomendasi Camat Muara Tiga, Kabupaten Dati II Pidie, Nomor 517/29/1995, Hal pengambilan galian golongan "C" Batu Gamping di kawasan guha Tujoh, Tanggal 20 Januari 1995.
4) Rekomendasi Camat Batee, Kabupaten Dati II Pidie, Nomor 545/82/Rek/1995, Hal pengambilan galian golongan "C" Batu Gamping di Gle Tungkop dan Gle Guha Tujoh, Tanggal 25 Januari 1995.
5) Rekomendasi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pidie, Nomor : 545/143/1995, Hal Lokasi Usaha Pertambangan Bahan Galian Batu Gamping seluas ± 1.110 Ha dan Lokasi Pendirian Pabrik Semen di Kecamatan Muara Tiga dan Batee, Tanggal 30 Januari 1995.
6) SK Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Nomor : 1904/2014/DJP/1996, Hal Persetujuan Pemberian SIPD Eksploitasi bahan galian Batu Gamping, Tanggal 24 Juli 1996.
7) SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Nomor : 545/ 726/1996, tentang Pemberian Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksploitasi, Tanggal 10 Oktober 1996.
8) SK Bupati Pidie, Nomor : 709 Tahun 2006, tentang Pemberian Surat Izin Kuasa Pertambangan Daerah (SIPD) Eksploitasi, Tanggal 23 November 2006.
9) SK Bupati Pidie, Nomor : 386 Tahun 2010 tentang Persetujuan Penyesuaian Izin Usaha Pertambangan Operasi - Produksi Batuan Kepada PT. Samana Citra Agung, Tanggal 15 Oktober 2010.
10) SK Gubernur Aceh, Nomor : 545/BP2T/1592/ IUP-OP./2016, tentang Persetujuan Perubahan dan Perpanjangan Pertama Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Komoditas Batugamping (Limestone) atas nama PT. Samana Citra Agung menjadi PT. Semen Indonesia Aceh Seluas 985 Ha, Tanggal 15 Agustus 2016.
Pasir Tufaan (Siltstone)

1) Rekomendasi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pidie, Nomor : 545/, Hal Untuk memperoleh Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksplorasi jenis bahan galian Batu Pasir Tufaan/ Tanah Liat seluas ± 400 Ha di Kecamatan Muara Tiga, Tanggal 23 Januari 1997.
2) Rekomendasi Badan Pertanahan Nasional, Kantor Pertanahan Kabupaten Pidie Nomor : 130-21.2/057/1997, untuk memperoleh Surat izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksplorasi Jenis Bahan Galian Batupasir Tufaan/ Tanah Liat di Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie seluas ± 400 hektare, Tanggal 24 Januari 1997.
3) SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Nomor : 545/ 42/1997, tentang Pemberian Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksplorasi, Tanggal 29 Januari 1997.
4) SK Direktorat Jenderal Pertambangan Umum, Nomor : 2348/2014/DJP/1997, Hal Persetujuan Pemberian SIPD Eksploitasi bahan galian Batu Pasir Tufaan, Tanggal 8 September 1997.
5) SK Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Nomor : 545/ 710/1997, tentang Pemberian Surat Izin Pertambangan Daerah (SIPD) Eksploitasi, Tanggal 9 Oktober 1997.
6) SK Bupati Pidie, Nomor : 752 Tahun 2006, tentang Pemberian Surat Izin Kuasa Pertambangan Daerah (SIPD) Eksploitasi, Tanggal 13 Desember 2006.
7) SK Bupati Pidie, Nomor : 387 Tahun 2010 tentang Persetujuan Penyesuaian Izin Usaha Pertambangan Operasi - Produksi Batuan Kepada PT. Samana Citra Agung, Tanggal 15 Oktober 2010.
8) SK Gubernur Aceh, Nomor : 545/BP2T/1593/ IUP-OP./2016, tentang Persetujuan Perubahan dan Perpanjangan Pertama Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi Komoditas Pasir Tufaan (Siltstone) atas nama PT. Samana Citra Agung menjadi PT. Semen Indonesia Aceh Seluas 445 Ha, Tanggal 15 Agustus 2016.

Hajatan Lawas,

Perjalanan panjang perizinan tambang dan industri semen PT SCA kembali berlanjut. Bersama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, secercah harapan tumbuh untuk mengulang romantisme lama. Berharap terealisasi hajatan yang tertunda selama dua dekade.

Namun, lagi-lagi permasalahan muncul. Warga sekitar wilayah rencana kegiatan tambang dan industri semen gundah atas lahan yang diklaim PT SCA dianggap belum sepenuhnya dibebaskan dimasa lalu. Berbagai aksi dilakukan masyarakat, mulai dari cara santun berupa dialog hingga pemblokiran jalan menuju kawasan industri. Masyarakat bersikeras agar pihak PT SCA terlebih dahulu menyelesaikan masalah-masalah dengan warga pemilik lahan.

PT SIA pun mulai ngambek. Para pemilik saham di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk meminta ditunda kegiatan di lapangan hingga adanya penyelesaian sengketa PT SCA dengan warga. Apakah reaksi warga ini mengada-ada atau akumulasi dari kisah lama di era 90-an? Semoga penulis berkesempatan mengutarakan pada kesempatan berikutnya.

*) Muhammad Oki Kurniawan adalah pegiat lingkungan dan kajian risiko; Muhammad Hardi adalah pegawai negeri sipil di Ditjen Minerba Kementerian ESDM

Komentar

Loading...