Nestapa di Balik Pesona Geureutee

Nestapa di Balik Pesona Geureutee
Dua pulau di kaki Geureutee. Foto: REZA

Ini adalah kawasan persinggahan para pelintas dari Banda Aceh menuju Aceh Jaya dan pesisir barat-selatan Aceh.

KBA.ONE, Banda Aceh – Gugusan pulau dengan pantai dangkal menghipnotis para pelintas puncak gunung Geurutee di Aceh Jaya. Indah dan menakjubkan. Daerah ini menjadi salah satu tempat persingahan para pengendara yang melewati jalur lintas Banda Aceh – Meulaboh.

Dari atas bukit, sembari melepas lelah, para pengunjung dapat menikmati keindahan panorama laut lepas yang dihiasi pemandangan dua pulau kecil tak berpenghuni.

Di tempat ini juga kerap dijadikan area swafoto dengan latar belakang pemandangan laut dan pulau itu. Pengunjung juga dapat menikmati sungguhan makanan dan miniman seperti kelapa muda di pondok-pondok yang dibangun di lereng gunung. Namun, keindahan pemandangan dua pulau kecil itu ternyata menyimpan kisah yang menyedihkan.

“Dulu ada penghuninya, satu desa, sekitar 200 orang. Namun semuanya meninggal dunia saat musibah gempa dan tsunami 2004 silam,” kata seorang pedagang di salah satu pondok Puncak Gunung Geurutee, Abdullah, kepada KBA, Rabu, 15 November 2017.

Dua Pulau itu, kata Abdullah, bernama Pulau Ujong Seudeun dan Keluang. Sebelum tsunami, Abdullah mengatakan terdapat jalan penghubung menuju Pulau Seudeun itu.

“Jalannya hancur saat tsunami. Cuma Pulau yang besar itu yang ada penghuninya dulu, yang kecil (sebelah kanan), tidak ada,” ujarnya.

Kini, Abdullah menjelaskan Pulau Seudeun dijadikan kawasan tempat ternak lembu bagi warga. Sedangkan Pulau Keluang merupakan area sarang walet, karena terdapat sebuah gua di pulau tersebut.

“Ada juga wisatawan yang pergi ke sana. Biasanya menggunakan perahu nelayan. Ada juga kapal-kapal dari Sabang yang sekedar lewat di sekitar pulau itu untuk melihat pemandangan. Itu sekarang ada kapal, bukan punya nelayan, sepertinya wisatawan, tidak tahu dari mana,” jelas Abdulah sembari menunjuk sebuah kapal kecil yang berada di dekat dua pulau yang berdampingan itu.

Di lereng tebing Puncak Geurutee itu, Abdullah mengaku telah berdagang selama 12 tahun pasca musibah tsunami. Di tempatnya, di jam-jam tertentu juga ada beberapa ekor monyet hitam yang turun dari kawasan hutan ke pondoknya.

“Amang itu awalnya liar, tetapi sudah jinak, karena kalau turun sering saya kasih pisang. Malah sudah jinak dan bisa diajak foto-foto sama pengunjung di sini. Kalau sudah kenyang, mereka kembali ke hutan,” ungkap warga Lamno ini. “Dulu ada enam ekor, sekarang tinggal tiga. Tidak tahu ke mana tiganya lagi.”

Komentar

Loading...