Nyeruak Chatting Oknum Kepsek Berbau Mesum di Aceh Tengah, Akankah Berdamai?

Nyeruak Chatting Oknum Kepsek Berbau Mesum di Aceh Tengah, Akankah Berdamai?
Ilustrasi. | Foto: Ist

KBA.ONE, Takengon - Aceh Tengah beberapa waktu lalu hangat membahas terkait dugaan Chatting tak senonoh, yang diduga dilakukan oleh oknum Kepala Sekolah SMP Negeri 32 Ketol, Aceh Tengah. chatting via WhatsApp itu ditujukan kepada tiga guru yang ada di sekolah tersebut.

Informasi itu menyeruak ke media sosial, seorang suami dari salah satu ketiga korban itu menyebut, kepala sekolah berinisial MD, sering berkirim pesan Whatsapp kepada istrinya, bahkan kedua guru teman istrinya itu.

Dalam pesan itu disebut, MD mengajak salah satu guru untuk bertemu di salahh satu ruangan belajar, bahkan alasan untuk bertemu itu disebut tak jelas dengan bahasa menjurus berbau mesum.

Bahkan, salah satu korban diduga pernah diajak menginap berdua di sekolah itu, namun sempat ditolak mentah-mentah oleh salah satu guru tersebut.

Dugaan chatting tak senonoh itu sudah dilaporkan ke Dinas Pendidikan Aceh Tengah untuk ditindaklanjuti. Namun hingga saat ini belum mendapat keterangan resmi dan tindakan apapun dari kepala dinas.

"Ketiga guru ini tak lagi nyaman mengikuti proses mengajar di sekolah itu, jika belum ada tindakan resmi dari dinas pendidikan," kata salah seorang suami yang tidak disebutkan namanya itu.

Belum usainya benang kusut di sekolah itu, menyebabkan tiga guru ini enggan datang ke sekolah dan melakukan mogok kerja setelah semuanya selesai diluruskan oleh Dinas Pendidikan Aceh Tengah.

Sementara itu, Kepala SMP 32 Aceh Tengah berinisial MD, mengaku informasi yang beredar di media sosial itu tak sepenuhnya benar, chatting itu diperkirakan telah berlalu selama empat bulan ke belakang.

Bahkan mengenai polemik yang beredar itu, ia bersama ketiga guru tersebut sudah pernah dipanggil oleh dinas pendidikan melalui korwasda.

Ia sendiri pada waktu itu tengah dalam masa pembinaan atas kasus tersebut, bahkan dalam pembinaan itu tersirat tidak lagi mengulangi perbuatan itu.

"Sebelum masalah ini berkembang di media kami sudah pernah dipanggil oleh dinas dan saya dalam masa pembinaan dituntut untuk tidak mengulangi hal ini, dan saya siap, begitu terkejutnya lagi kenapa bisa naik ke media baru baru ini," kata MD, Jum'at 30 April 2021.

Kata MD, ia sudah pernah memanggil guru diduga korban chatting tak senonoh itu pada 26 April 2021, dalam pertemuan itu ia menjelaskan duduk persoalan yang terjadi, bahkan ia pun meminta maaf atas kelalaian dan kelemahannya selaku kepala sekolah.

"Waktu itu mereka sudah memaafkan saya. Saya pikir masalah ini sudah selesai, ternyata berkembang di saat kami dalam masa binaan dan sudah meminta maaf kepada yang bersangkutan," ujar MD, mengaku ada muatan lain atas kasus yang menimpanya itu.

"Saya memaklumi, mungkin ada yg tidak puas mengenai permasalahan ini, sehingga melaporkanya kemedia," lanjutnya.

Ia juga mengakui kesilapanya, karena chatting nya itu mengganggu kenyamanan guru di lingkungan sekolah yang ia pimpin itu. Dengan alasan umur yang masih relatif muda bahkan usia tak jauh berbeda.

"Kami sering bercanda baik di sekolah maupun di luar sekolah, sehingga canda kami menjadi kebiasaan sampai chatting kami merugikan pihak lain. Saya meminta maaf sebesar besarnya," ungkapnya.

Terkait masalah ini, ia siap siap dimediasi berdamai demi untuk kebaikan bersama.

Sementara itu, Kepala Dinas pendidikan Aceh Tengah mengaku telah memanggil kepala sekolah itu, untuk dimintai keterangan di dinas pendidikan atas informasi yang beredar di media.

"Kepala sekolahnya sudah kita cross check atas kasus ini, dan hari ini pihak dinas juga memanggil ketiga guru diduga menjadi korban atas kasus ini," kata Uswatuddin melalui sambungan selularnya.

Ditanya tentang sanksi jika informasi ini benar, Uswatuddin menyebut akan diserahkan ke pihak Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Aceh Tengah.

"Kami tidak ada hak eksekusi, karena ini menyangkut disiplin Aparatur Sipil Negara (ASN), kami serahkan ke BKPSDM untuk menindaklanjuti. Kalau informasi ini benar tentu ada sanksi tersendiri," tutup Pria kelahiran Isaq itu.*** | KARMIADI, Kontributor Aceh Tengah

Komentar

Loading...