Pakar Geofisika: Fenomena Tanah Bergerak karena Intensitas Hujan Tinggi

Pakar Geofisika: Fenomena Tanah Bergerak karena Intensitas Hujan Tinggi
Pakar Geofisika dan Kebumian Universitas Syiah Kuala (USK), Dr Nazli Ismail, Ph.D | Foto: Unsyiah.ac.id

KBA.ONE, Banda Aceh - Pakar Geofisika dan Kebumian Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Nazli Ismail, memberi penjelasan terkait fenomena tanah bergeser di Gampong Kleng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, yang kedalamannya sudah mencapai tiga meter.

Nazli menjelaskan penurunan tanah yang terjadi disebabkan karena tingginya intensitas curah hujan melanda beberapa kawasan di Aceh Besar, termasuk Gampong Lam Kleng. Ditambah lagi, lokasi pergerakan tanah berada di lereng sungai.

Menurutnya, air hujan yang turun terus menerus membuat tanah menjadi jenuh, sehingga daya ikat tanah berkurang dan tak lagi kuat. Lama kelamaan tanah akan terlepas kemudian turun mengikuti arah dari bentuk lereng.

“Air hujan masuk ke dalam tanah kemudian tanah jenuh dengan kandungan air tanah, sehingga daya ikatnya berkurang lalu terlepas dan turun berdasarkan kelerangan tersebut,” kata Nazli, saat dikonfirmasi KBA.ONE, Kamis 21 Januari 2021.

Menurutnya, penurunan tanah yang terjadi tidak ada kaitannya dengan dampak erosi dari sungai. Sepengetahuan Ketua Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan USK tersebut, lereng tanah yang mengalami penurunan tidak langsung bersinggungan dengan alurnya, meski tak jauh dari lokasi terdapat sungai.

“Memang itu benar di pinggir sungai tetap itu lebih ke arah pergerakan tanah karena kelerengan atau kemiringan yang dipicu oleh air hujan yang sangat banyak,” imbuhnya.

Tak hanya itu, fenomena tanah bergerak juga belum bisa dipastikan apakah mengarah ke likuifaksi atau bukan. Sebab peristiwa likuifaksi sendiri harus ada faktor pendorong lainnya, seperti dipicu oleh adanya getaran-getaran dari luar. “Jadi tidak beralasan sama sekali bahwa ini adalah likuifaksi," lanjut Nazli.

Penurunan tanah yang terjadi di Gampong Lam Kleng, dikatakan Nazli, sebenarnya bukanlah permasalahan besar. Akan tetapi, karena lokasinya yang terjadi di pemukiman masyarakat, sehingga membuat peristiwa alam ini harus segera diatasi agar tidak menimbulkan korban jiwa.

Selanjutnya, warga juga harus dilarang mendekat ke lokasi, baik untuk tinggal maupun hanya melihat, serta tidak dibolehkan lagi adanya bangunan baru di seputaran kawasan yang berpotensi mengalami tanah bergerak. Ditakutkan pergerakan tanah akan semakian parah di kemudian hari.*** | MHD SAIFULLAH, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...