Hasil Laboratorium

Parameter Pencampuran Limbah Pabrik Minyak Terpentin Linge Tidak Sesuai Standar

Parameter Pencampuran Limbah Pabrik Minyak Terpentin Linge Tidak Sesuai Standar
Ilustrasi |Foto: Ist

KBA.ONE, Takengon - Beberapa parameter pencampuran limbah cair dari outlet pabrik minyak terpentin milik PT. Jaya Media Internusa dengan air drainase Kampung Kute Baru, Linge, Aceh Tengah tidak memenuhi standar baku mutu.

Hal ini diketahui berdasarkan hasil laboratorium yang dikeluarkan oleh Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup di Lukup Badak, Pegasing, Aceh Tengah, Nomor.14/SHU/UPT/DLH/2020 pada 22 Juli 2020.

Terkait masalah ini, sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia telah mengesahkan peraturan Nomor 5 tahun 2014, tentang baku mutu air limbah dan Nomor P68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016, tentang baku mutu air limbah domestik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tengah, Subhan Sahara, Jum'at 24 Juli 2020, menyampaikan setelah dilakukan peninjauan ke lapangan, juga terdapat temuan lain, yaitu outlet akhir Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik minyak terpentin tidak dilakukan pemeliharaan keberadaan tumbuhan enceng gondok, tanaman obor, tanaman tebuan atau tanaman air lainnya sebagaimana yang tercantum dalam dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).

Masyarakat Kute Baru, Linge mendatangi lokasi pabrik. | Foto: Ist

Kemudian, sampah plastik yang berasal dari wadah bahan baku getah pinus diolah dengan cara ditimbun ke dalam tanah. Seharusnya sampah tersebut diangkut dari Tempat Penampungan Sementara (TPS) di lokasi kegiatan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kabupaten Aceh Tengah. Selain itu juga terdapat emisi gas buang yang berasal dari operasional pabrik minyak terpentin yang meresahkan masyarakat di sekitar Kampung Kute Baru.

Untuk itu, pihaknya meminta PT Jaya Media Internusa segera memperbaiki sistem instalasi pengolahan air limbah pabrik minyak terpentin, dan membuat bak kontrol berisi ikan serta tanaman air sebagai upaya pemantauan kualitas air limbah pabrik. Melakukan uji emisi gas buang yang berasal dari kegiatan operasional pabrik minyak terpentin untuk kemudian dilakukan pengelolaan dan pemantauannya.

"Melaksanakan seluruh upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana tercantum dalam dokumen UKL UPL. Semoga saran ini dapat diindahkan," pinta Subhan.

Sebelumnya, masyarakat Kute Baru sempat mendatangi pabrik pengolahan getah pinus itu, karena diduga membuang limbah sesuka hati ke sungai dan asap pekat ke udara.*** | Karmiadi, Kontributor Aceh Tengah

Komentar

Loading...