Pembunuhan Hakim Jamaluddin Mulai Terkuak: Malam Hari, Korban Dibawa Sejumlah Lelaki Tegap

Pembunuhan Hakim Jamaluddin Mulai Terkuak: Malam Hari, Korban Dibawa Sejumlah Lelaki Tegap

KBA.ONE, Medan Sedikit demi sedikit, kasus pembunuhan hakim Jamaluddin mulai terkuak lebar.  Ada saksi penting, seorang pengacara wanita bernama  Maimunah (nama samaran) yang diwawancarai secara eksklusif oleh Tribun Medan baru-baru ini.

Ia mengatakan, Kamis malam, 28 November 2019,  sehari  sebelum korban ditemukan tewas,  Jamaluddin datang ke rumahnya bersama sejumlah laki-kali. Salah satunya bahkan mendorong Jamal agar memanggil wanita itu.

Kesaksian itu jelas menjadi mata rantai penting dalam kasus Jamaluddin, 55 tahun, yang ditemukan  tewas di dalam mobil yang terperosok di jurang kebun sawit, 29 November 2019. Lokasi penemuan mayat korban itu berada  di Desa Suka Dame, Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang. Polisi setempat menerima laporan warga sekitar pukul 13.30. Tubuh korban tengkurap di sela kursi tengah dan depan di  dalam mobil pribadinya Toyota Land Cruiser Prado BK 77 HD.

Pengakuan pengacara wanita
Sesuai laporan Tribun Medan, rumah pengacara Maimunah  (sekali lagi bukan nama sebenarnya), didatangi oleh  hakim Jamaluddin pada  pukul  21. 35 WIB,  sehari sebelum sang hakim tewas. Maimunah ingat, saat itu tayangan  di ANTV adalah acara  Uya-uya bertajuk Suratan Tangan  (maksudnya mungkin Garis Tangan).

Jamaluddin sampai memanggil tiga kali, tapi Maimunah tidak mau menemuinya. “Sampai panggilan ketiga  saya enggak keluar di rumah. Saya berpikir saya tidak ada berkepentingan sama bapak ini. Janji saya Jumat mau ke Kantor Pengadilan. Di malam Jumat itu perasaan saya sudah enggak enak," kata  Maimunah.

Ia juga menjelaskan,  ada yang mendorong Hakim Jamaluddin dari mobil hingga ke pintu rumah Maimunah. Total jumlah lelaki yang mengantar Jamaluddin saat itu, sekitar  empat atau lima orang, termasuk yang duduk di belakang setir mobil.  Tiga di antaranya,  bertubuh tegap, yang langsung mendampingi  Jamal saat memanggil-manggil Maimunah. Pengakuan Isteri Jamaluddin

Maimunah juga mengatakan sempat mendengar Jamal memintanya  untuk ikut bersama dirinya. Kata Jamal, ada yang mau dikonfrontir.

Setelah sekitar lima belas menit,  karena Maimunah tak mau keluar juga,   Jamal bersama sejumlah laki-laki itu  pulang.  Nah, Jumat, keesokan  harinya,  tepatnya sore hari, ia  terkejut mendengar kabar Jamaluddin ditemukan tewas.

Bahkan Maimunah  menyebutkan bahwa apabila apabila di malam tersebut dirinya membukakan pintu, maka nasibnya akan sama dengan almarhum Jamaluddin.

“Jadi sebenarnya saya itu enggak terlalu penting kali sama bapak (Jamaluddin) tapi seolah-olah dibuat penting. ada orang lain yang mengompori keadaan ini. Kalau saya berurusan sama bapak saya ada nomor hp nya," kata Maimunah kepada Tribun Medan.

Saksi kunci ini sudah diperiksa polisi.  Maimunah juga berharap bisa mendapatkan perlindungan hukum baik dari kepolisian maupun Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban karena belakangan ini masih adanya pihak-pihak yang mencoba mengintimidasinya.

Memperkuat temuan lain
Kesaksian Maimuah itu memperkuat temuan lain bahwa sesuai hasil otopsi, korban 20 jam sebelum otopsi  sudah meninggal.  Karena otopsi dilakukan sekitar jam 20.00 malam, Artinya jika dihitung mundur 20 jam itu,  dia meninggal sekitar jam 3 atau 4 subuh.

Temuan itu  masih  sejalan dengan pernyataan Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto sebelumnya.  Ia menyatakan kemungkinan pelakunya  "orang dekat" dan pelaku mengenal korban.  

Kesaksian isteri yang janggal
Sebelumnya, Zuraida Hanum, isteri korban, mengatakan bahwa pada pagi hari saat kejadiaan berangkat sekitar pukul 05.00 WIB.  Jamaluddin pamit hendak menjemput rekannya di bandara.   Hanya kesaksian ini tidak sejalan dengan waktu perkiraan korban dibunuh sesuai hasil otopsi.

Pengakuan isteri juga berbeda dengan temuan  CCTV tetangga korban, yang merekam mobil korban keluar dari rumahnya sekitar pukul 04.00 WIB.  Adapun CCTV di rumah Jamaluddin dalam kondisi mati.  

Seperti diberitakan oleh  Tribun-Medan.com,  Pejabat Humas PN Medan, Erintuah Damanik, mengatakan: "Info dari kepolisian itu menyebutkan kalau CCTV  (di rumah Jamaluddin)  tidak dicolokkan, padahal sebenarnya berfungsi. Jadi disengaja."

Dalam rekaman CCTV tetangga itu, arah mobil Jamaluddin itu berbeda dengan arah biasannya jika beragkat ke kantor atau bandara.  "Kalau mobil itu keluar biasanya ke kanan. Tapi kalau hari itu ke kiri bukan ke arah pengadilan. Dan setelah mobil itu lewat ada sepeda motor yang mengikuti,"  kata Erintuah .

Temuan itu juga sesuai dengan kesaksian warga desa di lokasi mayat Jamaluddin ditemukan. Ada kesaksian bahwa mobil korban  sudah terlihat mondar-mandir di sana sekitar pukul 05.00. Jarak antara rumah Jamaluddin hingga ke desa tersebut sekitar 30 kilometer.

Kesaksian warga itu disampaikan oleh  Kapolsek Kutalimbaru Ajun Komisaris Bitler Sitanggang  kepada KompasTV yang ditayangkan pada 30  November. Saat itu Kapolsek juga bersama warga. Bahkan terdengar juga kesaksian warga menyatakan hal yang sama. ***

Komentar

Loading...