Pendampingan Dosen Ekonomi Pada Usaha Tenun Songket Aceh

Pendampingan Dosen Ekonomi Pada Usaha Tenun Songket Aceh
Tim berpose bersama masyarakat pelaku tenun Songket Aceh di Banda Aceh. Foto: istimewa.

Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan lewat sejumlah kerja sama, yakni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dengan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Unsyiah. Kerja sama ini menyasar program keberlanjutan usaha tenun Aceh dengan teknik inovasi dan diversifikasi produk melalui desain motif Aceh menggunakan mesin yang modern. Produk ini lebih dikenal dengan nama songket Aceh dan berpusat di Desa Mireuk Taman, Darussalam, Banda Aceh.

Seorang pekerja tenun songket menyebutkan usaha tenun kain songket Aceh ini berjalan sekitar 27 tahun. Namun masih banyak kekurangan dan mesti mendapat pendampingan dari para ahli manajemen. Sebab usaha tenun Aceh ini mencoba berinovasi dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman.

Kegiatan yang diselenggarakan di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsyiah didukung oleh tim ahli dari fakultas dan jurusan sesuai dengan program yang ditawarkan. Selama setahun terakhir jumlah penerima program berbasis produk Unsyiah juga meningkat sehingga menjadi prestasi tersendiri bagi pengusul dari Unsyiah.

Sementara tim penelitian ini dilakukan oleh empat orang staf pengajar fakultas ekonomi dan bisnis Unsyiah, yaitu Halimatussakdiah, Cut Aprilia, Zaida Rizqi Zainul dan Ade Irma Suryani. Program ini juga melibatkan lima orang mahasiswa dari jurusan Manajemen Unsyiah yang akan membantu kelancaran kegiatan. Semua anggota tim memiliki pengetahuan dan kemampuan yang sesuai di bidang manajemen.

Keterkaitan judul kegiatan yang diajukan sangat berguna untuk membantu secara aktif pada pengembangan, pelatihan serta keterampilan di masyarakat. Bagi tim sendiri, pengalaman dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat akan membantu mengatasi berbagai kegiatan pengabdian masyarakat dan membantu dalam mengatasi permasalahan, seperti persoalan yang dihadapi oleh Jasmani, 50 tahun, pemilik usaha “Songket Aceh Kreasi Jasmani”. Saat ini usaha songket tersebut tidak banyak diketahui oleh pihak luar padahal hasil kerajinan kain songket tersebut cukup untuk diperhitungkan dan bisa diperkenalkan hingga keluar daerah dan kota–kota besar di Indonesia.

Usaha yang dibangun semenjak 1990-an tersebut memiliki sekitar 15 orang karyawan, 10 di antaranya karyawan yang tidak aktif dan lima karyawan yang aktif. Karyawan aktif adalah mereka yang bekerja secara aktif dalam pembuatan kain songket tersebut. Sedangkan karyawan tidak aktif adalah mereka yang hanya bekerja pada waktu luang saja.

Berbagai macam jenis songket pernah mereka produksi dengan motif dan corak beragam. Untuk itu mereka memulai inovasi yang baru dengan mengombinasikan tas dan dompet dengan kain tenun. Mereka mengalami kesulitan dalam memasarkan produk akibat karena kurangnya perhatian dari pihak pemerintah dan dikarenakan mereka tidak memiliki modal yang cukup serta mereka hanya memiliki satu jenis alat tenunan sehingga tidak mampu menciptakan produk atau kain songket dalam bentuk yang banyak dan bervariasi serta berkualitas.

Untuk membuat satu kain songket tersebut membutuhkan waktu hingga satu bulan dengan waktu khusus untuk pemasangan benang yaitu seminggu. Kain songket ini dijual Rp 900 ribu hingga Rp 2 juta tergantung dari corak dan motif serta benang berkualitas. Benang ini dipesan dari agen khusus di luar Aceh, seperti benang berkelir emas dan perak serta benang–benang sulam asal India

Usaha kain songket Aceh ini sempat tutup ketika masa konflik melanda daerah Aceh, sekitar tahun 1998, saat konflik mendera Aceh. Karyawan yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga, takut dan mengalami trauma. Mereka tidak berani bekerja. Dengan dorongan Jasmani, akhirnya mereka mulai berani dan kembali bersemangat. Jasmani juga terus mendorong agar karyawannya tetap produktif.

Kendala lain yang kerap dihadapi adalah faktor peralatan dan bahan baku serta kendala lain terbatasnya sumber daya manusia yang tersedia. Motif khas Aceh yang sangat dikenal dengan tiap-tiap motif/corak memiliki makna dan arti tersendiri serta memiliki nilai yang tinggi di antaranya Bungong Awan, Geulima Meupucok, Lampu Meugantung, Trieng Gadeng, dan Kalimah Lailahaillallah yang diyakini memiliki makna yang sangat dalam serta nilai religious yang sangat kental dan itu harus dikerjakan oleh tenaga profesional dan terlatih, bahkan nantinya memiliki tenaga ahli dalam menggunakan teknologi mesin pencetak tenun dari komputer.

Solusi yang ditawarkan dalam pelaksanaan program berbasis produk ini antara lain: memberikan pelatihan dan pengetahuan ilmu manajemen, memberikan pelatihan produksi kain tenun songket dengan proses diversifikasi, memberikan pelatihan penataan manajemen menuju manajemen profesional (manajemen keuangan dan strategi promosi). Kegiatan akan dilakukan selama enam bulan, mulai persiapan hingga pelaksanaan kegiatan dilaksanakan.

Program kegiatan pelatihan ini akan berhasil jika semua pihak yang terkait mendukung dan mau bekerja sama dengan baik. Adapun pihak yang mendukung, seperti tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat di bidang Pemasaran dan Operasional, kemudian perangkat desa dan dusun setempat, yaitu pejabat Desa Mireuk Taman, anggota dan pengurus PKK, untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada anggota kelompok lain. Kegiatan ini juga menjadi ajang promosi yang melibatkan dunia usaha souvenir di pusat promosi produk khas Aceh di Banda Aceh.

Komentar

Loading...