Pendulum Kesejahteraan di Tangan Amru

Pendulum Kesejahteraan di Tangan Amru
Muhammad Amru. Foto: facebook.

Kemiskinan memurukkan kualitas hidup. Pelayanan publik, yang seharusnya menjadi hak dasar masyarakat di daerahnya, tak terpenuhi.

KBA.ONE, Gayo Lues - Syahdan, dalam sebuah kesempatan, Muhammad Amru pernah menyampaikan keinginannya untuk mengubah kehidupan masyarakat Gayo Lues yang hidup di bawah garis kemiskinan. Amru merasakan betapa sulitnya masyarakat yang hidup di kampung-kampung. Bahkan untuk menghidupi keluarga dan mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Amru juga menyadari bahwa kemiskinan membuat tanah kelahirannya begitu jauh kesempatan setiap orang untuk meraih tingkat pendidikan yang cukup menjadikan mereka sebagai pribadi yang mandiri. Kemiskinan memurukkan kualitas hidup. Pelayanan publik, yang seharusnya menjadi hak dasar masyarakat di daerahnya tak terpenuhi.

Di negeri yang dikelilingi oleh kekayaan alam, di bawah dan permukaan bumi, kemiskinan begitu kentara. Rahmat yang melimpah seperti tak ada arti saat pemimpin kehilangan orientasi dan kehabisan akal untuk membangun daerah mereka. Karena itu, Amru memutuskan untuk maju pada Pemilihan Kepala Daerah Gayo Lues 2017.

“Ini waktu yang tepat bagi kita untuk bersama-sama menggali semua potensi tersebut. Setelah itu, kita manfaatkan untuk mengangkat perekonomian masyarakat yang selama ini menderita karena kemiskinan dan rendahnya ilmu pengetahuan,” kata Amru, beberapa waktu lalu.

Amru lahir di Kutapanjang, Blangkejeren, 25 Mei 1965. Setelah memulai pendidikan dasar di daerah itu, dia hijrah ke Aceh Tenggara untuk menempuh pendidikan lanjutan. Dia lantas hijrah ke Banda Aceh, meneruskan pendidikan di Fakultas Ilmu Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Alih-alih menjadi guru, Amru malah mendalami profesi berbeda. Dari pramuwisata hingga juru warta.

Dan ternyata, politik lebih memikat Amru. Bekas Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh Tenggara ini memutuskan untuk masuk ke Partai Golkar atas “rayuan” Hasanuddin Beruh, bekas Bupati Aceh Tenggara. “Awalnya janggal. Lama kelamaan, politik semakin menarik. Di sini, saya bisa lebih mengenal karakter dan sifat-sifat orang,” ujar Amru.

Percaturan politik Aceh berubah setelah penandatanganan perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Bekas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Gayo Lues ini melihat hal yang baru, yang belum pernah terjadi dalam sejarah negeri ini, bahwa kini Aceh memiliki kesempatan untuk bangkit dan berkembang lebih baik dengan Undang-Undang Pemerintah Aceh.

“Kita menjadi lebih berdaulat atas tanah dan kekayaan alam. Inilah yang harus terus kita usahakan agar terwujud. Sehingga tak ada lagi kata kemiskinan dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah modal penting bagi kita untuk bangkit dan mengejar ketertinggalan,” kata Amru.

Amru kemudian memutuskan untuk pindah ke partai politik yang lebih dekat dengan idealismenya: Partai Aceh. Di partai ini, Amru dipercaya oleh masyarakat untuk mewakili suara mereka di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. Satu per satu, keinginan untuk memperbaiki daerah mulai terwujud. Dengan keluwesan pergaulannya, Amru mampu mendorong program-program pro rakyat untuk masuk ke Gayo Lues dan Aceh Tenggara, daerah pemilihannya.

Dan mulai hari ini, Amru akan lebih mudah mewujudkan cita-cita membangun daerahnya. Gubernur Aceh Irwandi Yusuf akan melantiknya sebagai Bupati Gayo Lues. Membangun daerah ini menjadi negeri damai sejahtera dan bermartabat tak lagi sekadar khayalan. Bagi Amru, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan.

Bupati Gayo Lues Muhammad Amru dan wakilnya, Said Sani. Foto: Disbudpar.

“Saya akan menjamin kemudahan berinvestasi di Gayo Lues. Mendorong tumbuh dan berkembangnya dunia usaha. Dengan demikian, daerah ini akan bangun karena para pemuda memiliki pekerjaan dan mempunyai kesempatan untuk hidup yang lebih berkualitas,” kata Amru.

Aman Jarum, warga Kecamatan Pining, mengenal Amru sebagai legislator yang getol membela rakyat miskin di berbagai pelosok desa di Gayo Lues. “Dia itu pembawaannya selalu lembut dan bersahaja, serta akrab dengan rakyat kecil,” ujar Aman Jarum. Dan kini, Amru memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun Gayo Lues. Karena Amru kini menggenggam pendulum yang akan menentukan cepat atau lambat kesejahteraan masyarakat di Negeri Seribu Bukit.

Komentar

Loading...