Penggemar Cerutu di Aceh Kini Punya Tempat Nyigar Bareng

Penggemar Cerutu di Aceh Kini Punya Tempat Nyigar Bareng
Pembukaan Aceh Cigar Club | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Bicara cerutu, semua mata akan menoleh ke Kuba. Republik yang terletak di utara Karibia ini dikenal sebagai penghasil cerutu terbaik dunia. Cerutu merupakan gulungan utuh daun tembakau yang dikeringkan dan difermentasikan. Ukurannya lebih besar ketimbang rokok.

Bila disandingkan dengan Kuba, secara teori cerutu di Indonesia jelas tidak apa-apanya. Benda yang nama aslinya diambil dari bahasa Tamil "suruṭṭu" (artinya "gulungan") masih menjadi barang "mewah" bagi orang Indonesia.

Namun, siapa sangka Indonesia sekarang juga bisa disejajarkan dengan Kuba dalam hal cerutu. Ada perusahaan di Jember, Jawa Timur, bernama PT Boss Image Nusantara atau BIN Cigar yang telah melahirkan cerutu berkualitas Kuba. BIN melakukan riset selama 15 tahun dan berhasil menanam tembakau berkualitas sama seperti yang dihasilkan negara Fidel Castro tersebut.

Cerutu-cerutu itu diperkenalkan oleh General Manager BIN Cigar Imam Wahyudi, saat peluncuran Aceh Cigar Club pada Jumat malam, 2 November 2018, di Daud Terrace Café Kyriad Muraya Hotel Aceh, Banda Aceh. Acara dihadiri para penikmat cerutu yang sebagian besar merupakan para pejabat penting di Banda Aceh. Malam itu, Imam juga langsung mempraktikkan langsung pembuatan cerutu di depan para undangan.

Aceh Cigar Club sendiri resmi didirikan dan diresmikan secara simbolik oleh Danlanal Kolonel Laut Edi Haryanto. Presiden Aceh Cigar Club Sabri Aly mengatakan klub itu telah dirancangnya bersama Bambang Pramusinto, General Manager Kyriad Muraya Hotel Aceh.

Aceh Cigar Club, kata Sabry, didirikan sebagai wadah bagi masyarakat Aceh yang menyukai cerutu. "Dan bisa mendukung cerutu produk lokal dengan kualitas yang tidak kalah dengan produk impor,” ujarnya.

Sebenarnya, kata Sabry, banyak orang Aceh yang gemar menikmati cerutu atau cigar. Mereka lazimnya datang ke Jakarta untuk mendapatkan gulungan utuh daun tembakau itu. "Kawan-kawan ini menelepon saya untuk nyari cigar. Nah, dengan adanya klub ini, anggota-anggota lain nantinya juga bisa membantu untuk mencari cigar,” ujarnya.

Cerutu tak gampang ditemukan seperti halnya rokok biasa. Di Jakarta saja, kata Sabri, hanya ada tiga tempat yang melayani pembelian per batang dan per pack. “Jadi kadang-kadang para pecinta cigar ini masih mencari-cari pilihan favoritnya, sehingga dia tidak langsung membeli per pack, maka itu dibeli per batang, tapi tidak semua tempat melayani pembelian per batang,” ujarnya.

Tak heran jika harga cerutu lebih mahal, mulai dari Rp70 ribu hingga jutaan rupiah. Setelah jadi, sebatang cerutu biasanya tidak bisa langsung dinikmati, melainkan harus didiamkan selama 15 hari.

"Meskipun harga sebatang cerutu terbilang sangat fantastis dibanding rokok biasa pada umumnya, penikmat cerutu tetaplah ramai. Sebuah komoditas biasanya mendapat pengakuan di pasar. Artinya jika harga cerutu (tembakau) tersebut tinggi berarti itu pengakuannya," ujar Sabri.

Kini, anggota Aceh Cigar Club baru sekitar 35 orang. Sebanyak 20 orang di antaranya berdomisili di Banda Aceh, dan sisanya warga Aceh yang ada di Jakarta. Nantinya, lewat klub tersebut, para anggota akan terus mendapatkan perkembangan terbaru tentang cerutu di tanah air, sehingga bisa menemukan cigar favoritnya. “Bagi anggota Aceh Cigar Club, khususnya untuk membeli produk BIN Cigar itu mendapat diskon, saat ini juga sudah tersedia di Kyriad Muraya Banda Aceh,” ujar Sabri.

Kegiatan lain yang bakal dilakukan, kata dia, pertemuan rutin para anggota klub untuk saling bertukar informasi dan menikmati cigar bersama. “Di Jakarta sudah jalan, anggota club bertemu sepekan sekali di Fakultas Kopi, itu biasanya nyigar bareng. Dengan adanya club ini, di Banda Aceh juga nantinya akan ada kegiatan nyigar bareng."

Hadir dalam lauching Aceh Cigar Club di antaranya Kapolresta Banda Aceh Trisno Riyanto, Asintel Kejati Aceh Mukhlis, Kepala BPBA Teuku Ahmad Dadek, Ketua Ikatan Motor Besar Indonesia (IMBI) Aceh Iskandar Hadipriatna, dan Kepala SPN Polda Aceh Taufik Rochmad Hidayat. Acara peluncuran tersebut menurut Bambang Pramusinto menjadikan Hotel Kyriad Muraya Aceh sebagai trend setter komunitas “Jacico” (baca: Jesiko). Ini penggabungan dari komunitas Jazz, Cigar, dan coffee. September lalu di tempat yang sama, Bambang juga mencetuskan lahirnya Aceh Jazz Society.

Komentar

Loading...