Penjualan Menembus Pasar Internasional, Tas Aceh Ulee Madon Belum Memiliki Hak Paten

Penjualan Menembus Pasar Internasional, Tas Aceh Ulee Madon Belum Memiliki Hak Paten
Tgk Salahuddin AB menunjukkan hasil karya Ulee Madon. | Foto: KBA.ONE, Try Vanny

KBA.ONE, Aceh Utara - Pengrajin tas bordir khas Aceh dari warga Gampong Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, yang kini telah menembus pasar Internasional, diketahui belum memiliki hak paten.

Berbagai hasil produk seperti tas jinjing, koper, sajadah dan dompet, terancam akan direbut hak ciptanya oleh provinsi lain. Terlebih kerajinan ini telah diproduksi selama 20 tahun, dan mampu menampung 500 pekerja di Gampong Ulee Madon.

Geuchik Gampong Ulee Madon, Tgk. Salahuddin AB menyatakan, ada 17 unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang aktif memproduksi kerajinan tersebut. Bahkan ada salah seorang pengrajin yang sudah bekerja sama secara online, dengan konsumen asal Amerika Serikat.

"Ini kendala bagi para pengrajin. Seharusnya pemerintah mendukung, karena ini bukan lagi milik warga Gampong Ulee Madon tapi menjadi kebanggaan Aceh Utara. Mengenai merk itu sudah diajukan oleh Mariana ke pemerintah pusat dari Desember 2019, dan ini masih menunggu kapan siapnya," katanya, Sabtu 7 Maret 2020.

Menurut Salahuddin, Pemerintah Aceh Utara seharusnya mempercepat proses perizinan tersebut. Menurutnya, dengan adanya kerajinan tas di gampong tersebut, perekonomian masyarakat terus meningkat.

Harga kerajinan Aceh tersebut juga tergolong cukup ekonomis, yaitu mulai dari Rp25 ribu hingga Rp350 ribu. Hasil pemasaran tidak hanya di dalam negeri, pengrajin telah menjual hingga ke Spanyol, Amerika Serikat, Malaysia dan beberapa negara lainnya.

"Semoga tidak ada pihak yang menyalahgunakan karya kami, karena saat ini sedang dalam proses menunggu hasil putusan pemerintah," harapnya. *** 

Komentar

Loading...