2 Tahun Jejak Aceh Hebat

Perkuat Ekonomi Melalui Aceh Kaya

Oleh ,
Perkuat Ekonomi Melalui Aceh Kaya
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah membuka musyawarah Kadin Aceh | Humas Pemerintah Aceh

Aceh Kaya adalah program khusus yang disiapkan Pemerintah Aceh untuk memperkuat sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bersama dengan sektor industri perdagangan, koperasi, dan pariwisata.

KBA.ONE, Banda Aceh - Pada cluster pertumbuhan ekonomi ada program unggulan Aceh Hebat yang telah menunjukkan beberapa pencapaian hingga dua tahun ini. Program tersebut adalah Aceh Kaya. Program ini dibuat untuk merangsang tumbuhnya entrepreneur atau wirausaha yang didukung dengan kemudahan akses terhadap modal, keterampilan, dan pasar.

Aceh Kaya dilaksanakan melalui beberapa langkah, yakni peningkatan peran lembaga keuangan dan pembiayaan lokal untuk terlibat aktif dalam pembinaan maupun dukungan modal usaha bagi wiraswasta muda. Langkah lainnya, memastikan partisipasi sektor swasta dan BUMN menggunakan dana CSR secara terkoordinasi dan satu pintu untuk meningkatkan sumber pembiayaan bagi entrepreneur. Terakhir, melibatkan perguruan tinggi dalam pembinaan manajemen bagi wirausaha muda.

Sedikit lebih detil, Aceh Kaya adalah program khusus yang disiapkan Pemerintah Aceh untuk memperkuat sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bersama dengan sektor industri perdagangan, koperasi, dan pariwisata. Salah satunya dengan mempermudah akses modal Bank Aceh dan BPR Mustaqim untuk UMKM dan IKM.

Hingga 2018, jumlah usaha yang tersertifikasi berjumlah 304. Jumlah ini meningkat pesat sejak 2017 yakni 211 usaha. Sementara pada 2016 hanya 63 usaha saja yang tersertifikasi.

Selain itu, pemerintah juga telah meluncurkan Kawasan Industri Aceh (KIA) di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. KIA diresmikan pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama Dirjen Kementerian Industri I Gusti Putu Suryawirawan, BPIW Kementerian PUPR Iwan Nurwanto, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, dan Ketua TP2KIA Mustafa Hasbullah.

KIA didorong untuk menjadi sentra usaha, terutama bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM). Pemerintah Aceh membuka peluang investasi kepada investor dalam dan luar negeri untuk memanfaatkan KIA sebagai lokasi membangun pabrik serta berbagai usaha industri. KIA memiliki prospek yang sangat menguntungkan bagi para pengusaha. Selain berada di lokasi yang strategis karena dekat dengan Kota Banda Aceh dan Pelabuhan Malahayati, KIA juga sudah memiliki sarana pendukung seperti listrik dan air bersih.

"Kita akan mulai dari industri-industri halal, seperti makanan-makanan kecil, handicraft dan lain sebagainya, sehingga nantinya kita mampu memutus ketergantungan kita dengan daerah lain," ujar Nova. Dia meyakini KIA akan mampu mendongkrak pereknomian dan industri di Aceh serta menyejahterakan masyarakat. Kehadiran berbagai industri di dalam Kawasan Industri Ladong nantinya akan meningkatkan nilai tambah komoditas dan produk Aceh.

 Nova Iriansyah menyampaikan materi pada seminar pengembangan kawasan Sabang, Selasa, 27 Februari 2019 | Humas Pemerintah Aceh

***

Langkah mendasar lain yang dilakukan lewat Aceh Kaya adalah mengubah Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) menjadi PT Pembangunan Aceh (PEMA) sebagai holding company untuk memayungi seluruh Badan Usaha Milik Aceh (BUMA). Penandatanganan akta pendirian PT PEMA dilakukan Nova Iriansyah di aula pendopo Wakil Gubernur Aceh, Banda Aceh, Kamis 5 April 2019. Hadir pada acara itu, Zubir Sahim yang menjadi bidan perubahan PDPA menjadi PT PEMA dalam kapasitasnya sebagai, Plt Dirut PDPA. Selanjutnya, Zubir masih dipercayakan sebagai Plt Dirut PT PEMA.

"Meskipun momen kita sore ini sangat sederhana, ini merupakan hari yang kelak akan kita ingat sebagai hari yang sangat bersejarah,” ujar Nova saat itu. Tujuan dari kebijakan mengubah status hukum PDPA menjadi PT PEMA, kata Nova, agar terjadi perubahan fundamental dalam tata kelola kelembagaan perusahaan sebagai entitas bisnis dengan pendekatan manajemen profesional dan modern.

Kehadiran PT PEMA yang menggantikan perusahaan daerah itu memang diharapkan Nova bisa lebih sederhana dan tidak berbelit-belit dengan birokrasi. Sehingga, lebih mudah dalam mendorong upaya pertumbuhan ekonomi Aceh. "Supaya geraknya lebih gesit dan tidak terganggu dengan birokrasi pemerintahan yang mungkin tidak kompatibel dengan kebutuhan dunia bisnis."

PEMA nantinya akan menaungi beberapa anak perusahaan yang akan dibentuk, termasuk yang sudah ada. "Hal ini nantinya bisa disinergikan dengan perusahaan daerah milik kabupaten di daerah masing-masing. Bisa dibuat badan usahanya dan menjadi anak perusahaan PT PEMA."

Nova Iriansyah meyakini APBA berfungsi sebagai stimulan. Sementara, pembangunan ekonomi yang paling strategis harus dilakukan melalui bisnis, baik perdagangan dan jasa. Peran itulah yang diharapkan akan diisi PEMA bersama dengan pelaku bisnis.

Setelah hadirnya PT PEMA, Pemerintah Aceh kini telah memiliki dua perusahaan milik daerah yang dikelola secara swasta. Salah satunya adalah PT Bank Aceh yang telah diubah menjadi PT Bank Aceh Syariah. Kedua perusahaan diharapkan membantu Pemerintah Aceh dalam meningkatkan pendapatan, mendorong dunia usaha, mengurangi pengangguran, dan menurunkan angka kemiskinan.

Terkait pertumbuhan ekonomi, pada bagian neraca ekspor impor Aceh, nilainya meningkat secara signifikan. Pada 2017 neraca ekspor impor Aceh hanya Rp107.421.982 lalu meningkat menjadi Rp221.045.057 pada 2018.

***

Nova Iriansyah bersama para pengusaha di acara Kadin Aceh | Humas Pemerintah Aceh

Pencapaian lainnya bisa dilihat dari upaya pemerintah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh mendorong investasi dan perluasan akses pasar. Saat membuka Musyawarah Provinsi ke-VI Kadin Aceh di Anjong Mon Mata pada Selasa malam, 18 Juni 2019, Nova Iriansyah mengatakan Aceh pernah menjadi salah satu poros ekonomi dunia yang dengan kekuatan ekonominya. "Sejarah meningkatkan kepercayaan diri kita, bahwa kita pernah jaya dan kita pernah hebat. Karena itu, tidak terlalu sulit jika kita ingin meraih kembali posisi tersebut. Syaratnya, hanya dengan melaksanakan sebab-sebab terwujudnya kejayaan, maka sejarah akan berulang," kata Nova.

Dia berharap musyawarah tersebut bisa menjadi tonggak bangkitnya saudagar Aceh dalam mengembalikan kejayaan ekonomi Aceh. Menurutnya, perkembangan ekonomi Aceh dalam tiga tahun terakhir menunjukkan perbaikan signifikan. Pertumbuhan ekonomi mulai mengalami percepatan. Tingkat kemiskinan dan pengangguran juga terus menurun. Namun, ada sebuah tantangan yaitu defisit perdagangan dan rendahnya kontribusi sektor industri pengolahan.

Defisit perdagangan terjadi karena sektor industri belum tangguh yang menyebabkan Aceh tidak cukup memproduksi barang impor yang diperlukan Aceh serta barang ekspor yang dibutuhkan oleh daerah dan negara lain. "Karena itu kehadiran dunia usaha menjadi instrumental, terutama pada perdagangan dan industri," kata Nova.

Untuk menggenjot perdagangan dan menambah kontribusi sektor industri pengolahan, Pemerintah Aceh telah membangun beberapa kawasan yang dapat menjadi peruntukan investasi. Di antaranya, Kawasan Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang, Kawasan Ekonomi Khusus Arun Lhokseumawe, dan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo.

Nova berharap, Kadin Aceh bisa mencetak saudagar baru. Khususnya, saudagar yang akan bergerak di sektor industri dan perdagangan yang berwawasan nasional, regional, dan global. Mereka, kata Nova, orang yang akan berani berinvestasi membangun sentra industri yang mengolah komoditas unggulan Aceh.

Selain itu, mereka bisa menjadi menjadi mitra terpercaya dari investor nasional atau asing yang menanamkan modal di Aceh. "Tentunya mereka adalah saudagar yang bermitra dengan IKM dalam sebuah rantai nilai komoditas unggulan, serta yang mengekspor produk Aceh yang berdaya saing."[ADV]

Komentar

Loading...