Pertumbuhan Warung Kopi Aceh di Medan dari Masa ke Masa

Pertumbuhan Warung Kopi Aceh di Medan dari Masa ke Masa
Barista di warung kopi King Kuphi kawasan Gaperta Ujung sedang asyik menyaring kopi. | Foto: Ghandi

Bicara kopi, rasanya tak lengkap jika tidak membahas tentang Aceh. Kopi dan Aceh seperti dua hal tak terpisahkan. Di Medan, hampir semua kedai kopi yang berlabelkan Aceh nyaris tak pernah sepi pengunjung. Mulai dari kedai kopi gerobakan, hingga kafe-kafe besar dan berkelas.

Pertumbuhan warung kopi Aceh di Medan yang saat ini begitu pesat tidak terjadi dalam waktu singkat. Sudah sejak puluhan tahun lalu, masyarakat Aceh yang merantau ke Medan datang untuk menjual kopi mulai dari menggunakan gerobak hingga kelas kafe.

Muhammad Ridwan, anak Abu Keumala (alm), ulama asal Aceh penyebar Islam di Medan, bercerita kepada KBA.ONE, sudah sejak lama, sekitar tahun 80-an, masyarakat Aceh yang merantau ke Medan membuka warung kopi di daerah Jalan Multatuli dan di sekitar Rumah Sakit Elisabet.

"Ya dulu awalnya di daerah situ, Multatuli, Polonia dan Elisabet. Mereka mulai jualan pake gerobak, jual nasi perang atau bu prang, ya, nasi gurih itu," ungkap Ridwan, Rabu 20 Januari 2020.

Warkop kaki lima di jalan Ampel Medan. | Foto KBA.ONE: Ghandi.

"Pada umunya memang orang Aceh datang ke Medan untuk berdagang, ada juga yang bekerja dan menuntut ilmu," sambung Ridwan lagi.

Dia melanjutkan cerita bahwa saat ini warung kopi di sekitar Jalan Multatuli rata-rata bangunannya sudah permanen dan memiliki tempat berjualan lebih luas, tidak memakai gerobak lagi seperti dulu. Yang terkenal di sana, katanya, sebut saja Warkop Agem Senyum dengan ciri khas mie Banglades nya. Kemudian Warkop Udin dan Warkop Iwan.

Sedangkan kawasan warung kopi yang juga sempat populer di kalangan anak muda Medan, yaitu di Jalan H Misbah, di sebelah Rumah Sakit Elisabet, kini sudah ditutup secara permanen oleh Pemerintah Kota Medan karena lokasinya di atas parit dan di atas tanah milik Pemko Medan.

Tapi, lanjut Ridwan, masih ada juga warung kopi Aceh bertahan berjualan memakai gerobak seperti di Jalan Ampel, sekitar Jalan Masjid Medan. letak warung itu persis di sudut persimpangan jalan dengan ciri khas gerobak berwarna biru dan penutup kain spanduk.

Warung Kopi itu hampir setiap hari ramai pengunjung meski kursi dan mejanya hanya bisa menampung sekitar 6 orang. Dari pantauan KBA.ONE, warung kopi ini tidak pernah sepi, pembeli datang silih berganti.

Sayangnya, sang empunya warung saat itu tidak sedang berada di tempat. Sementara Ali, yang mengaku sebagai pekerja, tidak begitu paham tentang sejarah warung kopi itu. "Kurang ngerti bang, tapi memang udah lama ini, ada lah 20-an tahun. Sudah ada cabangnya juga," ucap Ali yang sedang menyaring kopi dengan saringan panjang khas warung kopi Aceh.

Di warung kopi itu Ali hanya menjual kopi biasa dan tidak menyediakan kopi premium. Harganya cukup kompromis yaitu mulai dari lima ribuan rupiah. Di situ juga tersedia minuman lain seperti teh manis dan minuman bubuk perasa.

Di pagi hari mereka juga menyediakan nasi perang dan berbagai kudapan seperti kue timpan khas Aceh, serta aneka gorengan.

Sedangkan warung kopi skala besar tampak berjejer di beberapa ruas jalan di Medan, seperti di Jalan Gagak Hitam Ringroad. Beberapa warung kopi Aceh yang cukup ramai dan populer di sana seperti King Kuphi yang juga memiliki cabang di Jalan Gaperta Ujung, Samudra Kuphi, dan Cut Mutia Kopi. Di daerah Titi Kuning hingga Johor warung kopi Aceh juga selalu ramai pengunjung, seperti Pos Kuphi dan Grand Keude Kuphi Uleu Kareng. 

Ayah sedang menakar kopi. | Foto; KBA.ONE: Ghandi.

Di sudut kota Medan lainnya, KBA.ONE berkunjung ke gerai Ayah Kopi, Gudang Kopi Aceh dan Sumatera Rastery di Jalan Merpati Medan. Lapak berjualannya berukuran sekitar 5x7 meter, berpintu kaca, dengan plang merek didominasi warna hitam.

Di balik pintu kaca itu, tampak sosok pria nyentrik berbaju koko putih, berpeci, serta mengenakan ikat pinggang ala Benyamin S di film Si Doel Anak Betawi. Ketika disambari KBA.ONE, pria paruh baya itu duduk santai sambil mengunyah sirih di mulutnya. Ia enggan menyebutkan namanya. Ia lebih senang disapa dengn panggil "Ayah".

"Kita punya kebun kopi sendiri dan tidak asal memetik buah kopinya. Kita petik yang merah-merah, yang betul-betul udah matang. Kalau orang banyak dicampur, yang masih hijaupun di petiknya, kalau kita enggak," ucap Ayah. 

Gerai kopi milik Ayah. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Menurut Ayah, upah memetik biji kopi yang campuran itu satu kaleng berkisar Rp10 ribu. "Sedangkan yang merah semua upahnya mencapai Rp40 ribu perkaleng," sambung Ayah sambil menunjukkan gambar buah kopi di label produknya.

Kata Ayah, hasil biji kopi yang sudah matang akan tampak berwarna putih kekuningan, tidak hijau, "kayak gini lah kalau udah matang, ini gak langsung dijemur, direndam dulu dua malam, baru kita giling."

Sedang asyik mengobrol, salah seorang pelanggan setia Ayah terlihat sudah selesai dengan pesanan kopinya dan berpamitan dengan ayah. Mereka terlihat begitu akrab, sang pelanggan memeluk Ayah sebelum berpamitan pulang. Ayah pun melanjutkan ceritanya.

"Setelah itu kita racik kopi dengan zikir. Subhanallah, Walhamdulillahi, Walaila ha ilallah, Wallahu akbar. Walahaula wa la quwwata illa billahil alliyyil azhim. La illa anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La illaha Ilallah Wallahu Akbar, Walillah ilham," Jelas ayah. 

Suasana di warkop King Kuphi. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Menurut Ayah, orang Aceh punya ciri khas tersendiri dalam berjualan kopi. Kebanyakan dari mereka akan selalu mencari dimana menjual bubuk kopi terbaik dan ramai dibeli. "Kalau beli bubuk kopi di Pringgan di Sikambing itu murah, cuma Rp10 ribu - Rp15 ribu sekilo nya. Nah, kalau kita jarang beli yang begitu karena tidak murni kopinya," kata Ayah.

"Dan rata-rata orang Aceh buka warung kopi itu gak langsung pinjam uang bank, di kaki lima dulu jualannya," sambungnya lagi.

Sambil menyalakan rokok di ujung bibir nya, Ayah kembali melanjutkan ceritanya. Dia tampak antusias, dan memorinya belum memudar. "Ayah dulu jualan rujak, kaki lima, rujaknya piring kecil aja, tapi enak kita buat, pedas, jadi orang suka belinya, siap itu barulah mulai jual-jual kopi, sampe akhirnya punya tempat ini."

Sebelumnya, gerai kopi milik ayah ini bernama Bewe Kopi, masih satu pemilik dengan Souvenir Kopi, Sumatra Kopi, dan Hotel Grand Jamee yang ada di depannya. Namun ayah tidak bercerita secara detail bagaimana akhirnya dia bisa menempati gerai kopi tersebut.

Ayah juga enggan menjawab mengenai besaran omset yang didapatkan dari kedai kopinya karena, menurut Ayah, dirinya tak hanya sekadar mencari keuntungan, tapi juga mencari kebahagiaan. 

Ayah sedang menghidu aroma kopi. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

"Kalau misalkan ada orang minum kopi atau beli kopi kurang duitnya, Ayah kasih aja sesuai uang yang dia punya. Nanti-nantilah itu bayarnya. Besok-besok pasti datang lagi, bawa kawan 2 orang, terus 5 orang, dan seterusnya," kata Ayah sambil tertawa lepas.

Dia menjelaskan semua usaha harus begitu. Kalau cuma sekadar mengambil untung, gak akan maju. "Tapi, gimana kita bisa buat orang lain senang, pelanggan bahagia, berkahlah usaha itu," sambung Ayah lagi.

Yang paling penting dalam berjualan itu, "kita harus ikhlas, sabar, dan jujur," tutup ayah dengan pesan penuh makna. ***

Komentar

Loading...