Takjil Lemang di Ambang Ramadan

Takjil Lemang di Ambang Ramadan
Cara Yacob memanggang lemang. | Foto: Fatma

KBA.ONE, Banda Aceh - Anda penyuka lemang? Di Aceh, penganan Nusantara ini sering dijadikan menu takjil berbuka puasa. Oleh suku Dayak, lemang biasa disajikan pada pesta-pesta adat mereka. Suku Melayu, lemang biasa disantap saat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.

Ulun Lampung di sebelah pesisir menjadikan lemang sebagai penganan lebaran dan kue adat. Orang Minangkabau juga menyukai lemang, bahkan kota seperti Tebing Tinggi, Sumatera Utara, dikenal dengan julukan "Kota Lemang". Lemang juga merupakan makanan orang asli Negrito yang ada di Kelantan.

Lemang, biasanya, lebih nikmat disantap hangat-hangat. Cara mengonsumsinya juga berbeda-beda di tiap daerah. Ada yang senang menikmatinya dengan cara manis (ditambah selai, kinca, serikaya), dengan tape ketan hitam dan putih,  atau dengan cara asin (rendang, telur, dan lauk-pauk lainnya), atau ada juga yang memakannya dengan buah-buahan seperti durian. 

Tekstur lemang | Foto: tokomesi.com

Di Banda Aceh, lemang lebih gampang didapat saat bulan Ramadan tiba. Di Kutacane, Aceh Tenggara, lemang menjadi santapan khas pada saat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW dan Idul Adha.

Memang, penganan berisi ketan dan santan yang dipanggang di dalam batang bambu ini memiliki sensasi rasa yang berbeda jika diolah dengan cara yang berbeda pula.

Lihat saja seperti usaha lemang tahunan buatan M Yakob, 38 tahun, di Jalan Syah Kuala, Lamdingin, Banda Aceh! Rasanya yang lemak, gurih, dan lezat beraroma khas daun pisang muda dan wangi bekas asap panggangan, seakan memaksa Anda untuk singgah dan membawanya pulang ke rumah.

Minggu kemarin, 20 Mei 2018, KBA.ONE  menemui M  Yacob di tempat usahanya. Dia bercerita tentang bahan dasar apa saja yang dibutuhkan untuk membuat lemang yang lezat dan gurih. “Ya kita harus beli beras ketan sesuai yang dibutuhkan, batang bambu muda, santan, gula, garam dan daun pisang muda,” katanya.

Setelah itu, kata Yacob, ketan yang sudah direndam air dimasukkan ke dalam bambu. Dianjurkan merendam ketan agar mendapatkan hasil yang lebih lembut. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit sampai satu jam lebih untuk merendam ketan tersebut. "Sedangkan bambunya kami order langsung dari Amut Ngraya Teubeung, Pidie," kata M. Yacob. 

Sajian lemang | Foto: blogspot.com

Untuk usahanya itu, Yacob mengatakan setiap hari, sedikitnya, menghabiskan tiga setengah karung beras ketan sebagai bahan membuat lemang. Meski Yacob juga berbisnis lemang ubi selain lemang ketan. “Kalau lemang ubi, kami membutuhkan lebih kurang 15 Kg ubi jalar setiap harinya.” 

Menurut Yacob, lemang ubi rasanya lebih lemak dan manis. Sedangkan lemang ketan hitam terasa agak pahit di ujung lidah, dan yang ketan putih agak tawar.

Di tempat itu Yacob juga menjual tape ketan untuk pasangan menyantap lemang. Tapi biasanya, tambah Yacob, konsumen lebih menyukai makan lemang bersama selai serikaya.

Modal awal Yacob untuk berjualan lemang berkisar Rp2.500,000/hari. Penghasilannya bisa sampai Rp5.500,000/hari. Keuntungan yang didapat setengah dari modal yang dikeluarkan.

Harga jual lemang sendiri mulai dari Rp30 ribu sampai Rp100 ribu/bambu. Kalau dipotong-potong harganya ada yang Rp5 ribu, Rp10 ribu dan Rp20 ribu. 

Lemang dengan sajian berbeda | Foto: amazon.com

"Usaha ini sebenarnya turun temurun. Kami sudah 24 tahun menggeluti usaha  jualan lemang, tapi hanya pada setiap bulan Ramadan saja. Saya membantu meneruskan usaha lemang orang tua," jelas Yacob.

Dari bisnis lemang itu, pria asal Punoe, Kembang Tanjong, Pidie, ini bisa mempekerjakan  8 orang dari kalangan  keluarga. Ini tak menjadi soal, katanya. 

Apalagi lemang Yacob boleh dibilang laris manis karena rasanya yang berbeda. Tapi, soal rasa, Yacob mengaku tidak memiliki resep bumbu khusus. "Bahannya semua sama dengan lemang yang lain," katanya.

Hanya saja, agar cita rasanya lebih lekat dan aromanya berbeda, Yacob selalu menggunakan api arang untuk membakar lemangnya. "Api juga harus selalu dijaga agar tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil," jelas Yacob, sedikit mulai menyingkap rahasia dagang lemangnya.

Pembakaran itu, menurut Yacob,  memakan waktu sekitar 4 jam. Proses dari awal sampai akhir menyita waktu hingga 6 jam. "Setelah itu baru lemang bisa disantap dan  dijual," tutup Yacob. Anda mau menjajal membuat lemang ala Pak Yakob? Boleh, dong, ikuti tips yang dia berikan tadi. Selamat mencoba! 

Cara membuat lemang yang lezat

 Bahan Lemang:

  • 1 kg Beras Ketan
  • 1 Liter Santan Kelapa (Kental)
  • Garam Secukupnya
  • Bambu/Bulu Muda Secukupnya
  • Daun Pisang Secukupnya

 Proses pembuatan

  1. Pertama, cuci beras ketan sampai bersih. Setelah dicuci bersih, rendam selama kurang lebih 4 jam. Kemudian cuci kembali lalu tiriskan.
  2. Setelah dicuci dan ditiriskan. Campurkan garam dan santan secukupnya. Kemudian aduk hingga semua bahan campuran tercampur merata. Lalu sisihkan.
  3. Cuci Bambu atau bulu muda di bagian dalam dan luar hingga benar-benar bersih. Kemudian lapiskan bagian dalam bambu dengan menggunakan daun pisang. Caranya gulung terlebih dahulu selembar daun pisang lalu masukan ke dalam ruas bambu.
  4. Masukan beras ketan yang telah dicampurkan dengan garam dan santan sebelumnya ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang. Namun jika Anda merasa kesulitan, Anda juga bisa langsung membungkus bahan lemang menggunakan daun pisang dan memasukan ke ruas bambu
  5. Tutup bagian ruas bambu menggunakan gulungan daun pisang dengan rapat.
  6. Bakar lemang di atas bara api yang panas dengan posisi bambu atau bulu muda menghadap atau mengarah ke atas namun sedikit dimiringkan.
  7. Agar makanan matang dengan rata, Anda bisa membolak-balikan posisi bambu selama pembakaran.
  8. Setelah matang, angkat dan keluarkan lemang dari bambu. Kemudian potong-potong menjadi beberapa bagian dan hidangkan.

Komentar

Loading...