Menjejak 33 Tahun, 23 Juli 1988-23 Juli 2021

Pesona LPDS di “Rimba” Jurnalisme Indonesia

Pesona LPDS di “Rimba” Jurnalisme Indonesia
Mohsa El Ramadan, CEO www.kba.one. | Foto: Dok KBA.ONE.

LPDS adalah jendela terbuka untuk melihat dunia jurnalisme lebih dalam, luas dan berintegritas.

Dua puluh lima tahun lalu, atau selama sepuluh pekan lebih di pengujung 1996, saya pernah mengecap pendidikan jurnalistik di Lembaga Pers DR Soetomo (LPDS) Jakarta. Saya, bersama 12 wartawan lainnya masuk di kelas program KPJ-V.

KPJ-V adalah akronim dari Kursus Penyegaran Jurnalistik angkatan ke-lima. Belakangan, kelas program pelatihan selama tiga bulan ini ditiadakan. Mungkin karena waktunya terlalu lama sehingga banyak jurnalis tak sempat mengikuti kelas ini, atau ada alasan lain yang melatari. Tapi bagi saya, kelas program ini cukup keren, menarik, menyenangkan, dan sangat bermanfaat.

Masa itu, teman seangkatan saya adalah Dedi Junaedi (Republika), Yon Sumaryono (Suara Merdeka), Muslimin Hamzah (Bali Post), Nur Islam (Lampung Post), AS Nugroho (TVRI), Hilman Yudistira (Persda), Eri Ansori (Koran Kampus Arena), Sugeng Riadi (Majalah IKIP Muhammadyah Jakarta), Yetti Aryani (Lampung Post), Sri Rendro Dhani (Unhas) dan terakhir Donny Putra (TVRI). Tapi, Donny Putra belakangan mundur karena tiba-tiba dipanggil prajabatan di kantornya.

LPDS yang kala itu "dikomandoi" Pak Atmakusumah Astraatmadja sebagai direktur eksekutif, sukses membentuk karakter diri kami menjadi wartawan yang pede karena sudah dijejali ilmu jurnalistik mumpuni. Apalagi  saat itu, selain Pak Atma, kami juga digembleng instruktur berlatar wartawan senior dan hebat di zamannya seperti Pak Amir Daud (Alm), Pak Maskun Iskandar (Alm), Pak Warief, Pak Ed Zoelverdi (Alm), dan beberapa instruktur yang didatangkan dari luar LPDS.

Bagi kami, LPDS adalah jendela terbuka untuk melihat dunia jurnalisme lebih dalam, luas dan berintegritas. Dari "rumah besar" lembaga pendidikan wartawan—menurut kami paling berkelas di Indonesia—ini kami merasa yang awalnya “sok hebat” berubah menjadi “bukan siapa-siapa”. Dan dari sini pula karakter kami dibentuk dan diubah dari “bukan siapa-siapa” menjadi “siapa-siapa”.

Tanpa menafikan instruktur lain, LPDS masa itu memiliki sosok instruktur yang unik, tegas dan berkarakter sekelas Pak Amir Daud. Dia, kala itu, ikonnya LPDS soal konsistensi menempatkan tanda baca yang benar di dalam sebuah berita. Amir Daud terbilang “maniak” dan tak pernah bosan membahas titik koma hingga berminggu-minggu lamanya. 

Di dalam mengajar, Pak Daud memiliki style berbeda, nyentrik, tegas, disiplin waktu, terkesan "arogan" dan tanpa kompromi soal kesalahan tanda baca. Kata kampungan, pedesaan dan embel-embel tak sedap lain sering keluar dari mulut Pak Amir Daud jika melihat kami berulang melakukan kesalahan tanda baca. "Itu namanya habit, kampungan," kata Pak Daud saat itu.

Amir Daud (kiri) dan Lukman Setiawan. | Foto: Ist.

Tapi, dari ketegasan Pak Amir Daud inilah karakter dan kedisiplinan kami soal tanda baca terbentuk. Dan karena itu, kelak Amir Daud  kami beri gelar "Profesor Titik Koma". 

Dia kaget mendapat gelar dadakan itu. Apalagi gelar itu  kemudian kami tuangkan dalam bentuk profil khusus di majalah Akurat produk akhir kelas program KPJ-V.

"Apa alasan Anda menggelari saya profesor titik koma?" tanya Pak Daud kepada saya yang dipanggil khusus di meja kerjanya. 

"Karena Bapak sudah membuka mata kami tentang penempatan titik koma yang benar dalam berita," jawab saya sekenanya. Dan Pak Amir Daud tersenyum. Saya pun sumringah melihat isyarat kata sepakat dari Pak Daud.

Pak Daud adalah sosok konservatif untuk urusan pers. Ia pernah bergabung di redaksi harian Waspada Medan, bekerja di harian Pedoman, Bisnis Indonesia, The Jakarta Post, koresponden AFP dan AP, dan majalah Time Amerika. Sekitar sepuluh tahun kemudian, setelah KPJ-V berakhir, mantan wartawan MBM Tempo era 1977 ini wafat di usia 79 tahun pada 2006. 

Etika Pers dan Kebebasannya

Komentar

Loading...