Pesona Masker dari Balik Tembok Penjara

Pesona Masker dari Balik Tembok Penjara
Sosok perajin masker dari balik jeruji besi Lapas Lhoksukon. | KBA.ONE, Try Vanny

KBA.ONE, Aceh Utara – Tak selamanya penghuni penjara itu nakal dan tidak kreatif. Di Lapas Kelas II-B Lhoksukon, Aceh Utara, stigma buruk itu dibuktikan terbalik oleh para narapidana perempuan di sana.

Sejak 20 hari belakangan, warga binaan perempuan di lapas itu tengah rajin menekuni kegiatan menjahit masker. Ini salah satu cara untuk menghambat penularan pandemi Covid-19.

Awalnya, masker-masker buatan warga binaan itu dijahit untuk memenuhi kebutuhan penghuni lapas saja. Rupanya belakangan, masker-masker dari balik jeruji itu menarik perhatian pelaku pasar di luar tembok penjara.

Peralatan kerja mereka pun mulanya minim, hanya mengandalkan satu unit mesin jahit milik lapas. Tapi, hasilnya, masker cantik dengan aneka warna itu justru bikin kepincut pasar lokal dan provinsi.

“Setiap hari saya ditanya ada berapa stok masker, walau baru selesai enam helai maka segitu juga yang langsung diambil oleh pedagang,” kata Yusnaidi, Kepala Lapas, kepada wartawan, Rabu 8 April 2020.

Dia menjelaskan, awalnya kegiatan ini karena adanya instruksi pemerintah untuk selalu memakai masker. Tapi, karena banyaknya permintaan, masker menjadi barang langka dan sulit ditemukan di pasaran ataupun apotek.

Karena alasan itu, akhirnya Yusnaidi memilih mengajarkan narapidana perempuan untuk membuat masker, terlebih mereka sudah memiliki bakat menjahit.

“Saya sempat upload ke media sosial dan langsung dapat respon dari Banda Aceh untuk pesan 20 lusin masker. Tapi saya tolak karena keterbatasan sarana,” ucap Yusnaidi.

Kini, menurut Yusnaidi, para napi perempuan itu perharinya mampu memproduksi 30 helai masker yang dibanderol dengan harga Rp10 ribu. Segala bahan untuk pembuatan disediakan pihak lapas. "Mereka hanya membuat masker dengan standard yang sudah ditentukan," kata Yusnaidi.

Menyikapi kebutuhan tersebut, pihak Kejaksaan Aceh Utara tidak tianggal diam. Korp adhyaksa ini bergegas menyumbang dua unit mesin jahit untuk memberdayakan para perajin masker di dalam lapas.

Mesin tersebut berasal dari Kepala Kejaksaan Pipuk Firman Priyadi dan Kepala Seksi Pidana Umum Yudi Permana. Keduanya mengaku berempati melihat kondisi para warga binaan di lapas.

“Kalau lebih banyak mesinnya, tentu masker yang dihasilkan juga lebih banyak dan pendapatannya semakin meningkat. Ini, kan, bisa menjadi tabungan untuk para narapidana, dan diambil saat mereka bebas nanti,” kata Pipuk.

Seorang napi perempuan, Jamailiah, awalnya mengaku hanya mendapat tugas memotong kain dan karet karena terbatasnya mesin jahit. Tapi sekarang Jamailiah sudah bisa menjahit masker bersama-sama rekannya.

“Kami semakin semangat untuk membuat masker. Ada beberapa yang belum bisa menjahit, tapi nanti pasti akan diajarkan apalagi sarananya sudah ada,” ungkap Jamailiah. ***

Komentar

Loading...