Pemilik Aset Keberatan Rumahnya Dipasang Spanduk ‘Disita Eksekusi’

Pemilik Aset Keberatan Rumahnya Dipasang Spanduk ‘Disita Eksekusi’
Spanduk Disita Eksekusi yang dipasang pihak ketiga di rumah So Tjan Peng. | Foto: Ist

KBA.ONE, Medan - Nasabah yang rumahnya dilelang Bank Mandiri, Linawati dan suami So Tjan Peng, kembali keberatan. Pasalnya, rumah yang dijadikan agunan kredit dan masih bersengketa di Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam tersebut dipasang ‘disita eksekusi’ oleh pihak ketiga, Rabu 2 Oktober 2019.

“Tadi pihak Pengadilan Negeri Lubuk Pakam dan pemenang lelang dan pengacaranya datang ke rumah. Mereka membacakan putusan sita ekseksi,” ujar So Tjan Peng, Rabu.

Mereka yang datang ini, sebut So Tjan Peng, 4 orang dari pihak pemenang lelang, dan 4 orang lainnya dari PN Lubuk Pakam. Namun, dalam proses pemasangan sita eksekusi ini, ada yang aneh karena dilakukan langsung pemenang lelang dan kuasa hukumnya.

“Keberatan kita itu, pertama mereka datang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan. Kemudian yang pasang spanduk ‘Disita eksekusi’ dilakukan pemenang lelang, Eli dan pengacaranya, bukan pengadilan,” ujarnya.

Secara terpisah, konsultan hukum yang juga pengacara, Edi Kurnia, menyebutkan dalam melakukan sita eksekusi, “harusnya, pengadilan melalui juru sita yang memasang sita eksekusi ini," tegas Edi.

Sementara pihak ketiga, katanya, harusnya hanya menjadi saksi, dan semuanya juga harus lengkap identitasnya. Sedangkan pemenang lelang atau pengacaranya maupun pihak pengadilan, hanya untuk menunjukkan di mana lokasi yang akan disita eksekusi.

"Cuma, untuk pemasangan tetap harus juru sitanya, walaupun ada pihak pengadilan. Karena pengadilan dan pemenang lelang hanya menjadi saksi,” ujarnya.

Secara terpisah panitera Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Asmar Josen, yang dikonfirmasi mengatakan sita eksekusi yang dilakukan tersebut sudah sesuai SOP. Karena sebelumnya sudah diberikan pemberitahuan.

Sedangkan juru sita Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Azhari Siregar, sebelumnya mengatakan pihaknya hanya membacakan sita eksekusi dan penetapan. Sedangkan untuk pemasangan spanduk, terserah pada pemohon eksekusi.

"Kita hanya melakukan sita eksekusi. Ya, kalau pemohon ingin memasangnya, dipasangnya. Hak dia kan, tugas kami hanya meletakkan sita eksekusi terhadap objek yang dilelang itu," ujarnya.

Sita eksekusi yang dilakukan ini, sambungnya, sesuai dengan instruksi yang diterimanya dari pimpinan.

Untuk diketahui, hingga saat ini kasus sengketa kredit ini masih terus bergulir di PN Lubuk Pakam. Terakhir, Senin (23/9) digelar sidang perdana dan di Pimpin Hakim Majelis Risa Sulastri didampingi hakim anggota Pinta Lili Br Tarigan dan Anggalanto B Manalu.

Dalam proses gugatan tersebut, pelawan So Tjan Peng dan terlawan yang dihadiri perwakilan masing-masing pihak terlawan; PT Bank Mandiri Kantor Cabang Imam Bonjol, Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dan Badan Pertanahan Deli Serdang
dianjurkan untuk melakukan mediasi untuk menyelesaikan sengketa tersebut.

Sedangkan turut terlawan II, Eli sebagai pemenang lelang tidak hadir. Dalam gugatannya, pelawan meminta Ketua PN Lubuk Pakam untuk menunda atau membatalkan eksekusi karena pelaksanaan lelang yang dilakukan pada 20 September 2018 dianggap cacat hukum.

Apalagi dalam perjalanannya, ada upaya membuka blokir aset di Badan Pertanahan Negara (BPN) Deli Serdang yang diduga menggunakan dokumen palsu kemudian mengalihkan kepemilikan aset tersebut hingga menjadi milik pemenang lelang, Eli.

Kasus ini, juga meluas hingga ke Polres Deli Serdang. Ini setelah adanya dugaan penggunaan dokumen palsu untuk membuka blokir aset tersebut di Badan Pertanahan Negara (BPN) Deli Serdang.

Kasus ini bermula dari kredit macet yang menyebabkan rumah atas nama Linawati dilelang pada Mei 2018 silam. Enam bulan kemudian, tepatnya September, aset tersebut dilelang oleh KPKNL. Aset rumah tersebut diperkirakan harga pasarannya mencapai sekira Rp2 miliar. Namun melalui KPKNL pemenang lelang membelinya hanya sekira Rp800 jutaan saja. | SRI WAHYUNI, Kontributor Medan.

Komentar

Loading...