Testimoni HT Ibrahim, ST

Pola Belajar dan Pengembangan Diri Anak Harus Seimbang

Pola Belajar dan Pengembangan Diri Anak Harus Seimbang
HT Ibrahim, ST. | Foto: Ist

Jika anak pintar tidak berakhlak mulia maka sekolah itu belum bisa disebut sekolah unggul. HT Ibrahim, ST.

SEKOLAH unggul dan favorit selalu menjadi impian bagi setiap anak. Padahal, dalam realitanya, semua sekolah pada prinsipnya sama, begitu juga kurikulumnya. Lalu, bagaimana orang tua murid melihat fenomena sekolah unggul yang menjadi favorit bagi anak-anak mereka? Simak testimoni HT. Ibrahim, ST, Ketua Komite Sekolah SMPN 6 Banda Aceh dan Ketua Komite SMA Labschool Unsyiah, Banda Aceh.

Menurut penilaian Ibrahim, keberlangsungan proses belajar mengajar pada sekolah - sekolah unggul Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), sangat tergantung peran wali murid yang diwakilkan kepada komite sekolah. Sebab, di sana ada pengawasan terpadu antara wali murid dan manajemen sekolah.

Naik turunnya minat anak didik untuk memilih sekolah favorit, kata Ibrahim ST,  biasanya berdasarkan referensi dari pengalaman siswa yang pernah belajar di sekolah itu. “Mereka menginformasikan tentang keunggulan sekolah tersebut, maka sekolah itu akan menjadi rebutan setiap tahun ajaran baru.”

Ibrahim selaku ketua komite sekolah mengaku selalu memberi masukan kepada kepala sekolah dan guru agar pola belajar dan pengembangan diri anak didik harus seimbang  dalam ekstra kurikuler. Sebab, katanya,  jika anak pintar tidak berakhlak mulia maka sekolah itu belum bisa disebut sekolah unggul.

“Jika anak didik mampu meraih keduanya, yaitu ilmu pengetahuan dan kepribadian sosial, baru boleh dibilang sekolah itu disebut unggul dan akan menjadi favorit setiap tahun ajaran baru.”

Pada prinsipnya, sebut Ibrahim, komite sekolah selalu mendukung setiap penerapan peraturan kepada siswa siswi, seperti larangan menggunakan hp smart phone. “Cukup dengan HP jadul sehingga siswa terhindar dari penyimpangan penggunaan hp smartphone,” kata Ibrahim.

Kemudian, tambah Ibrahim,  dalam penerapan full day school cukup membuat anak didik merasa optimal dalam memperoleh pelajaran. Itu akan menjadi keunggulan juga sebab di rumah mereka hanya tinggal berinteraksi dengan keluarga.

Model seperti sekolah unggul yang ada di kota - kota besar mestinya bisa diikuti oleh sekolah yang ada di daerah terisolir dan daerah pedalaman dengan memaksa para guru bersedia tinggal di daerah pedalaman.

Bahkan, kata Ibrahim,  jika perlu membentuk organisasi para komite sekolah agar menjadi saling tukar informasi keberadaan sekolah dan kondisi sekolah itu sendiri. ***

Komentar

Loading...