Prahara Khatulistiwa

Prahara Khatulistiwa
Ilustrasi | Pixabay

Gelagat prahara tak selalu bisa diramalkan oleh “kitab nujum” manusia.

SETELAH "bara" mencengkeram langit Aceh hingga panasnya pernah 37,4 derajat celcius, kini giliran hujan dan angin kencang mendera. Atap-atap rumah dan pepohonan di Aceh Jaya, Aceh Utara, Pidie, Aceh Selatan, dan beberapa daerah lain beterbangan dan bertumbangan. Bahkan dua perahu kecil yang akan menyeberang ke Pulau Aceh karam ditelan badai laut. Beruntung tidak ada korban jiwa akibat fenomena alam itu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebelumnya, yaitu pada awal Mei 2019,  pernah memprakirakan musim kemarau di Aceh bakal molor hingga September 2019. Suhu panas itu—pada 3 Mei 2019 tertinggi 37,4 derajat celcius—terus bergerak naik menyusul datangnya musim kering.

BMKG boleh-boleh saja “meramal” suhu panas di Aceh akan betah hingga tiga bulan ke depan. Tapi alam memberi isyarat berbeda. Barangkali ini yang patut diwaspadai warga karena gelagat cuaca ekstrem tak selalu bisa dibaca oleh teknologi manusia.  

Di Aceh Tenggara, misalnya, banjir datang tiba-tiba. Puluhan desa terendam dan rumah warga tergenang air hingga lebih satu meter. Limpahan air itu akibat hujan disertai angin yang tak berhenti hingga bendungan air pecah. Ini kejadian berulang, begitu juga longsor akibat pembalakan liar.

Seperti sebuah tradisi, peralihan musim panas ke penghujan berpotensi mendatangkan bencana badai hujan disertai angin, bahkan puting beliung. Prahara ini tak cuma menyinggahi Aceh, beberapa daerah di Indonesia juga bernasib serupa. Meski, puting beliung hanyalah fenomena cuaca alamiah yang biasa terjadi ketika musim pancaroba tiba.

Kita tidak boleh menganggap gelagat alam ekstrem ini sebagai sesuatu yang biasa. Beberapa kasus di belahan dunia, hujan disertai angin kencang kecepatannya bisa mencapai 120 km/jam atau lebih. Rumah-rumah roboh bahkan menelan banyak korban jiwa, harta, dan benda.

Di Aceh perlu kewaspadaan tinggi menghadapi fenomena ini. Jika hendak melaut, berkompomilah dengan cuaca. Tapi jika tengah di darat sebaiknya hindari berada di dekat pohon, termasuk ketika memarkir kendaraan.

Aceh pernah punya catatan buruk menghadapi bencara ganda; digempur gempa dan tsunami maha dahsyat. Ratusan ribu jiwa melayang karena kita tidak punya “buku panduan” tentang smoong itu. Kita, waktu itu,  pasrah saja pada iradat Illahi Rabbi.

Kini, bahaya lain mengintai. Amukan badai mulai menerkam beberapa kawasan. Tak cuma pohon bertumbangan, atap rumah beterbangan, aliran listrik di beberapa kawasan padam, tapi banjir ikut mengganggu dan mengancam keselamatan warga.

Perlu penanganan ekstra pemerintah kabupaten dan kota untuk merekonstruksi benteng air yang sebentar-bentar pecah diterjang arus, memotong cabang-cabang pohon besar, tua, dan tinggi yang berpotensi tumbang di pinggir atau median jalan. Tapi bukan berarti kita abai memangkas pohon di sekitar rumah yang kira-kira rawan ambruk.

Lakukan sosialisasi cara menghadapi banjir dan longsor. Ingatkan warga agar jika badai datang dan kita sedang berada di rumah, segera tutup jendela dan pintu, lalu kunci rapat-rapat. Pastikan semua aliran listrik dan peralatan elektronik mati. Jangan lupa mencopot regulator tabung gas untuk mencegah kebakaran.

Menjauhlah dari sudut ruangan, pintu, jendela, dan dinding terluar bangunan. Kemudian Anda bisa berlindung di tempat aman seperti di tengah ruangan.

Bagaimana jika badai datang kita sedang berada di dalam kendaraan? Segera hentikan laju kendaraan, cari tempat perlindungan terdekat dan teraman. Agar Anda tak terluka disapu prahara khatulistiwa yang datang acap tiba-tiba; tak selalu menuruti “kitab nujum” manusia! ***

Komentar

Loading...