Prahara Poliandri Berujung Cemeti

Prahara Poliandri Berujung Cemeti
ER, di ujung cemeti. | Foto: Ist

Kisah ini ditutup ketika aktor utama ER menjadi pesakitan di depan algojo yang mengayun cemeti. Suami-suami sirinya juga mendapatkan hukuman serupa.

BERMULA KISAH dari Aceh Tamiang, tentang poliandri yang dilakoni seorang ibu rumah tangga berinisial ER. Di depan hukum dan adat kampung, ER mampu mengelabui mata semua pihak.

Bahkan ketika para legislator yang rapi di gedung parlemen Aceh sedang sibuk menggarap Qanun Poligami untuk mengesahkan lelaki boleh kawin lebih dari satu, ER malah poh sampeng. Seperti sebuah ejekan, bahwa ia tak perlu qanun untuk "menggarap" beberapa lelaki.

Pemeran utama dalam lakon ini adalah ER, ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja tapi mampu menciptakan kisah luar biasa ini. Sedangkan pemeran antagonis pria pertama adalah MY alias WB, duda yang selalu muncul di sepanjang kisah ER. Lalu, antagonis pria kedua adalah PO alias BA.

Adapun pemeran protagonis adalah DS, suami ER. Sementara, pemeran tambahan maupun cameo-cameo meliputi beberapa orang seperti tukang kadi, kepala desa, kepala dusun, dan mahkamah syariah.

Kita mulai kisah pada 3 Oktober 2011 ketika DS dan ER menikah lalu keduanya dikaruniai dua anak. Perjalanan cinta rumah tangga keduanya berjalan lancar tanpa godaan berarti, hingga tujuh tahun kemudian ketika MY alias WB mulai masuk ke dalam cerita.

WB duda gaek sebenarnya. Telah lama ia menduda tersebab istrinya meninggal dunia. Mungkin, karena terlalu lama kesepian dan tubuh belum ringkih-ringkih amat, WB pun "cari angin" supaya nafsu tak bercabang-cabang.

Sekitar awal Desember 2018, WB bertemu dengan ER yang baru pulang dari Takengon. Saat itu, ER turun di kawasan Kejuruan Muda. Inilah pertemuan perdana mereka. Lalu WB menawarkan untuk mengantarkan ER ke rumahnya. ER menyanggupi.

Sesudah itu, seperti yang mampu Anda tebak, affair berlanjut. Jarak yang jauh dipangkas keduanya melalui sambungan telepon hingga tahun berganti.

Pada 5 Februari 2019 ER bersama anaknya hendak pergi ke daerah destinasi wisata Gunung Pandan. Dia meminta WB mengantarkannya hingga Kota Langsa. Duda yang dimabuk cinta ini pun menuruti.

Setelah itu WB pulang sedangkan ER menumpang becak mesin bersama anaknya menuju lokasi wisata tersebut. Tidak jelas kenapa WB tidak ikut bersama ER.

Namun, di lain hari keduanya bertemu lagi pada sebuah kenduri di tempat kakak ER. Saat itu, DS juga berada di sana. Tengoklah tingkah si duda antagonis kita ini, dengan santai dia bersalaman dengan DS dan menanyakan kabar. Sebuah basa-basi yang basi.

Padahal, di tengah badai, affair itu terus berlanjut ke babak berikutnya. Dan agaknya bau tak sedap telah tercium.

Beberapa hari setelah itu, DS menelepon WB agar datang ke rumahnya. WB datang dan ternyata di sana telah menanti perangkat kampung. Rupanya WB dinanti untuk disidangkan. Dia ditanya kenapa mengantar ER ke Kota Langsa

WB kaget bukan kepalang. Dia pun menjelaskan tak bermaksud apa-apa, cuma ingin menolong saja. Tentu WB harus menutup rapat-rapat kisah cinta terlarang ini.

Dengan kelincahan kata-kata seorang duda seperti WB tak susah sebenarnya untuk meyakinkan para perangkat desa. Sidang pun ditutup dengan ditekennya sebuah surat yang isinya menyatakan bahwa semua permasalahan sudah selesai. WB lega. Kisah cintanya masih jauh dari ujung cambuk.

Di tengah kelegaan itu, pada bulan April telepon WB berdering. Rupanya ER menelepon untuk memberikan "kabar baik". ER mengatakan kalau DS sudah meninggalkannya melalui "pintu belakang".

Saat itu, hidung WB sebenarnya sudah kembang kempis. Hatinya bungah tapi ia mencoba menetralisir suasana. "Kok pergi?" tanya WB kepada ER, seoleh ikut bersimpati pada kesedihan sepia-nya itu.

Sementara di rumahnya, ER kini bersiap-siap mengurus gugatan perceraian ke mahkamah syariah setempat. Namun, karena rencana gugatan dimasukkan sepekan sebelum Ramadan, mahkamah menunda sidang hingga habis lebaran pada Juni.

Nikah Siri

Ini pembabakan kedua kisah ER dan WB. Setelah melihat gugatan yang tergantung di mahkamah dan DS tak jelas rimbanya, WB kian gencar mendekati ER. Kini, tak ada halangan lagi buat mereka.

WB pun dengan gencar meyakinkan ER kalau dia sudah ditalak DS. ER pun luluh. Perempuan ini meminta duda tersebut menikahinya secara siri.

Sebagai pendukung kelancaran nikah siri, ER membuat sebuah surat pernyataan bahwa suaminya telah menceraikannya. Keduanya kemudian dinikahkan oleh seorang imam desa di kecamatan berbeda.

Setelah merasa hubungan cinta keduanya telah sah, ER pun mulai berani datang ke rumah WB. Seperti yang dilakukannya pada 6 Juli 2019. Namun, keduanya apes malam itu.

Sekira pukul 22.30 WIB perangkat desa menggerebek rumah. Pintu dibuka oleh ER, lalu memanggil "suaminya" WB. WB menjelaskan kepada perangkat desa kalau mereka sudah nikah sirih. Namun, perangkat desa WB rupanya tidak terpedaya dengan keterangan sang duda. Keduanya pun dilaporkan ke Polres Aceh Tamiang.

September Ceria

September seakan menjadi bulan yang sangat berarti bagi ER. Pada September 2019, ketika telah menjadi "milik" WB, hatinya masih tersandung pada gerak-gerik seorang bandot tua dari Langkat, Sumatera Utara.

Bandot tua berinisial PO itu juga kesengsem dengan ER ketika melihatnya di sebuah warung minum di pinggir Jalan Banda Aceh-Medan, kawasan Kejuruan Muda.

Agar kisah cinta dadakan mereka tak kemarau, pada 19 November 2019, ER bersama PO mencari kadi atau penghulu yang mau menikahkan mereka. Kadi pun didapat dari Langkat.

Nah, berangkatlah mereka ke Langkat. Di hadapan kadi, ER mengaku sebagai janda. Ini tentu bualannya supaya kadi punya alasan menikahkan.

Keduanya menikah pada 21 November dengan mahar Rp100 ribu. Sesudah itu membuat satu lembar surat pernyataan menikah.

Setelah menikah, ER kembali ke Langsa. Keduanya bersepakat tinggal di rumah masing-masing. Namun, rasa kangen yang menghantui PO menggerakkan langkahnya untuk menyewa rumah di kawasan Kejuruan Muda. Tujuannya supaya dia dekat dengan ER.

Pada 6 Desember, sekira pukul 18.00 WIB, PO mengajak ER bertemu di rumah tersebut. Kunci rumah dipegang oleh ER. Namun, baru pada pukul tiga dinihari PO datang. Selanjutnya mereka melepas kangen.

Paginya, sekitar pukul 07.00 WIB, datang petugas dari Polres Aceh Tamiang yang telah mendapat informasi dari masyarakat. ER dan PO pun digari dari dalam rumah ketika kangen belum habis tertumpahkan. Keduanya kemudian dibawa untuk diproses di Polres Aceh Tamiang.

Sad Ending Sebuah Affair

Kisah ini ditutup ketika aktor utama cerita kita, ER, menjadi pesakitan di depan algojo yang mengayun cemeti. Selain ER, suami-suami sirinya juga mendapatkan hukuman serupa.

Berdasarkan Qanun Jinayat dan beberapa aturan lainnya, Majelis Hakim Mahkamah Syariyah Kualasimpang pada Selasa, 2 Maret 2020, menghukum ER, PO, dan MY alias WB dengan cambukan di depan umum. Ketiganya telah terbukti secara sah dan meyakinkan mengaku melakukan jarimah zina.

Jumlah cambukan bervariasi tergantung level "dosa". MY dan PO dicambuk 100 kali. Ya, PO yang dalam tuntutan hakim mahkamah disebutkan telah enam kali "naik bulan" bersama ER. Ganas juga bandot tua ini.

Sementara ER, perempuan 39 tahun yang nekat mengarungi mahligai rumah tangga suami lebih dari satu, mendapat hukuman 200 kali cambukan.

Kisah cinta durjana memang sering berakhir petaka. Apa hendak dikata, dari beratus ribu perempuan di Aceh Tamiang, MY dan PO memilih ER. Dan mereka pun merajut prahara poliandri yang akhirnya tumbang di ujung cemeti ini.

SUTRISNO | Kontributor Aceh Tamiang

Komentar

Loading...