Prihatin Nasib Rawa Singkil, Sejumlah Pemuda Desak Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Perambah

Prihatin Nasib Rawa Singkil, Sejumlah Pemuda Desak Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Perambah
Sejumlah pemuda melakukan aksi damai menyuarakan perlindungan kawasana suaka marga satwa (SM) Rawa Singkil dari perambahan dan perluasan (ekspansi) perkebunan kelapa sawit di taman Bustanul Salatin, Banda Aceh, Kamis 4 November 2021. | Foto: KBA.ONE, Fitri

KBA.ONE, Banda Aceh - Perambahan kawasan hutan masih terus terjadi di Provinsi Aceh. Bahkan, kawasan konservasi pun tak luput dari perambahan yang biasanya dijadikan perkebunan dilakukan oleh oknum.

Seperti yang terjadi di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, di Gampong Lhok Raya, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan. Kawasan lindung ini kembali dirambah oknum untuk membuka perkebunan kelapa sawit.

Sejumlah titik lahan kembali dibuka dengan cara dibakar. Padahal di kawasan konservasi itu telah didirikan plang larangan menebang pohon dan membuka lahan yang dipasang oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Akibat keprihatinan terhadap perambahan di Rawa Singkil, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Romoh Transparansi (RT), dan pemuda penggiat lingkungan melakukan aksi damai menyuarakan perlindungan kawasana suaka marga satwa (SM) Rawa Singkil dari perambahan dan perluasan (ekspansi) perkebunan kelapa sawit. Aksi damai tersebut dilakukan di taman Bustanul Salatin, Banda Aceh, Kamis 4 November 2021.

Roni Syahputra koordinator aksi mengatakan mereka sangat prihatin dengan kondisi Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil saat ini, khususnya dengan kurangnya perhatian dan kepedulian dari lembaga pemerintah dalam mengelola kawasan tersebut demi keberlangsungan ekosistem dan masyarakat di sekitar kawasan Rawa Singkil. 

“Aksi damai ini kami lakukan agar publik juga mengetahui kondisi terkini SM Rawa Singkil yang butuh perhatian setinggi-tinggginya, dan kami meminta Badan Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Aceh dan penegak hukum untuk melakukan penegakan hukum bagi perambah kawasan SM Rawa Singkil” jelas Roni.

Roni juga mengatakan SM Rawa Singkil merupakan daerah lahan gambut yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Perambahan yang terjadi di kawasan ini terbilang masif. “Kawasan ini secara masif terus dirambah dan berlahan beralih menjadi lahan-lahan perkebunan sawit,” lanjutnya. 

Sejak ditunjuk sebagai kawasan Suaka Margasatwa tahun 1997, dengan Surat Keputusan Menteri kehutanan Nomor 166/kpts-II/1997, SM Rawa Singkil disebutkan memiliki luas mencapai 102.500 hektare, terletak di Kabupaten Aceh Selatan, Singkil, dan Kota Subulussalam.

Dalam perkembangannya, luas lahan kawasan lindung tersebut semakin berkurang karena terus dirambah oleh oknum untuk dijadikan lahan perkebunan sawit. Kementerian kehutanan kembali mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 103/MenLHK-II/2015 dengan luas 81.338 hektarE di tahun 2015.

“Awalnya ini adalah sebuah kawasan lindung, namun kita lihat ini terus beralih fungsi menjadi kawasan sawit,” ujar Koordinator Devisi Hukum dan Advokasi Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Nurul Ikhsan

Belakang, kata dia, kawasan tersebut hanya memiliki luas lebih kurang 81 ribu hektare dan ini terus dirambah oleh oknum untuk dijadikan lahan perkebunan sawit. | FITRI, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...