Puasa 23 Jam di Antara Gunung Api dan Aurora

Puasa 23 Jam di Antara Gunung Api dan Aurora
Kota Reykjavík di Islandia. | Foto: Cnnindonesia.com

KBA.ONE, Rykjavik - Setahun setelah menempuh pendidikan S2 pada tahun 2015, saya kembali lagi ke Islandia untuk melanjutkan pendidikan S3. Saya beruntung bisa menikmati pendidikan di Universitas Islandia jurusan Ilmu Bumi melalui fasilitas LPDP.

Kedatangan saya ke Islandia untuk yang kedua kalinya kini sudah bersama istri dan anak. Istri saya fokus menjadi ibu rumah tangga dan mengasuh anak kami yang lahir di sini. Anak saya kini sudah duduk di bangku leikskoli atau TK.

Islandia negara yang sangat tenang. Hanya saja harga sewa rumah, makanan, perlengkapan anak, transportasi, kirim paket di sini sangat mahal. Selain soal biaya hidup, tinggal di sini sangatlah nyaman, terutama bagi yang sudah berkeluarga.

Saya belajar tentang ilmu bumi di sini. Berasal dari Indonesia, yang notabene negara dengan sebutan Cincin Api, tentu saja membuat saya semakin tertarik untuk mempelajari soal gunung api di Islandia dan Indonesia.

Kalau segi perbedaan tentu pertama dari segi tektonik Islandia dan Indonesia berbeda. Di Islandia tektoniknya lebih ke perekahan lempeng samudera, dimana erupsi di sini lebih bersifat efusif (aliran lava) dengan viskositas rendah.

Kalau di Indonesia tektoniknya lebih ke zona subduksi, dimana erupsinya kebanyakan lebih bersifat eksplosif dan aliran lava yang viskositasnya relatif tinggi daripada di Islandia.

Untuk aktivitas tektonik di Islandia kurang lebih sama seperti di Indonesia, namun gempa yang dihasilkan tidak terlalu destruktif seperti di Indonesia.

Dari segi penanganan bencana disini, sumber informasi utama dari Veðurstofa Íslands (badan meteorologi dan geofisika Islandia) berkolaborasi dengan Universitas dan Almannavarnadeild (badan pertahanan sipil).

Jadi dalam satu negara, seluruh arus informasi, persebaran data, serta analisa data dalam satu komando yang nantinya diteruskan ke publik.

Sebenarnya di Indonesia pun sudah baik dari segi penanganan bencana, mengingat negara kita jauh lebih luas dari Islandia dengan penduduk jauh lebih padat.

Namun mungkin yang perlu ditiru komunikasi setiap departemen yang terkadang antara satu dan lainnya berbeda penyampaiannya.

Tahun ini saya sedang fokus menyelesaikan disertasi dan persiapan sidang S3. Sama seperti pelajar Indonesia di negara lain, kesibukan saya belajar harus terganggu dengan munculnya pandemi virus corona COVID-19.

Penanganan pandemi di sini cukup baik. Pemerintahnya rajin melakukan deteksi dan pemantauan, sehingga penyebarannya tidak terlalu meluas.

Mengutip dari Worldometer per Sabtu (2/5), saat ini ada 1.798 kasus positif virus corona di Islandia. Total kematiannya 10. Saya harap jumlahnya akan terus menurun.

Pandemi corona juga bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan. Tahun ini merupakan bulan puasa saya yang ke-empat di Islandia.

Walau cuaca di Islandia sejuk, namun lapar dan haus tetap saja dirasakan. Saat awal datang, saya cukup kaget karena harus puasa sekitar 22-23 jam per harinya.

Sempat mencoba puasa mengikuti waktu lokal, namun tidak kuat. Akhirnya saya berpuasa mengikuti waktu Arab.

Untuk menu makanan sebenarnya hampir tidak ada masalah, karena istri saya jago masak masakan Indonesia. Sesama perantau asal Indonesia di sini juga ada yang menjual takjil jika kami sedang malas memasak.

Banyak yang merasa kalau tinggal di Eropa bakal berhadapan dengan rasisme. Namun sebagai orang Asia dan pemeluk Islam di Islandia, hingga saat ini saya belum pernah mengalaminya. Bisa dibilang penduduk Islandia cukup ramah dengan pendatang.

Salah satu pengalaman yang lucu ialah kadang tanpa sadar saya suka berbicara dengan bahasa Indonesia dengan penduduk Islandia. Kalau muka mereka sudah terlihat bingung, baru saya menyadarinya.

Aurora sudah pasti menjadi magnet kedatangan turis mancanegara ke Islandia.

Bagi yang ingin menyaksikan fenomena langit itu, saya sarankan untuk berkunjung antara awal September sampai akhir Maret, karena saat ini masih ada gelap - mengingat peralihan ke musim panas langit akan jauh lebih terang.

Tempat terbaik untuk menikmati aurora ialah di pinggiran kota, karena aurora lebih terlihat terang di kawasan yang tanpa polusi cahaya.

Pecinta wisata alam sudah pasti wajib datang ke Islandia. Selain aurora, negara ini juga punya segudang wisata alam lainnya seperti gunung api, gletser, gua es, geyser, mata air panas.

Kalau urusan kuliner, jangan lupa cicipi daging domba Islandia dan kjötsúpa alias sup daging ala Islandia.

Ada rencana untuk mudik ke Indonesia tahun ini. Tapi karena masih adanya pembatasan perjalanan dan penyebaran virus, rasanya keinginan itu terpaksa ditunda dulu.

þetta reddast atau 'segala sesuatu akan baik baik saja pada akhirnya' menjadi pedoman hidup penduduk Islandia. Dengan demikian, mereka terlihat tenang saat menghadapi masalah.

Sebagai pendatang, pedoman hidup tersebut ikut saya junjung.

Pantang menyerah dan jangan mengeluh rasanya menjadi pesan yang pas dari saya untuk warga Indonesia yang mungkin berencana hijrah ke Islandia di masa depan. *

*Muhammad Aufaristama, CNN Indonesia

Komentar

Loading...