Pura-pura Pemimpin

Pura-pura Pemimpin
Ilustrasi politisi uang. | www.radioidola.com.

Kekuasaan menjadi paling menggelikan jika Anda meganggapnya terlalu serius. | Robert Greene dalam  The 48 Laws of Power.

KEJUJURAN itu tidak dapat ditetapkan atas dasar dusta; amanah tidak dapat ditetapkan atas dasar khianat; keadilan tidak dapat ditetapkan atas dasar kezaliman. Kejujuran, amanah, dan keadilan itu absolut, sesuatu yang tak bisa ditawar. Tetapi, manusia (baca: pemimpin) sering mengesampingkan ketiga hal itu setelah kekuasaan dalam genggam tangan.

Ya, kekuasaan itu selalu menggoda dan memperdaya dengan caranya sendiri. Kekuasaan itu suatu labirin—benak kita menjadi terobsesi memecahkan beragam masalah tak terbatas, termasuk “kartel” dunia usaha. Setelah itu, segeralah sadar bahwa sesungguhnya kita tersesat. Seperti kata Robert Greene dalam  The 48 Laws of Power; kekuasaan menjadi paling menggelikan jika Anda meganggapnya terlalu serius.

Hidup ini, memang, sering seperti labirin, kawan! Seperti lorong-lorong yang terbentuk dari adanya tembok atau pagar, yang tingginya melebihi tinggi seseorang. Apalagi hidup berpolitik dengan segala kebohongannya, tak jarang membatasi kita melihat persoalan lebih jernih. Kita sering ingin menjadi “nabi”, tapi nabi palsu. Ingin “menyapu” bersih, tapi  sapunya kotor. Dan berteriak kebenaran, tapi kita bukan orang yang benar-benar, benar!

Ini karena pemimpin kita terbiasa dalam keangkuhan dan kepalsuan hingga lupa seperti apa rasa keadilan itu. Pemimpin-pemimpin kita suka meniru “raja”; diktator, rakus, antikritik, monarkis, dan ingin bertahta sepanjang usia.

Kita bisa mengerti karena hakikat manusia adalah serakah ketika kesempatan ada, lalu menyusup, meniduri ruang-ruang kehidupan dan kekuasaan. Tetapi itu tidak mewakili “kita” dalam arti merata. Karena hakikat kebaikan tetap ada sekalipun ia bramacorah.

Tapi, kenapa kebaikan sering menjauh dari kekuasaan? Nisbi, memang. Karena, kekuasaan itu bikin ngiler dan secara laten mengajarkan orang lupa, lalu culas dan loba. Inikah wajah pemimpin era milenial warisan usang; menebar uang, menang, lalu ngutil uang lagi? Ah, di era penuh kepura-puraan ini, mungkin dia bukan pemimpin kita sesungguhnya. Tapi, cuma pura-pura pemimpin!

Komentar

Loading...