Pusaka Berdarah di Kampung Vietnam

Pusaka Berdarah di Kampung Vietnam
Bekas Kamp Pengungsi dan Markas Brimob. | Foto KBA.ONE: Ghandi

Perang Vietnam, sekitar tahun 1975, memaksa ratusan warga Vietnam melarikan diri dari negaranya untuk mencari tempat yang aman. Tanjung Pinang, Pulau Natuna, dan beberapa pulau lain di Kepulauan Riau menjadi tempat persembunyian dan tujuan akhir mereka.

"Batam tidak punya banyak tempat wisata Bang. Ada tempat yang menarik tapi harus menyeberang pulau dulu," cerita Dedek, dengan mimik serius. Dedek adalah teman yang memandu KBA.ONE berkeliling Pulau Batam, 29 April 2018.

Sempat berpikir bahwa pulau yang dimaksud adalah Pulau Bintan, atau bahkan negara tetangga, Singapura. Jika ya, untuk mencapai kedua tempat itu pastinya harus menyeberangi lautan, menggunakan kapal feri.

Pagi itu, seperti biasa langit Batam tampak cerah. Mencoba meninggalkan hiruk pikuk kota, melewati jalanan Batam yang nyaris tanpa lubang. Pepohonan yang tumbuh di sisi kiri dan kanan tanpa satu bangunan pun berdiri di pinggir jalan, semakin menambah asri kawasan itu. Dedek bilang di Batam tidak bisa sembarangan mendirikan bangunan, harus ada jarak beberapa meter dari badan jalan jika ingin mendirikan bangunan.

Sepeda motor yang dikendarai Dedek terus melaju tapi serasa tak kunjung sampai di Pelabuhan. Hanya saja, dari kejauhan, kelihatan jelas konstruksi jembatan megah yang namanya sudah kesohor itu. Ya, Jembatan Barelang.

Dengan kapal ini warga Vietnam mendarat di Kepulauan Riau. | Foto KBA.ONE: Ghandi.

"Lewat Jembatan itu, kita udah beda pulau bang," kata Dedek sambil menunjuk ke arah Jembatan Barelang. Ternyata tak perlu menyeberang menggunakan kapal feri karena Barelang menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya. Dan karena itu pula namanya disebut Barelang, akronim dari nama tiga pulau. Yaitu, Batam, Rempang, dan Galang.

Ada 6 Jembatan barelang dengan nama yang berbeda. Jembatan 1, dengan arsitektur paling megah di antara 5 jembatan lainnya diberi nama Tengku Fisabilillah. Jembatan 2 bernama Nara Singa, Jembatan 3 bernama Raja Ali Haji, Jembatan 4 disebut Jembatan Sultan Zainal Abidin, Jembatan 5 bernama Tuanku Tambusai, dan yang terakhir Jembatan 6 diberi nama Raja Kecik.

Sekitar 30 Km jarak antara Jembatan 1 menuju tempat yang akan dituju. Kampung Vietnam, begitulah warga setempat menyebutnya. Jika dilihat dari peta, lokasinya tidak jauh dari jembatan 5, belok kiri, persis di persimpangan pertama. Terletak di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Tidak ada kendaraan umum menuju Pulau Galang.

Jika hendak ke sana, pilihannya hanya menggunakan kendaraan pribadi ataupun ojek dari Kota Batam. 300 meter dari simpang jalan tadi, KBA.ONE melihat beberapa orang sedang bertransaksi berburu tiket masuk. "5000 per orang Bang," kata penjaga loket berkemeja putih. Usai membayar, pegunjung dipersilahkan menjelajahi Kampung Vietnam tanpa pemandu.

Hanya ada rambu dan petunjuk arah. Tapi, jika diikuti dengan benar maka akan mengantarkan pengunjung ke semua bangunan bersejarah yang ada di tempat itu.

Bangunan pertama kali ditemui pengunjung di Kampung Vietnam adalah sebuah Vihara yang terdapat patung Dewi Kwan Im di atasnya. Vihara ini bukanlah bangunan tua yang didirikan oleh warga Vietnam ataupun pemerintahan pada masa itu. Vihara ini dibangun sekitar tahun 2000 an. Tidak jauh dari vihara tampak sebuah bangunan putih dengan atap yang sudah reot bertuliskan Ex. PMI Hospital. Adalah salah satu fasilitas yang dibangun pemerintah Indonesia pada masa itu untuk membantu para pengungsi Vietnam.

Adapula patung kemanusiaan dan juga pemakaman dari masyarakat Vietnam. Di tempat yang sedikit lebih tinggi, Patung Bunda Maria berdiri kokoh bertuliskan aksara Vietnam yang tidak tau pasti apa artinya. Beruntung, ada tulisan berbahasa Inggris menjelaskan tempat itu dulunya adalah Gereja Katholik para pengungsi Vietnam.

Di Kampung Vietnam ada juga berdiri Gereja Protestan, sebuah bangunan dengan pondasi batu dan konstruksi tiang dari kayu. Bentuknya cukup unik dan dikelilingi pepohonan. Di depannya berdiri Gereja Salib kayu berukuran dua meter. Kondisinya sudah usang. Tak jauh dari situ, sekitar 500 meter berikutnya, tampak dua perahu kayu berwarna biru, hitam dan bergaris merah. Yang satunya kecil, seperti sekoci. Sisi kiri dan kanannya terlihat sudah rusak. Sedangkan perahu yang besar masih utuh dan bagus. 

Vihara di Kampung Vietnam. | Foto KBA.ONE: Ghandi

Seperti bangunan dan monumen lainnya, tidak ada keterangan lengkap yang tertera di antara perahu kayu itu. Tapi bisa diduga, barangkali, dengan perahu-perahu sejenis inilah warga Vietnam menjelajah samudera dan mengungsi hingga sampai ke tempat ini. Tidak jauh dari lokasi perahu terdapat bangunan kayu dan papan bekas tempat pengungsian warga Vietnam. Pada masa itu juga digunakan sebagai markas Brimob.

Tepat di depannya terdapat museum yang menyimpan segala dokumen tentang perkampungan Vietnam, mulai dari foto-foto masyarakat Vietnam, hingga beberapa barang yang mereka bawa dari Vietnam. Perkampungan ini cukup sepi dengan suasana alam yang masih asri dan terawat. Tak ada lagi warga Vietnam tersisa di sini, ada yang meninggal, depresi, dan kembali ke kampung halaman mereka.

Beruntung hari itu hari minggu, ramai wisatawan yang berkunjung ke Kampung Vietnam. Ketika mendengar kata Perkampungan Vietnam, mungkin yang ada di benak kita ada pemukiman yang dibangun oleh Masyarakat Vietnam dengan sumberdaya yang ada pada masa itu. Rupanya, kenyataannya berbeda. Para pengungsi tidak membangun perkampungan ini sendiri. Tapi, pada masa itu, mereka dibantu oleh PBB dan Pemerintah Indonesia.

Perang Vietnam, sekitar tahun 1975, memaksa ratusan warga Vietnam melarikan diri dari negaranya untuk mencari tempat yang aman. Mereka meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara demi menyelamatkan diri dari kejamnya peperangan. Tanjung Pinang, Pulau Natuna, dan beberapa pulau lain di Kepulauan Riau menjadi tempat persembunyian dan tujuan akhir mereka.

Sedangkan Pulau Galang yang tak berpenghuni, menjadi pilihan PBB mengamanatkan Indonesia untuk membangun lokasi pengungsian warga Vietnam, di areal seluas 80 hektare.

Cerita ini sejalan dengan penuturan seorang Ibu Tua di Gereja Katolik terbesar di Perkampungan Vietnam, Ia menyebut dirinya Mamak. Gereja berdinding papan ini mungkin salah satu saksi bisu sejarah pada masa itu. "Gereja ini sudah ada sejak 1983, sedangkan Kampung Vietnam didirikan pada 1979," jelas Mamak.

Bagaimana asal mula warga Vietnam bisa terdampar di Pulau Galang? Mamak menjelaskan berdasarkan buku yang ia baca, orang-orang Vietnam tidak pernah terdampar di Pulau Galang, melainkan di Pulau lainnya di sekitar Kepulauan Riau. "Mereka ini dikumpulkan dari berbagai pulau di Kepri, dari Pinang, Pulau Mata, Natuna dan lainnya. Setelah itu baru mereka ditampung di pengungsian yang di bangun oleh PBB dan pemerintah Indonesia ini," kenang mamak.

“Pengungsi dari Pinang, dua kali rombongan, semuanya beragama Katolik. Karena itulah Gereja dibangun untuk membantu mereka," Sambung Mamak lagi.
Tak berapa lama, Mamak yang mengenakan baju bergambar gereja tua itu bangkit dari tempat duduknya. Ia mengajak KBA.ONE melihat replika Kampung Vietnam.

Mamak menunjukkan dan menceritakan sejarah satu persatu tempat yang telah disinggahi sebelumnya. Termasuk Vihara yang pertama dijumpai, juga vihara yang ada di samping gereja. Menurut mamak, rumah ibadah itu baru dibangun pada 2002. "Kata mereka, vihara dibangun untuk menemani Gereja Katholik. Kan dari dulu bangunan tua ini sendiri di sini," tutup Mamak sambil melempar senyum.

Siang itu, langit di atas Kampung Vietnam sudah semakin gelap, meski waktu masih menunjukkan pukul 12.00 Wib. Tampaknya hujan akan segera turun. Tempat-tempat penting dan bersejarah sudah dikunjungi semua, hampir tak ada yang tersisa.

Kini, sudah waktunya bergegas pulang, meninggalkan Kampung Vietnam. Sebuah kampung kepedihan yang lahir dari cerita panjang perang Vietnam; perang Indocina Kedua. Ini bagian dari perang dingin antara dua kubu ideologi besar: Komunis dan SEATO.

Jumlah korban meninggal diperkirakan lebih 280 ribu jiwa dari pihak Vietnam Selatan dan sekitar 1 juta jiwa di pihak Vietnam Utara. Inilah tragedi perang yang paling menakutkan. Dan jejak kekejaman perang itu mereka tinggalkan di sini; untuk kita lihat, lalu kita tulis di antara pusaka sejarah yang penuh noda darah. ***

Komentar

Loading...