Ramadhan, Membangun Jamaah Tanpa Wabah

Ramadhan, Membangun Jamaah Tanpa Wabah
Sharfina. | Foto: ist

"Pencegahan virus corona tentunya dimulai kesadaran dari diri sendiri, menjaga orang yang dicintai, serta menjaga kebersihan lingkungan bersama. Dengan seperti itu, maka masyarakat dapat membangun jamaah tanpa membiarkan penyebaran wabah semakin meluas".

Bulan suci Ramadhan bagi umat Islam merupakan bulan paling istimewa di antara bulan-bulan lain. Di bulan ini umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama sebulan, serta terbukanya pintu ampunan kepada semua hamba yang beriman kepada Allah Swt.

Keistimewaan lainnya, menjalankan ibadah shalat sunnah tarawih. Ibadah yang hanya dapat dilaksanakan oleh umat Islam ketika bulan Ramdhan tiba. Lalu, terdapat juga malam seribu bulan, malam yang paling indah, paling mulia di antara malam-malam lainnya, yaitu malam Lailatul Qadr.

Namun, berbeda dengan Ramadhan sebelumnnya, tahun ini umat Islam di seluruh dunia terpaksa menjalankan ibadah dengan cara yang berbeda, musabab kemunculan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Saat ini Covid-19 sudah menjadi Pandemic karena sebarannya yang sangat cepat dan semakin meluas ke penjuru dunia.

Karena itu, berbagai langkah diupayakan Pemerintah Indonesia, imbauan serta aturan dipilah pilah demi kemaslahatan masyarakat. Beriringan dengan itu, muncul aturan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19 yaitu penerapan Social Distancing (menjaga jarak), sehingga membatasi ruang gerak di masyarakat untuk beraktivitas seperti biasa.

Tidak bisa dipungkiri, meski di satu sisi membatasi ruang gerak masyarakat. Aturan itu juga sangat berguna bagi masyarakat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Karena sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat menyembuhkan virus mematikan itu, selain berdiam diri di rumah dan menjaga jarak.

Social Distancing diterapkan untuk meminimalisir kegiatan sosial seperti di warung kopi, mall, pasar, dan tempat kerumunan lainnya yang berpotensi terjadi penyebaran Covid-19.

Penerapan itu tentu sangat berpengaruh terhadap kegiatan beribadah umat Islam selama bulan Ramadhan. Seperti, kegiatan berjamaah shalat tarawih, tadarus, dan juga berbuka puasa bersama yang sudah menjadi agenda rutin bertemu kangen kerabat yang sudah lama tidak berjumpa. Dan ngabuburit pun harus dilakukan dengan cara yang berbeda.

Sebagai manusia biasa, kepanikan pada pandemi Covid-19 sudah sewajarnya kita rasakan. Kendati demikian, pencegahan juga tentu dapat dilakukan tanpa harus meninggalkan beberapa kebiasaan yang endemik di bulan suci Ramadhan.

Terlebih, bulan Ramadhan merupakan bulan diturunkannya Al-Qur’an dimana kitab suci tersebut merupakan petunjuk (hudan) bagi umat manusia.

Sebagaimana tafsir Al-Qur’an Al-Azhim surah Al-Baqarah ayat 185 yang menyatakan bahwa, Al-Quran diturunkan oleh Allah Swt sebagai petunjuk bagi umat manusia yang mengimaninya; dalil yang jelas dan tegas bagi mereka yang memahaminya, yang terlepas dari kebatilan dan kesesatan; juga merupakan pembeda antara yang haq dan batil, halal dan haram.

Dalam ayat tersebut, Allah menyatakan bahwa Al-Quran selalu dapat menjadi pedoman hidup sekalipun di tengah pandemi virus corona yang melanda dunia saat ini.

Lantas, bagaimana mencegah menyebarnya Covid-19 di bulan suci Ramadhan? Umat muslim Insya Allah akan terhindar dari kebatilan wabah tersebut dengan melakukan ibadah sesuai anjuran Al-Quran.

Melakukan ibadah di bulan suci Ramadhan seperti melakukan tadarus yang rutin tentunya juga dapat menghindari penyebaran virus corona.

Bagaimana tidak, sebelum melakukan ibadah tersebut, seorang muslim diwajibkan suci dari hadas besar maupun kecil. Berwudhu merupakan hal mutlak yang wajib dilakukan sebelum membaca Al-Quran bagi umat muslim yang bermazhab Asy Syafi’i.

Sementara itu, berkenaan dengan wudhu, beberapa waktu lalu sejumlah penemuan luar biasa dari para ahli tentang keistimewaan berwudhu dimana mencuci tangan secara rutin dapat melindungi tubuh dari penyebaran virus melalui sistem pernapasan.

Tentu, Istinsyaq dan Istintsar (menghirup air kedalam hidung dan melepasnya) adalah hal yang wajib dilakukan umat muslim saat berwudhu. Dengan Berinstinsyaq dan Istintsar kita akan memiliki sistem pernapasan yang lebih sehat dan lebih terjaga dari serangan virus maupun bakteri.

Pada penelitian lainnya juga menemukan bakteri dan jamur pada hidung pasien yang jarang atau bahkan tidak suka berwudhu. Dari penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa berwudhu tentunya juga dapat memberikan pencegahan terhadap penyebaran bakteri dan virus bahkan virus corona sekalipun.

Selain itu, pantauan penulis sendiri masyarakat sejauh ini tetap melakukan ibadah shalat tarawih berjamaah seperti biasanya. Hal ini tentu menjadi masalah di kehidupan masyarakat bukanlah ketika ibadah. Melainkan interaksi setelah ibadah dimana kebiasaan masyarakat bercengkerama satu dengan yang lainnya rentan memiliki risiko untuk penyebaran virus corona.

Di sisi lain, saat beribadah di dalam Islam diwajibkan dalam keadaan suci serta di tempat yang suci pula. Oleh sebab itu, Islam telah menjamin keselamatan masyarakat jika mengikuti aturan sesuai anjuran agama.

Kebiasaan lain di bulan Ramadhan yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat adalah buka puasa bersama (bukber) dan ngabuburit atau menghabiskan waktu sebelum sampai waktu berbuka. Hadirnya Covid-19 menjadi kendala bagi sebagian masyarakat. Namun, ada sisi baik di balik pandemi Covid-19, masyarakat dapat menghabiskan waktu bersama keluarga dan berbuka puasa di rumah bersama keluarga.

Dengan melakukan aktivitas di rumah, tentunya hubungan keluarga akan lebih baik. Masyarakat juga bisa sekaligus melakukan kegiatan ngabuburit bersama keluarga tanpa harus keluar rumah.

Pencegahan virus corona tentunya dimulai kesadaran dari diri sendiri, menjaga orang yang dicintai, serta menjaga kebersihan lingkungan bersama. Dengan seperti itu, maka masyarakat dapat membangun jamaah tanpa membiarkan penyebaran wabah semakin meluas.

Sharfina (Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh dib bimbingan Harri Santoso S.Psi, M.Ed)

Komentar

Loading...