Rapai Uroh dan Kidung Hidup Hasbalah

Rapai Uroh dan Kidung Hidup Hasbalah
Sony, putra Hasballah, penerus perajin Rapai Uroh. | Foto: Try Vanny.

KBA.ONE, Aceh Utara - Hasbalah, 60 tahun, tampak tekun merapikan bentuk bulat kayu Meurbo dan Tualang dengan mesin bubut miliknya. Kayu-kayu itu untuk dijadikan kerangka alat musik tradisional Rapai Uroh. Ditemani Sony, putranya, Hasbalah bergeming dari panas terik matahari yang menembus atap rumbia pondoknya lewat lubang-lubang kecil bekas lapuk.

Hasbalah sudah menekuni pekerjaan ini sejak 28 tahun lalu. Saban hari, di gubuk ini, ia melepas ide-ide liarnya untuk menemukan seni dalam membuat alat musik Rapai Uroh. Hasbalah kelihatan begitu menikmati dan tak pernah bosan memilih jalan hidup barunya itu.

Padahal, lelaki berkulit sawo matang, ini tidak lahir dengan keahlian sebagai perajin alat musik rapai. Ia sudah lama lelah melakoni pekerjaan sebagai sopir truk lintas Sumatera, menjelajahi setiap kota dan provinsi, hingga akhirnya memutuskan untuk beralih profesi. “Biar bisa selalu dekat dengan sanak keluarga,” alasan Hasbalah kepada KBA.ONE, Kamis 24 Mei 2018. 

Rapai Uroh buatan keluarga Hasballah. | Foto: Try Vanny



Hasbalah memulai hidup sebagai perajin Rapai Uroh sejak 1990. Ia merintis dan mengawali usaha ini dengan membangun sebuah pondok di samping rumahnya untuk dijadikan pabrik mini pembuatan alat musik rapai. Tak ada guru khusus yang mengajarinya, semua dilakukan Hasbalah secara otodidak.

Modal Hasbalah saat itu cuma keberanian, alias nekat. Tapi, sedikit demi sedikit, jalan Hasbalah mulai terbuka lapang. Ia pun kian terampil mendesain, bahkan mengolah bahan kayu dan kulit kambing menjadi alat musik Rapai Uroh yang mendunia itu.

"Awalnya cuma sering lihat dan bertanya sama teman-teman," ucap Hasbalah polos sembari mengiris batang bambu pelapis kulit kambing kering untuk bahan Rapai Uroh.

Hasbalah menceritakan permintaan rapai hingga kini tergolong sangat tinggi. Order datang dari berbagai daerah mulai dari Aceh, Kalimantan, bahkan sampai ke Qatar. Apabila stok kayu mencukupi dalam kurun waktu satu bulan, ia dan anaknya mampu membuat rapai sebanyak 10 set.

“Kadang kesulitan mendapatkan bahan kayunya. Inilah kendala utama sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tepat waktu,” keluh warga asli gampong Blang Weu, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, ini.

Untuk memenuhi bahan kebutuhan kayu rapai, tak jarang bapak enam anak ini mencari hingga ke Meulaboh, Aceh Barat. “Kalau kayu Meurbo masih bisa kita cari di sini. Tapi jenis kayu Tualang agak susah mencarinya,” cerita Hasballah.

Menurut dia, Kayu Tualang memiliki berat lebih ringan dibandingkan Meurbo. Inilah yang membuat konsumen lebih suka memesan alat musik Rapai Uroh dengan bahan baku kayu Tualang.

Bagaimana pemasarannya? Sony, 34 tahun, putra Hasbalah, optimis soal pemasaran tidak menjadi kendala. Pesanan alat musik Rapai Uroh terus saja berdatangan walau di bulan suci Ramadan.

Harga yang ditawarkan juga tergolong murah, yaitu untuk satu set Rapai Ubit terdiri dari 12 rapai berukuran 10 centimeter dibanderol dengan harga Rp4,5 juta, sedangkan rapai ukuran 20 centimeter dijual dengan harga Rp1,2 juta.

"Meski agak menurun, pemesanan di bulan puasa ini tetap ada. Ini sedang saya selesaikan pesanan dari Banda Aceh, sisa waktunya kira-kira empat hari lagi," kata Sony. 

Dua kelompok pecinta seni rapai saling adu kekompakan suara gemuruh rapai saat pertunjukkan Rapai Uroh di Desa Kandang, Muara Dua, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Minggu (9/10) dinihari. | ANTARA FOTO/Rahmad

Sependapat dengan Hasbalah, Sony juga menyampaikan soal kendala dalam memberi label hasil karya keluarganya itu. "Kalau dikasih nama atau tanda karya, agen biasanya tidak mau. Sebab, ketika menjual, agen juga bilang ini punya mereka. Tapi, jika pembelinya dari kalangan individu atau kelompok, baru bisa kita bikin nama," jelas Sony.

Rapai dan Rebbana

Alat musik rapai sangat berbeda dengan rebbana, mulai dari bentuk dan suaranya yang kecil berbanding jauh dengan rapai yang mempunyai suara lebih besar dan nyaring. Rapai juga banyak jenisnya mulai dari Rapai Pasee, Rapai Uroh dan Rapai Sanggar.

Rapai Pasee terkenal dengan lapisan kulit lembu dan ukurannya yang lebih besar, mulai dari 20-25 centimeter. Sedangkan Rapai Uroh hanya berukuran 14-20 centimeter dan menggunakan lapisan kulit kambing. Rapai Sanggar merupakan Rapai campuran, dominan digunakan oleh remaja yang mengikuti sanggar tari.

"Kalau anak-anak remaja biasanya Rapai Sanggar, sedangkan kelompok orang tua Rapai Uroh dan Rapai Pasee," jelas Hasbalah.

Rapai adalah alat musik perkusi tradisional Aceh. Ia termasuk dalam keluarga frame drum, dimainkan dengan cara dipukul dengan tangan tanpa menggunakan stick. Di Aceh, Rapai sering digunakan pada upacara-upacara adat seperti upacara sunatan, perkawinan, pasar malam, mengiringi tarian, hari-hari besar, ulang tahun dan sebagainya.

Secara filosofis dan alam, rapai merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Aceh. Apalagi dalam sebuah pesta, alat musik ini berperan mengatur ritme, tempo, memberi kemeriahan dan menghidupkan suasana.

Tapi sayangnya, kemeriahan sebuah pesta yang didukung alat-alat musik rapai, barangkali salah satunya Rapai Uroh karya Hasbalah dari Lhokseumawe, tak selalu mengirimkan kidung indah dalam kehidupan nyata Hasbalah yang masih pedih dan memprihatinkan.

Komentar

Loading...